Mat 7:21 “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”
Begitu banyak orang yang takut saat mengetahui tentang ayat ini. Berita baiknya bagi anda jika anda termasuk yang demikian, Kerajaan Sorga tidak semata-mata berbicara tentang surga dan neraka. Tidak ada hubungan antara keselamatan dengan masuk dalam Kerajaan Sorga. Silakan baca link-link tersebut mengenai keterangan lebih lanjut karena artikel ini tidak akan membahas hal tersebut.
Setelah membaca dua artikel tersebut saya berasumsi bahwa kita telah memiliki pemahaman yang sama dan dapat berangkat untuk membahas sesuatu yang lebih dalam, yaitu tentang gaya hidup kerajaan Allah. Saat kita selidiki seluruh isi Alkitab, kita akan menemukan satu kesamaan, yang bahkan Yesus sendiri akui sebagai fokus dari pemberitaan Allah, yaitu Kasih. Kasih adalah hal sederhana untuk dimengerti tapi susah untuk dilakukan. Namun hal-hal berikut mungkin dapat menginspirasi kita semua dalam melakukan dan menghidupinya.
- Mencoba untuk melihat Kristus dalam semua orang yang kita temui. Hal ini akan membuat kita lebih mudah untuk mengasihi setiap orang. Yesus berkata bahwa waktu kita berbuat kasih kepada orang-orang yang tersingkirkan, saat itulah kita melakukan sesuatu demi Dia (Matius 25:31-40). Terlepas dari setiap kekurangan yang mereka miliki, tiap orang pastilah memiliki benih Kristus, karena mereka diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Dengan mengubah cara berpikir kita bahwa dalam setiap orang ada benih Kristus, maka kita akan lebih mudah untuk mengasihi mereka.
“To love someone who’s lovely is easy. To love the unlovely is Godly.” ~ RickWarren
- Mengasihi berarti berkorban. Allah sendiri telah berkorban buat kita. Tunggu dulu! Kita pasti berpikir tentang pengorbanan Yesus saja (Yohanes 3:16). Tidak salah memang, tapi sifat pengorbanan tidak hanya ditunjukkkan oleh Yesus, tapi Allah sendiri. Buktinya, pada waktu memberikan 10 Perintah Allah kepada Musa, Ia berkata untuk tidak membuat patung apapun yang menggambarkan citraNya. Hal ini bertujuan supaya citraNya tidak terbatasi dan manusia tidak membayangkan sesuatu yang salah tentang diriNya. Ia ingin dikenal sebagai dirinya, buktinya Ia berkata “Aku adalah Aku” (Keluaran 3:14). Namun, karena Ia begitu mengasihi kita, Ia rela untuk membatasi diriNya dan segala kemahakuasaanNya dan masuk dalam kehidupan manusia. Beberapa bukti misalnya waktu Ia masuk dan ‘bersemayam’ di bait Allah dan juga sebenarnya ia masuk dalam hati kita.
- Yohanes 15:13 berkata bahwa tidak ada kasih yang lebih besar dari orang yang mengorbankan nyawanya untuk sahabatnya. Yesus telah membuktikan hal tersebut. Namun apakah konteksnya kita harus mati untuk menunjukkan kasih kita? Tidak! Bukankah waktu kita punya kesempatan untuk hidup enak (punya harta yang melimpah, jaminan masa depan yang cerah, dll) tapi kemudian kita tinggalkan itu karena kasih Kristus dan pergi untuk menemui dan bekerja bagi jiwa-jiwa, itu juga berarti mengorbankan ‘nyawa’ kita. Karena pada waktu itu terjadi, kita seperti ‘kehilangan (kesempatan) hidup’ seperti yang seharusnya kita inginkan dan bisa kita dapatkan.
- Pada Yohanes 21:15, Yesus jelas sekali berkata bahwa jika kita mengasihiNya, yang dapat kita lakukan adalah menggembalakan domba-dombaNya. Ia sangat mengasihi jiwa-jiwa dan Ia titipkan yang paling Ia kasihi kepada kita. Dalam bahasa aslinya, menggembalakan menggunakan kata ‘bosko‘ yang berarti untuk memberi makan dan mengembangkan dalam segala aspek kerohanian. Hal ini diterjemahkan dan dikuatkan oleh prinsip Paulus di Kolose 1:28 dan 1 Tesalonika 2:11. Caranya adalah dengan menasehati tiap-tiap orang seperti Bapa. Kita punya panggilan untuk menjadi mentor bagi semua orang, khususnya yang ada di sekeliling kita. 2 dari 3 dosa generasi adalah waktu kita tidak melayani generasi kita dan tidak mewariskan nilai-nilai kepada generasi di bawah kita. Kedua hal tersebut dapat dipenuhi waktu kita menjadi seorang mentor bagi orang lain.
- Untuk menjadi seorang mentor tidak terlalu susah. Yohanes 5:19, 1 Yoh 1:1-3 menjelaskan bahwa waktu menjadi mentor yang kita lakukan adalah tentang menjadi teladan. Yesus mampu melakukan seluruh pekerjaan yang spektakuler di muka bumi karena Ia melihat teladan BapaNya, dan Ia juga memberi teladan bagi seluruh muridNya.
Mengasihi berarti menjadi mentor bagi orang lain. Hidup yang berfokus pada mengasihi (love driven life) berarti hidup untuk terus menerus memuridkan orang lain. Konsep Iman, Pengharapan dan Kasih (dikatakan kasih adalah yang terbesar adalah kasih) diukur dari sudut pandang ketaatan untuk berfungsi sebagai bagian dalam Tubuh Kristus. Dan yang paling mampu untuk memenuhi fungsi tersebut adalah waktu kita mengasihi orang lain. Fungsi ketiganya dapat dilihat di 1 Tesalonika 1:3. Dalam bahasa aslinya dijelaskan bahwa Iman membuat kita melakukan suatu tindakan aktif untuk bekerja bagi orang lain, kasih membuat kita mampu menanggung segala penderitaan dan pengharapan membuat kita sabar menunggu hasilnya. Kasih membuat kita mampu menderita bagi orang lain. Itulah yang Yesus sudah lakukan buat hidup kita.












Puji Tuhan! Mantap sekali. Sama dengan yang saya yakini dan ajarkan kepada jemaat yang saya layani! Terus maju dan mengajari apa yang esensi dalam Kerajaan Sorga.
siap laksanakan Pak. to God be the glory!