
Setiap orang memiliki definisinya sendiri-sendiri tentang kesuksesan. Hal ini tidak lepas dari tolok ukurnya masing-masing. Apapun itu, tiap orang pasti ingin sukses. Tidak ada yang salah dalam mengejar kesuksesan, karena sebenarnya hakekat kehidupan adalah kesuksesan. Namun kesuksesan akan menjadi salah jika caranya salah atau tujuannya salah. Oleh karena itu penting sekali bagi kita untuk merenungkan tentang dua hal ini.
Mari ambil sebuah contoh, yaitu menjadi kaya. Tidak ada orang yang tidak ingin menjadi kaya. Namun pertanyaannya adalah kaya dalam hal apa? Seringkali yang terlintas dalam pikiran kita kekayaan berarti materi. Padahal banyak kekayaan lain yang seharusnya kita juga usahakan. Kaya ilmu, kaya moral, kaya maaf, kaya kesehatan, dan lainnya.
Kemudian tujuannya apa? Jika kita ingin kaya karena ingin agar hidup kita nyaman, terhindar dari masalah, dan sebagainya maka ini juga akan menjadi salah. Justru kekayaan kita seharusnya digunakan untuk membuat nyaman kehidupan orang lain. Seperti yang dikatakan oleh Bunda Theresa, “Work without love is slavery“. Tanpa kasih, maka sebenarnya hakekat pekerjaan kita hanyalah sebuah perbudakan, oleh keinginan diri kita sendiri. Begitu pula dengan prosesnya. Meskipun tujuannya benar, tetapi jika caranya salah maka tetap saja itu adalah sesuatu yang salah. Tidak akan pernah ada sesuatu yang berkualitas yang didapatkan dengan cara yang instan.
Oleh karena itu, minimal ada 2 hal faktor pencipta kesuksesan. Pertama adalah integritas. Saya sudah beberapa kali membahasnya dalam blog saya. Kedua yang tidak kalah penting adalah konsistensi, yang juga sudah pernah saya bahas sebelumnya. Konsistensi bukan berarti terus menerus berhasil melakukan sesuatu. Tapi terus menerus bangkit pada saat kita gagal. Masa depan dibentuk dari kemenangan-kemenangan atas kegagalan yang terjadi. Apa yang terjadi sekarang tidak bisa menjadi tolok ukur atas apa yang akan terjadi kemudian. Jika kita gagal bukan berarti masa depan kita hancur. Tetapi hal itu akan terjadi waktu kita berdiam atas kegagalan kita.
Dengan sebuah momentum, maka lompatan besar akan terjadi. Masalahnya, waktu ia datang sudah siapkah kita? Saat kita muda, konsistensi terbukti sebagai suatu momok yang susah untuk dirangkul. Konsistensi akan menghasilkan karakter. Karena karakter adalah hasil dari kebiasaan yang muncul dalam waktu yang lama. Dan sebenarnya karakter kitalah yang membentuk masa depan kita, bukan materi yang kita miliki.
Itulah mengapa kita harus berpikir dan memikirkannya kembali. Kesuksesan seperti apa yang kita inginkan. Jika kesuksesan yang berkelanjutan, maka kita harus membentuknya mulai sekarang. Bunda Theresa juga berkata, ” The more you have, the more you are occupied, the less you give. But the less you have the more free you are. Poverty for us is freedom.” Bukan berarti kita tidak boleh memiliki harta benda. Namun tiap manusia sebenarnya memiliki kapasitas kesiapan untuk memiliki sesuatu. Jika kita tidak siap, ada dua kemungkinan yang terjadi, antara kita tidak menghargainya atau kita justru terikat dengannya. Mana yang kita pilih?
(Gambar dari wordpress.com)






