*) Dipublikasikan pada Progress News SMCC Edisi Februari 2015
Alkitab kita dibedakan menjadi dua bab besar, yaitu Perjanjian Lama dan Baru. Keduanya sama-sama mengatur hubungan dan menjadi pengikat janji antara dua belah pihak, yaitu Allah dan manusia. Namun, perbedaan dari kedua janji ini adalah bahwa yang lama sering kali berbicara tentang fisik, maka yang baru berbicara tentang roh.
Pada Perjanjian Lama, Allah memerintahkan manusia untuk beranakcucu (secara fisik), perjanjianNya dengan Abraham pun berupa perjanjian secara fisik (melalui Ishak). Hukum-hukumNya pun mengatur kenyataan hidup manusia secara fisik. Namun pada Perjanjian Baru, sepertinya fokus Allah berubah. Ibrani 8:10 menunjukkan bahwa Allah sendiri yang akan secara langsung berurusan dengan hati setiap anakNya, dan dengan itu manusia tidak lagi diperintah dari peraturan-peraturan secara tertulis, tetapi melalui hati (nurani).
Itulah mengapa, Rasul Paulus juga sibuk mengurusi manusia rohnya. Pada beberapa kesempatan, tulisannya membuktikan bahwa ia seperti tidak mempedulikan jika tubuhnya sakit, kelaparan, kedinginan demi pemberitaan Injil. Tetapi demi hal yang sama, ia seperti memberi perhatian yang khusus terhadap rohnya. 1 Korintus 9:27 berkata,
“Seperti seorang atlet saya menggembleng tubuh saya, melatihnya melakukan hal-hal yang harus dilakukan dan bukan hal-hal yang dikehendakinya…” (FAYH)
Jelas sekali bahwa Rasul Paulus ingin supaya tubuhnya dapat dikuasai oleh roh. Ia melatih supaya tubuhnya mampu untuk melakukan hal-hal yang memang harus dilakukan seperti yang diperintahkan oleh hati nuraninya, bukan apa yang diingini semata. Galatia 5:16 berkata,
“Saya menasihatkan supaya Saudara hanya mengikuti petunjuk-petunjuk Roh Kudus. Ia akan menyatakan ke mana Saudara harus pergi dan apa yang harus Saudara lakukan…” (FAYH)
Jika sukses bagi kita masih berupa seberapa kaya, seberapa pandai, seberapa rupawan, seberapa terkenal, dan sebagainya, maka kita sebenarnya masih hidup di bawah hukum yang sudah usang dan dekat dengan kemusnahan (Ibrani 8:13). Maka sekarang, menghidupi manusia roh jauh lebih penting daripada manusia jasmaniah kita.
Sama seperti tubuh kita, manusia roh memiliki batasan-batasan. Misalnya, tubuh kita harus bernapas, makan, minum, tidur dalam pola tertentu untuk dapat beraktifitas secara normal. Namun bedanya, batasan-batasan roh kita tercipta karena keinginan tubuh kita yang terlalu kuat (Galatia 5:17).
Mengatasi batasan-batasan roh berarti mulai untuk mengalihkan perhatian pada hal-hal duniawi dan mengarahkan pada standar-standar Illahi. Galatia 5:22-23 seharusnya menjadi standar bagi diri kita mulai sekarang.
“Sebaliknya, kalau orang-orang dipimpin oleh Roh Allah, hasilnya ialah: Mereka saling mengasihi, mereka gembira, mereka mempunyai ketenangan hati, mereka sabar dan berbudi, mereka baik terhadap orang lain, mereka setia, mereka rendah hati, dan selalu sanggup menguasai diri.” (BIS)
Kuasa akan turun dalam hidup kita jika Roh Kudus turun dan berkarya dalam hidup kita. Kita harus melatih tubuh kita sehingga Ia memiliki akses seluas-luasnya untuk berkarya melalui kita.
“The Holy Spirit doesn’t need to equip you for what you’re not going to do, so if you’re in rebellion against Jesus and refusing His right to be Lord, He doesn’t need to send the Holy Spirit to equip you for service. And, tragically, you miss out on the joy that He brings. So let the Holy Spirit deal with anything that’s keeping you from obeying Christ.”
― Henry T. Blackaby









