Sadar atau tidak sadar, tiap orang membutuhkan rasa aman. Itu adalah salah satu kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan manusia. Jika ia tidak memilikinya, maka secara sadar atau tidak sadar, ia akan berjuang untuk menemukannya. Rasa aman terbukti telah menjadi salah satu hal yang membuat kehidupan manusia menjadi stabil (tidak goyah). Riset membuktikan bahwa tanpa memiliki rasa aman, pertumbuhan manusia (termasuk mental, intelektual dan kesehatan) dapat terganggu. Rasa aman tidak hanya mempengaruhi mental manusia, tetapi seluruh aspek kehidupannya.
Riset juga telah menemukan bahwa suasana rumah adalah faktor utama pembentukan rasa aman tersebut. Tidak hanya terhadap anak-anak, rumah sangat penting untuk menjaga stabilitas kehidupan baik pria sebagai kepala rumah tangga maupun wanita sebagai penolongnya yang sepadan. Anak-anak yang memiliki keluarga yang kuat terbukti lebih mampu menghadapi pelecehan (bully) dibanding yang tidak. Tanpa rasa aman, manusia cenderung akan bereaksi (bertindak) salah terhadap suatu kondisi yang terjadi.
Jika kita renungkan, rasa aman sangat berkaitan erat dengan rasa bergantung atau rasa percaya manusia terhadap sesuatu. Hanya ada satu tempat yang akan membuat rasa aman itu kuat, yaitu saat ia menggantungkannya kepada kebenaran. Mengapa demikian? Jika ditelusuri, kata ‘aman’ memiliki relasi kata yang sangat kuat dengan kata ‘amin’ (Artikelnya). Tidak seperti sekarang (seseorang juga mengatakan kata amin terhadap sesuatu yang ia harapkan padahal belum tentu terjadi), dalam sejarahnya kata amin diucapkan saat seseorang dengan yakin mengetahui bahwa suatu hal pasti akan terjadi sesuai dengan apa yang ia (atau orang lain) katakan. Dengan kata lain, amin juga berarti benar (truly, verily). Saat seseorang mengatakan kata amin, maka ada kebenaran yang terkandung di dalamnya. Itulah mengapa kita mengatakan ‘amin‘ terhadap setiap perbuatan Allah.
Jika demikian, mengapa kita sebagai orang Kristen seringkali juga sulit merasa aman? Yohanes 8:32 berkata, “…dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Kita tidak bisa merasa aman (merdeka) jika kita tidak mengetahui kebenaran. Yohanes 14:6 berkata bahwa Yesuslah jalan kebenaran itu. Artinya kita sebenarnya tidak mengenal siapa Yesus. Jika kita mengenal Yesus, kita pasti tinggal di dalam Dia (Yohanes 15). Yohanes 8:31 juga berkata bahwa kebenaran itu akan diketahui jika kita tinggal di dalam firmanNya.
Jadi secara mudah, alur pemikiran ini dapat disederhanakan sebagai berikut. Kita merasa aman jika kita melakukan firmanNya. Yohanes 15:12 berkata bahwa perintahNya adalah supaya kita saling mengasihi. Jadi, kita susah merasa aman karena kita tidak mengasihi. Masalah akan terjadi waktu kebutuhan manusia untuk bergantung tidak terpenuhi. Ada yang lari kepada alkohol, narkoba, atau yang lain. Namun sebagian besar manusia menjadi cenderung mengandalkan dirinya sendiri, ini sesuai dengan nubuatan mengenai akhir zaman di 2 Timotius 3:1-2 yang berkata bahwa manusia akan makin mengasihi dirinya sendiri. Padahal justru waktu ia mencoba membangun rasa aman dalam dirinya sendiri, ia akan makin rentan terhadap goncangan.
Mengasihi (sebagai perintah Yesus) sangat bertolak belakang dengan mengasihi diri sendiri. Mengasihi selalu identik dengan pengorbanan untuk pihak lain dan itu memiliki syarat bahwa kita tidak dapat mengasihi diri sendiri. Saat kita mengasihi diri sendiri, maka kita akan mengutamakan diri sendiri dan berfokus pada diri kita sendiri. Pada waktu itu, maka kita akan makin jauh terhadap rasa aman yang sejati.
Perasaan membutuhkan rumah sebagai rasa aman pernah dituangkan Daud dalam Mazmur 69:9 yang berkata, “sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku.” Kata Rumah yang dipakai dalam bahasa aslinya berarti suasana kekeluargaan dan hadirat Allah dalam hidupnya. Mazmur tersebut diciptakan saat ia dikejar dan ingin dibunuh oleh Absalom yang merupakan anaknya sendiri. Daud merasa dikucilkan (alienated) dari rumahnya sendiri. Tetapi ia mengetahui bahwa rumahnya, yaitu rasa amannya yang sesungguhnya adalah di hadirat Tuhan.
Rasa aman yang sejati hanya dapat ditemukan di dalam Tuhan. Saat kita membangun rasa aman kita pada hal yang lain (harta benda, kekayaan, ketenaran, kepandaian, dan sebagainya) maka kita akan makin jauh dari rasa aman tersebut. Rasa aman juga sangat berkaitan dengan rasa puas (bahasa Inggris: ‘content’). Kepuasan kita bukan dipenuhi oleh hal yang bersifat sementara, tetapi hanya oleh Tuhan. Daud begitu berkenan kepada Tuhan karena ia tahu bagaimana menempatkan rasa aman dan rasa puasnya, yaitu hanya di dalam Tuhan.
Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! … Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!
~ Yeremia 17:5 & 7
(Gambar dari berbagai sumber)








