Standar selalu adalah hal yang penting di dalam hidup. Di bidang pendidikan, standar diperlukan dalam menentukan apakah seseorang layak naik dalam satu kelas. Demikian pula dalam hidup sehari-hari, standar selalu menjadi elemen yang tidak terpisahkan. Dalam membeli barang misalnya, orang rela mengeluarkan uang lebih banyak demi mendapatkan barang yang sesuai dengan standarnya. Standar hidup seseorang mempengaruhi apa yang dia inginkan bahkan butuhkan.
Seiring dengan modernitas, manusia secara tidak sadar digiring dalam suatu ‘permainan’ baru yang membuatnya terbius untuk terus melakukannya. Seperti yang dikatakan dalam 2 Timotius 3:2, manusia modern memiliki standar yang berbeda dengan apa yang Yesus ajarkan. Begitu banyak contoh bagaimana manusia sibuk untuk menterjemahkan kata ‘mencintai diri sendiri’ ini dalam segala bentuk yang sebenarnya mungkin tidak salah untuk dilakukan. Menjadi kaya misalnya. Tentu saja hal ini bukan hal yang salah, tetapi bagaimana ia mempergunakan kekayaannya tersebut akan menjadi standar dari kehidupannya.
Tanpa perlu menghakimi, banyak orang secara tidak sadar hanya berhenti sampai pada titik ‘menjadi kaya’ dan lupa mengapa ia perlu menjadi kaya. Tanpa malu, kita semua meminta berkat kepada Tuhan. Dengan berlandaskan pada Matius 20:22, “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya”, kita berdoa meminta apa yang kita inginkan. tetapi kita lupa bahwa kepercayaan itu selalu satu paket dengan ketaatan. Contohnya adalah pada waktu kebakaran, kepercayaan kita pada pemadam kebakaran dibuktikan pada waktu kita melakukan perintah mereka.
Yesus memiliki suatu standar yang sangat berbeda dari yang sering kali kita jumpai saat ini, termasuk dalam kehidupan orang-orang Kristen. Lukas 6:38 berkata,
“Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Kita selalu fokus pada hal ‘diberi’, ‘menerima’, ‘mengumpulkan’, ‘mendapat’, dan sebagainya. Sebagai contoh, ada orang-orang yang sebenarnya ‘mampu’ tetapi rela antre berjam-jam dan berebut pada waktu pembagian sembako, begitu juga kata ‘diskon’ selalu menjadi hal yang menarik bagi hampir semua orang. Padahal Yesus selalu menekankan pada hal memberi. Mengasihi selalu dibuktikan dengan memberi. Allah yang adalah kasih identik dengan memberi. Yohanes 3:16 memiliki arti bahwa makin besar kasih, makin besar juga pemberiannya.
Lukas 6:38 juga berkata bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur akan diukurkan kepada kita. Artinya, pada waktu kita punya ukuran dalam kehidupan bahwa hidup ini adalah tentang menerima, maka ukuran tersebut akan dipakai kepada kita. Orang-orang yang berhubungan dengan kita juga akan memperlakukan kita demikian.
Kita tentu lebih menyukai orang yang murah hati daripada orang yang kikir bukan? Pada waktu kita berjumpa dengan orang yang sangat murah hati, secara tidak sadar kita juga akan memperlakukan ia demikian. Kita tidak akan hitung-hitungan dengannya. Sebagai contoh, misalnya kita memiliki pelanggan yang sering membayar secara lebih, maka suatu saat pada waktu ia meminta pelayanan lebih, kita pasti akan dengan senang hati memberikannya. Itulah arti dari Matius 5:7, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.”
Pada waktu kita fokus pada ‘menerima’, dan lupa pada ‘memberi’, maka apapun itu akan menjadi tidak ada gunanya. Sebagai contoh, jika seseorang makan makanan terus menerus dan lupa untuk ‘membuang’ makanan tersebut dari tubuhnya, tentu ia akan sakit. Begitu juga pada waktu seseorang hanya menerima firman Tuhan dan menjadi puas dengannya, ia akan sakit secara rohani, karena firman itu akan membusuk dalam hidupnya.
Memberi adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan, termasuk kerohanian kita. Lupa memberi berarti tidak bijak dalam menjaga pertumbuhan rohani. Itulah mengapa memberi (dalam bentuk apapun) adalah suatu bagian dari disiplin rohani yang perlu terus dijaga.
Jika kita pelajari dalam Perjanjian Baru, seringkali kata ‘hukuman’, baik itu yang dikaitkan dengan kata ‘ratap dan kertak gigi’, ‘api yang menyala-nyala’, ‘kegelapan’, dan sebagainya, selalu berhubungan dengan kelalaian dalam memperlakukan apa yang Tuhan sudah beri dalam kehidupan kita, baik itu talenta, potensi, karunia-karunia, kerinduan hati, dan sebagainya.
Namun sebenarnya jika kita masih takut dihukum, berarti kasih kita belum sempurna (1 Yohanes 4:18). Fokus kita bukanlah taat karena takut dihukum, tetapi taat karena kita mau mencerminkan kasih Tuhan. Dengan itu kita akan membangun standar yang baru, yang lebih tinggi dan secara tidak sadar membawa kerohanian kita pada standar atau level yang lebih tinggi, yaitu level ‘mempelai’ seperti yang Tuhan rindukan.








