Biasanya pada akhir tahun kita akan membuat resolusi untuk dilakukan pada tahun yang baru. Resolusi ini dipikirkan masak-masak, diceritakan kepada banyak orangdan bahkan didesain, diprint dan dimasukkan dalam pigura. Kita begitu bersemangat untuk mencapainya dan menjadikannya sebagai tujuan untuk ‘hidup lebih hidup’.
Namun tidak jarang pula, di akhir tahun kita menyadari bahwa resolusi kita sebelumnya banyak yang tidak tercapai. Kadang kita mengevaluasinya. Namun tidak sedikit pula yang kemudian menjadikannya menjadi resolusi untuk dilakukan kembali di tahun yang akan datang. Kejadian ini berulang terus menerus dari tahun ke tahun.
Apa yang salah? Menurut Kamus Bahasa Inggris, resolusi adalah sebuah pernyataan akan sebuah keputusan yang disertai dengan kesungguhan untuk melakukan sebuah tujuan (dibahasakan secara pribadi). Namun jika dipikir ulang, maka resolusi juga dapat diartikan sebagai re-solution, yang berarti itu adalah solusi ulang dari sebuah solusi.
Artinya kita sudah tahu bahwa kita memiliki sebuah masalah, tetapi kita tidak berhasil menjalankan solusi yang ada, sehingga akhirnya kita membuat solusi ulang dan berharap solusi tersebut akan berhasil. Maka, tidak heran banyak orang hanya membuat re-solusi dan tidak menghasilkan resolusi yang berjalan progresif. Artinya, hidupnya sebenarnya tetap berada pada titik yang sama dari tahun ke tahun. Oleh karena itu, ada beberapa poin yang dapat kita renungkan sehingga resolusi kita dapat menjadi pemicu bagi hidup yang lebih baik.
- Buat resolusi yang selaras dengan visi besar kehidupan kita. Bisa jadi kegagalan menjalankan resolusi diakibatkan karena hal tersebut tidak sesuai dengan tujuan hidup kita. Misalnya pada waktu kita ingin mengarahkan hidup kita pada titik A, dan ternyata resolusi tersebut sebenarnya malah membuat kita berjalan menuju titik B. Kita tidak bisa meraih atau menjadi segala hal dalam hidup. Itulah mengapa tujuan hidup menjadi sangat penting. Dan biasanya kita akan ‘tergiur’ untuk melakukan resolusi yang menyimpang karena ia terlihat menarik untuk dilakukan, misalnya karena jika kita mampu melakukannya, kita dapat terlihat hebat.
- Buat resolusi dengan bobot yang sesuai. Rick Warren, penulis buku Purpose Driven Life berkata bahwa banyak orang membuat banyak kesalahan dalam mengukur tujuan. Biasanya mereka akan membuat sebuah pernyataan visi yang ‘terlalu ringan untuk jangka panjang dan terlalu berat untuk jangka pendek’. ‘Membangun perusahaan multinasional dengan aset milyaran dolar’ dengan jangka waktu pencapaian satu tahun tentu adalah sebuah hal yang hampir mustahil dilakukan. Begitu juga waktu kita mengatakan bahwa tujuan hidup saya adalah untuk menikah dan punya anak. Padahal mungkin hal tersebut sudah dapat tercapai di usia tiga puluhan.
- Buat resolusi yang SMART (Specific, Measurable, Achievable, Reasonable, Time Bound). Terminologi ini sebenarnya sering dipakai di dunia manajemen dalam menentukan visi perusahaan. Panduan ini akan membuat visi kita jadi jelas dan dapat tercapai.
- Buat resolusi yang berhubungan dengan potensi pribadi kita. Jika kita adalah orang yang menyukai bidang menggambar, maka buat resolusi yang membuat kita makin tajam, ahli dan berdampak di bidang tersebut. Hal ini karena tujuan hidup kita tidak mungkin berada jauh dari potensi yang ada dalam diri kita. Jika masih tidak mengetahui potensi apa yang ada dalam diri kita, maka kita perlu membuat resolusi untuk menggali segala kemungkinan potensi yang mungkin ada dan melakukan proses trial-and-error.
Karena kita ini makhluk roh yang terbalut dalam tubuh jasmani, maka sebenarnya resolusi dalam bidang rohani lebih penting daripada hal-hal yang berbau jasmani. Tapi sebenarnya apa yang ada di roh kita pasti akan mempengaruhi jasmani kita. Contohnya, para dokter mengakui bahwa penyebab utama penyakit adalah stress yang berlebihan. Maka tiga hal di bawah ini perlu kita pikirkan juga untuk dimasukkan dalam resolusi-resolusi kita.
- Buah Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan, penguasaan diri. Bayangkan jika atribut-atribut tersebut berkembang dan menjadi kuat dalam hidup kita. Tanpa perlu mengejar kehormatan, kita pasti dihormati dan disukai banyak orang. Kita perlu mulai mengejar apa yang utama karena jika itu didapatkan, atributnya pasti akan mengejar kita (Mat 6:33).
- Disiplin rohani. Disiplin rohani seperti komitmen untuk meditasi firman, berdoa dan menyembah Dia, memberi, puasa dan hal-hal lainnya akan membentuk profil manusia roh yang kuat. Disiplin rohani adalah seperti gymnasium bagi kehidupan roh kita yang akan membentuk otot-otot rohani kita. Roh yang kuat akan menghasilkan kualitas hidup yang sempurna.
- Berfokus pada jiwa-jiwa. Tidak ada hal yang lebih disukai Tuhan daripada waktu hidup kita bersentuhan dengan jiwa-jiwa. Surga bersukacita waktu ada satu orang diselamatkan. Begitu pula Yesus begitu fokus dalam proses pemuridan selama hidupNya di bumi. Berurusan dengan jiwa akan memberikan hidup yang sehat bagi kita.






