Mat 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Hukum yang terutama diakui Yesus adalah hukum mengasihi. Saya lebih suka menggunakan kata mengasihi karena itu membuatnya terlihat sebagai kata kerja (yang berarti melakukan tindakan secara aktif) dibanding kata ‘hukum kasih’ yang mungkin bisa diartikan sebagai ‘hukum tentang kasih’. Kasih adalah pekerjaan sederhana yang tidak perlu didefinisikan lebih lanjut. Dalam dirinya, tiap orang punya potensi (tidak perlu diajarkan) untuk mengasihi, sama seperti potensi untuk membenci.
Meskipun terlalu banyak orang yang lebih mudah membenci dibandingkan mengasihi, tetapi dalam diri mereka, pasti bertanya-tanya dan ingin untuk mampu mengasihi. Yang Tuhan ajarkan adalah bahwa tidak cukup mengasihiNya, tetapi juga sesama manusia. Karena cerminan dari orang yang mengasihi Tuhan adalah ia akan mengasihi sesamanya manusia.
Pengajaran Yesus tentang mengasihi sesama manusia menciptakan sebuah pandangan baru untuk menempatkan kepentingan orang lain sejajar (sama penting) dengan kepentingan diri sendiri. Itulah juga yang diajarkan oleh Paulus dalam Filipi 2:3 tentang memimpin dengan melayani.
Namun, tidak banyak orang mengerti secara jelas tentang siapakah sesamanya manusia. Hal ini dibuktikan oleh pertanyaan seorang ahli Taurat tentang siapakah sesamanya manusia (Lukas 10:29). Dan Yesus memberikan perumpamaan tentang ‘Orang Samaria Yang Baik Hati’. Di akhir perumpamaan tersebut Yesus bertanya, “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Semua sepakat bahwa yang sudah menjadi sesama manusia dari orang yang dirampok tersebut adalah orang Samaria tersebut. Mengapa demikian?
Dalam versi bahasa Inggris, kata yang digunakan adalah ‘neighbour‘, yang kira-kira jika diartikan adalah ‘tetangga’. Ternyata tidak seluas yang kita duga. Selama ini banyak orang berpikir tentang pergi ke tempat yang jauh untuk mengentaskan kemiskinan, memberantas buta huruf, membersihkan sebuah daerah dari penyakit, atau yang lainnya. Dan mereka berpikir bahwa mereka telah mengasihi sesamanya manusia. Hal ini tidak salah. Namun, jika kembali kepada Alkitab, maka Yesus tidak mengajarkan untuk berbuat terlalu jauh untuk mengasihi. Dalam versi aslinya digunakan kata ‘Plesion’ yang berarti,
a neighbour; a friend; any other person, and where two are concerned, the other (thy fellow man, thy neighbour), according to the Jews, any member of the Hebrew nation and commonwealth; according to Christ, any other man irrespective of nation or religion with whom we live or whom we chance to meet
Artinya jelas bahwa yang disebut sesama manusia adalah orang-orang yang kita temui (tidak peduli apa suku bangsa, agama, ras, dsb). Jadi sebenarnya sesama kita manusia adalah orang-orang yang terdekat dengan kita (saja), yaitu orang-orang yang kita kenal, yaitu, orang tua, saudara, teman-teman, rekan kerja kita. Sekali lagi, tidak perlu jauh-jauh untuk mencari sesama manusia. Matius 5:43-44 berkata, “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Namun pertanyaannya, siapakah yang paling sering dan mungkin untuk menyakiti dan menganiaya kita? Bukankah itu orang tua, saudara, teman kita, dibanding dengan seorang anak dari sebuah suku di pedalaman Afrika?
Bukan berarti kita tidak boleh berbuat baik dan menolong orang lain yang tidak kita kenal, namun yang ingin saya katakan adalah kita punya tugas yang lebih besar dalam mengasihi orang yang kita kenal. Meskipun orang Samaria yang baik hati tersebut tidak kenal orang yang dirampok tersebut, tetapi ia bertemu dengan orang tersebut. Jadi, dengan siapa kita punya kesempatan bertemu, itu adalah tanda bahwa dialah sesama manusia dari kita.
Komunitas adalah sebuah perkumpulan yang terbentuk atas dasar kesamaan tujuan, minat sehingga masing-masing anggota memutuskan untuk bertemu. Di dalam komunitas adalah tempat yang paling cocok untuk mempraktekkan ‘mengasihi sesama manusia’. Tidak ada tempat yang lebih ideal dibandingkan dalam komunitas untuk melakukan hal ini. Berkomunitas bukanlah sebuah program atau acara saja, namun komunitas adalah gaya hidup. Itu juga adalah gaya hidup jemaat mula-mula (yaitu para murid Yesus). Matius 22:39 adalah sebuah mandat untuk “Mengasihi Komunitas”.
Blog saya sebelumnya, ‘Mengapa Komunitas‘ telah menjelaskan betapa pentingnya memiliki komunitas. Jika Allah saja berkomunitas dan Ia telah memberikan mandat untuk mengasihi komunitas kita, apa yang kita tunggu? Tidak perlu susah-susah untuk menyusun sebuah acara yang menarik perhatian dalam sebuah komunitas. Cukup praktekkan kasih di dalamnya, sebab berkomunitas adalah praktek nyata dari Kerajaan Allah.











