Sebagai manusia yang hidup di dalam dimensi ruang, manusia tidak pernah bisa menguasai waktu. Dalam salah satu pemikiran liar, saya pernah menganggap bahwa waktu adalah dimensi ruang yang paralel. Atau jika kita menggunakan rumus matematika, maka integrasi posisi dengan pendekatan rumus integral akan menghasilkan jarak. Integrasi jarak akan menghasilkan ruang. Dan integrasi ruang-ruang akan menghasilkan waktu. Apapun itu, baik benar atau salah, satu hal yang pasti, kita tidak bisa menguasai waktu. Yang kita bisa lakukan adalah melakukan berbagai hal untuk menyikapi waktu.
Sampai sekarang belum ada seorangpun (yang bisa membuktikan) dirinya menguasai waktu, meskipun time travel (perjalanan melintasi waktu) adalah salah satu impian terbesar manusia. Banyak penelitian yang dilakukan untuk mewujudkannya. Namun belum ada satupun hasilnya meskipun sudah tidak terhitung berapa banyak uang yang dihabiskan.
Bagi perspektif orang yang percaya pada Tuhan, maka kita melihat waktu adalah sebuah anugerah, yang hanya diberikan sekali dan tidak akan dapat berulang. Oleh karena itu, bagaimana kita bertindak menyikapi waktu akan membuat perjalanan hidup kita menemukan arti sebenarnya dan mencapai titik kemaksimalannya. 1 Petrus 4:2-3 berkata,
“Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah…”
Adalah pandangan umum untuk membagi waktu menjadi tiga, yaitu masa lalu, sekarang dan masa depan. Kesalahan dalam menyikapi ketiga hal ini akan berakibat fatal bagi kehidupan kita. Ingat, waktu tidak dapat berulang seperti jika kita bermain sebuah permainan. Mari kita lihat beberapa kesalahan yang sering dilakukan dalam menyikapi waktu.
- Orang yang tenggelam dalam kegagalan masa lalu akan hidup dalam kepahitan dan susah untuk move on. Begitu juga orang yang hidup dalam kesuksesan masa lalu, yang biasa dikenal dengan istilah ‘post power syndrome‘. Tentunya yang terjadi, tidak akan ada pertumbuhan yang signifikan dalam kehidupannya.
- Orang yang mencoba untuk hidup di masa depan akan cenderung dikuasai oleh kekuatiran. Mereka boleh merencanakan sesuatu tetapi itu semua akan hilang karena takut gagal. Ketakutan yang terlalu menguasai juga akan membuat kehidupannya menjadi sia-sia karena tidak ada pertumbuhan yang terjadi.
- Orang yang suka menunda-nunda dengan alasan ‘ah masih lama’ atau sebagainya, tentunya gagal memanfaatkan satu-satunya waktu dimana ia bisa maksimalkan.
Kita tidak bisa melakukan apapun dengan masa lalu kita. Juga meskipun bisa berencana, kita tidak bisa mengontrol masa depan kita. Satu-satunya yang kita bisa lakukan adalah memaksimalkan masa sekarang. Dan sebenarnya hanya sedikit manusia yang benar-benar mampu melakukannya. Pada titik ini akan muncul banyak perbedaan cara pandang. Ijinkan saya untuk memaparkan standar saya tentang hidup yang maksimal.
Bagi saya hidup yang maksimal berarti sehat dalam semua aspek kehidupan kita. Misalnya, keuangan (yang banyak orang kejar), kesehatan, pergaulan / pertemanan, intelektual / pendidikan, keluarga, moral dan spiritual, melayani dan memberi. Luput satu saja sebenarnya kita sudah tidak seimbang dan sedang membawa hidup kita dalam jurang kehancuran.
Begitu pentingnya kita memaksimalkan masa sekarang akan membuat masa lalu dan masa depan seperti sebuah hal yang tidak signifikan. Sebagai contoh, keputusan kita untuk memaafkan akan menghapus setiap rasa pahit dan sakit dalam batin kita meskipun mungkin kita masih mengingat peristiwa yang pernah terjadi. Begitu juga sebenarnya keputusan kita untuk tidak menunda-nunda proses pelatihan dalam hidup sebenarnya sedang membangun pondasi kuat bagi kesuksesan kita.
Oleh karena itu, ada 3 hal yang bisa kita lakukan sehingga kita akan mampu untuk bukan hanya menyikapi tapi juga ‘menguasai’ waktu kita,
- Nikmati momen saat ini yang boleh dialami. Saat sedang mengalami momen indah, kita tidak perlu menyembunyikan perasaan dengan alasan bersimpati bagi orang lain. Begitu juga saat sedang mengalami momen yang kurang menyenangkan, kita harus mampu menikmatinya dengan sikap hati yang benar, yaitu penuh pengharapan (Ibrani 6:19), bersukacita (Filipi 4:4) dan percaya bahwa semua pasti ada akhirnya. Tentunya menjadi penuh pengharapan dan bersukacita bukanlah kondisi dimana kita mengalami itu, tetapi keputusan kita untuk menjadi seperti itu meskipun kondisi tidak mendukung.
- Tidak menunda setiap proses yang baik bagi pertumbuhan kita. Masalah adalah makanan bagi otot rohani dan mental kita untuk menjadi lebih kuat. Tanpa masalah maka sebenarnya jiwa dan roh kita hanya akan menjadi kerdil. Tentunya menghindari masalah adalah blunder yang sangat besar yang menuntun pada tragedi kehidupan.
- Menemukan rencana yang tepat dan segera mengambil langkah untuk merealisasikannya. Dalam menentukan rencana, satu mentalitas yang perlu dimiliki adalah bahwa tidak ada rencana yang sempurna. Kita perlu mampu untuk berimprovisasi, karena kita tidak bisa memprediksi apa yang terjadi di masa depan. Mengambil langkah akan membuat progress bagi kehidupan kita. Tentunya yang paling tahu apa yang terbaik bagi hidup kita adalah Tuhan, sehingga terus berproses dalam pembentukan Tuhan bukan hanya masalah ketaaatan (yang seringkali menakutkan), tetapi bahwa kita sedang menjalani rute terbaik menuju kesuksesan kita.







