*) Dipublikasikan pada Progress News SMCC Edisi November 2012
Jika kita renungkan, hal apa yang paling baik yang dapat seorang manusia (khususnya pria) lakukan selama hidupnya? Maka tidak ada jawaban yang lebih tepat dari mewariskan sesuatu. Mengapa? Amsal 13:22 berkata, “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar.” Saat Allah menentukan pilihan, kerinduanNya adalah agar pewarisan dapat terjadi. Di Kejadian 1:26 (Allah menciptakan manusia), Kejadian 9:1 (keluarnya Nuh dari bahtera), Kejadian 17:6 (pilihan kepada Abraham), Allah selalu memberkati mereka dengan berkat sampai anak cucu.
Mengapa Allah sangat serius dengan penerusan generasi ini? Karena bagiNya manusia bukan sekedar ciptaan, tapi keturunanNya sendiri. Buktinya jika kita baca di Kejadian 1, satu-satunya ciptaan yang tidak dinilai oleh Allah adalah manusia. Jika kita baru saja mempunyai anak, tidak mungkin kita periksa satu persatu kelengkapan tubuh anak kita dan memberikan penilaian. Kalaupun ada kecacatan kita akan kita tetap akan anggap itu baik. Bahkan kehadiran manusialah yang membuat segalanya menjadi sungguh amat baik (Kejadian 1:31).
RancanganNya atas kita adalah untuk mewariskan bumi ini. Namun tidak sembarang orang berhak atas pewarisan. Tidak jaran ada fit and proper test seperti yang kita lihat di film, misalnya ‘The Ultimate Gift’. Dalam bukunya ‘Bukan Yesus Yang Saya Kenal’, Phillip Yancey mengulas bahwa empat perumpamaan terakhir Yesus sebelum disalib adalah tentang seorang tuan yang hendak pergi jauh, seolah menggambarkan bahwa sebentar lagi Ia akan pergi dan mengembalikan kepercayaan atas bumi pada manusia (muridNya).
Jadi mengapa dalam hidupnya manusia harus memperhatikan apa yang dilakukan? Agar layak untuk menerima warisan itu. Amsal 13 diawali dengan kata-kata, “Anak yang bijak mendemgarkan didikan ayahnya”, dan itulah mengapa Allah rindu agar hati ayah dan anak dapat kembali berpaut (Maleakhi 4:6). Amsal 13 sendiri menjelaskan bagaimana suapa memiliki kehidupan yang bijak dan baik.
Tidak peduli apa yang kita lakukan di muka bumi ini, kita akan selalu mewariskan sesuatu, sesuai pilihan hidup yang kita jalani. Keadaan kita sekarang juga merupakan warisan dari nenek moyang kita. Tapi yang dimaksudkan dengan warisan di sini dalam bahasa aslinya berarti sesuatu yang layak untuk diberikan dan dibagikan, sesuatu yang baik. Seperti yang Allah wariskan, yaitu bumi, Ia menggambarkan dengan kata ‘tob’, yang berarti excellent, pleasant, valueable in estimation, prosperous, kind, moral good.
Warisan kita bersifat kekal, akan terus ada meskipun kita sudah tidak ada. Kehidupan yang berorientasi kekekalan selalu berbicara tentang kehidupan yang meninggalkan warisan untuk anak cucu kita, baik secara jasmani maupun rohani. Sudah selayaknya mulai sekarang kita memikirkan tentang pewarisan. Saat kita memiliki hidup yang berfokus tentang pewarisan, secara otomatis kita akan memiliki kehidupan yang baik dan benar.
(Gambar dari berbagai sumber)







