Simplicity: Kembali Kepada Jalan Yang Benar

Kembali menjadi sesuatu yang simple, sederhana. Ini adalah keputusan yang aku ambil setelah lama berpikir dan melihat kembali jalan hidupku selama beberapa waktu terakhir. Dan keputusan itu kudapatkan waktu mengikuti acara puncak kegiatan reuni D-Astor, yaitu acara mengenang 10 tahun pelayanan Asisten Tutorial Etika di Universitas Kristen Petra.

Di sana tampil orang-orang yang pernah menjadi pemimpin. Dan tiba-tiba, saat melihat mereka, aku menyadari. Ada begitu banyak orang di dunia ini. Jika aku ingin mengatakan bahwa aku ingin menjadi yang terhebat, kurasa sangat susah. Untuk menjadi yang terhebat di bidangku pun sangat susah, karena bahkan di lingkup terkecil yang kita bisa buat, selalu ada langit di atas langit.
Jika ingin menjadi seorang programmer yang super hebat, ada Bill Gates, Steve Jobs dan lain sebagainya di sana. Jika ingin menjadi penulis, sudah ada ribuan penulis hebat. Bahkan jika lingkup itu dikecilkan sampai tingkat kampus tercintaku. Orang-orang yang berdiri di depan itu adalah orang-orang yang hebat. Dimana satu hal yang aku sadari dalam diri mereka, ada satu kesamaan yang mereka semua lakukan. Menjalani panggilan hidup mereka.
Ada satu momen dimana kami mengapresiasi pelayanan 10 tahun yang dilakukan oleh saudara, mentor, bapak kami, bapak Abdiel Daud Yonathan. Dan aku teringat apa yang dikatakannya waktu kami berbincang santai beberapa hari sebelumnya. “Kalau aku sampai sekarang bisa ada di sini, itu semua karena Tuhan yang tempatkan aku di sini”. Dan, aku rasa itulah jawaban dari semua pertanyaanku selama ini tentang masa depanku.
Dahulu aku selalu diajar untuk menjadi yang terhebat, terpintar, terkaya, terbaik, terunggul, dan ter yang lain. Tapi kini aku menyadari, bahwa tidak penting untuk menjadi yang terbaik, karena yang terpenting justru apakah kita bisa menjalani panggilan kita tersebut. Dan kembali kepada jalan yang benar berbicara tentang menjadi sederhana, mulai dari pemikiran kita. Bahwa hidup kita hanyalah alat yang Tuhan pakai.
Tulisan ini ditulis sekitar 2 minggu setelah tanggal yang tertera, karena aku ingin mengetahui bagaimana kehidupanku setelah keputusan ini kuambil. Dan ternyata aku menyadari bahwa kehidupanku menjadi jauh lebih ringan. Serasa beban berat yang selama menghantuiku, setiap tuntutan untuk berhasil di masa depan yang selama ini kubawa di pundakku serasa hilang lenyap.

Dan inilah kehidupan yang kucari dan mungkin banyak orang cari. Kehidupan yang disebut berbahagia. Kebanyakan orang ingin berbahagia sesuai definisinya masing-masing. Ada yang menyebut jika ia kaya, maka ia berbahagia. Maka ia berusaha dengan sekuat tenaga bahkan dengan segala cara untuk menjadi kaya. Tiap orang akan berubah menjadi dan menuju seperti apa yang ia pikirkan. Dan inilah konsepku tentang hidup.

Bahwa tiap orang adalah alat Tuhan dan ia disebut berhasil dan bermakna, kalau ia berhasil menjadi seperti apa yang Tuhan inginkan dalam hidupnya. Artinya, ia akan sukses saat ia menjalani panggilan yang Tuhan taruh dalam kehidupanku. Itulah kehidupan dalam karunia Tuhan. Keputusan ini memberikan beberapa implikasi dalam kehidupanku melalui keputusan-keputusan penting dan cukup besar yang aku buat. Silakan baca blogku setelah ini.


(Gambar dari worstedwitch.com dan presentationzen.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *