Menyikapi waktu dengan benar akan menjadikan kita sebagai seorang pemenang dalam kehidupan kita. “Time is money”. Ungkapan ini tentunya sudah tidak asing bagi kita. Ada yang berpikir bahwa orang yang mengungkapkan ini adalah tipe orang yang ‘mata duitan’. Namun jika kita pikirkan ulang, ungkapan ini dapat menggambarkan tentang seberapa berharganya waktu.
Faktanya, banyak manusia masih boros dalam mempergunakan waktu, sedangkan tentunya jika berhubungan dengan uang, kita akan cenderung lebih berhati-hati. Masalahnya, waktu yang diboroskan itu tidak dapat didapatkan kembali, tidak peduli seberapa keras kita bekerja. Jika dahulu umur manusia bisa mencapai ratusan tahun, dan di Alkitab Daud mengatakan bahwa mencapai umur 70-80 tahun adalah kebahagiaan, maka kita akan tahu bahwa umur manusia akan cenderung lebih pendek.
Bagaimana menyikapi waktu kita akan menentukan keberhasilan dan kemaksimalan dalam hidup kita. Ungkapan ‘carpe diem‘ yang berarti ‘seize the day‘ diungkapkan salah satunya pada Lukas 9:62 (MSG), “Jesus said, “No procrastination. No backward looks. You can’t put God’s kingdom off till tomorrow. Seize the day.”” Ini adalah ajakan yang sangat jelas bahwa kita tidak boleh sedikitpun menyia-nyiakan waktu kita.
Orang Yunani memiliki banyak terminologi tentang waktu. Merujuk kepadanya, kita dapat memiliki mentalitas-mentalitas yang akan membuat kita menjadi maksimal.
- ‘Chronos‘ yang artinya adalah satuan-satuan waktu yang terputus, misalnya satu hari, satu bulan, satu tahun. Mentalitas yang dapat kita miliki adalah mentalitas pemenang (sense of winning). Dalam 2 Timotius 4:5, Rasul Paulus berkata bahwa ia melatih tubuhnya sedemikian rupa sehingga ia siap. Mental seorang pemenang selalu dilihat dari bagaimana caranya berlatih, bukan waktu bertanding. Pertandingan sendiri hanya sedikit dari proses menuju kemenangan. Latihan adalah yang menentukan pertandingan.
Seseorang yang lupa melatih dirinya pasti tidak akan menang dalam pertandingan-pertandingan hidupnya. Melatih diri berbicara tentang disiplin, baik jasmani maupun rohani. Seluruh aspek ini tidak akan terluput dari materi disiplin yang harus diterapkan. - ‘Kairos‘ artinya adalah momentum. Dalam Alkitab, kata ini juga sering dipakai untuk menggambarkan bahwa Tuhan sedang bekerja / pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini, seseorang harus memiliki mentalitas produktif (sense of productivity). Pada waktu Tuhan bekerja, Ia akan menantikan buah.
Kita sering diibaratkan sebagai ranting dari pokok anggur. Untuk dapat berbuah lebat, ranting-ranting tersebut harus dibersihkan (dipotong). Tapi pada akhirnya buahlah yang dinantikan. Tanpa buah, maka akan ada ‘hukuman’ yang menanti, yaitu dibuang dari koloni kebun anggur tersebut. - ‘Aion / Aeon‘, yang berarti keseluruhan waktu dalam kekekalan. Dalam hal ini, kita harus punya sense of divinity atau mentalitas terhadap kekekalan. Ini akan menolong kita dalam memilah apa yang baik dan buruk, mana yang harus dikerjakan atau tidak, mana yang dipilih, harus berfokus ke mana, dan sebagainya.
Hal ini dapat dipraktekkan dengan cara merujukkan setiap pekerjaan kita kepada kekekalan. Jadi, hal yang berguna tentunya adalah hal yang memiliki efek kepada kekekalan. Hal ini akan membantu kita memiliki motivasi yang benar juga dalam melakukan sesuatu. Contohnya, dalam bekerja kita akan lebih mudah tidak terfokus untuk mengejar materi (harta, kekayaan) tetapi mampu untuk melihat bahwa pekerjaan adalah sarana memuliakan Tuhan dan melalui hasil / upahnya kita dapat menggunakan untuk memperlebar kerajaanNya.
“Segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia, bagi Dialah segala kemuliaan” (Roma 11:36), “Melakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan” (Kolose 3:23). Ini adalah konsep bahwa waktu tidak boleh disia-siakan sama sekali. Segala hal dalam hidup kita harus dapat dipertanggungjawabkan kepadaNya.
(Gambar dari berbagai sumber)









