Kekristenan bukanlah tentang aturan. Saat kita percaya bahwa Yesus telah menebus dosa kita, maka kita Ia tidak hanya menebus dosa yang sudah kita lakukan saja, tetapi Ia sudah menebus seluruh dosa kita. Artinya, waktu kita berbuat dosa lagi setelah kita mengaku, dosa tersebut seperti tidak memiliki efek apapun bagi hidup kita.
Mengapa itu bisa terjadi? Karena waktu Yesus menebus dosa kita, Ia juga membebaskan kita dari segala peraturan-peraturan yang mengikat. Artinya, melanggar peraturan tersebut tidak lagi berarti sebuah hukuman bagi kita. Efesus 2: 15 berkata, “Sebab dengan mati- Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya.” Bukan berarti hukum tersebut tidak ada lagi, tetapi ia telah lunas. Yesus berkata dalam Matius 5:17, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.“
Yesus datang untuk menggenapi sebuah hukum yang sebenarnya mustahil untuk dipenuhi dengan kekuatan manusia. Mat 5:48 berkata, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” Hukum Taurat ada untuk menunjukkan kepada manusia tentang standar kesempurnaan Allah, dan tidak ada seorangpun yang mampu memenuhinya. Roma 3:23 berkata bahwa semua orang telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Dalam bahasa aslinya, kemuliaan juga berarti kualitas, yang pada titik tertinggi berarti juga kesempurnaan.
Bagaimana kita bisa tidak dihukum lagi? Karena sejak kita ditebus oleh Yesus, kita telah menjadi sempurna (mulia/kudus). Doa Yesus sebelum Ia disalib (Yoh 17) memiliki 2 pokok, yaitu agar murid-muridNya dan murid-murid dari murid-muridNya bersatu dan dikuduskan dalam kebenaran. Dikuduskan artinya dipisahkan. Namun, kita tidak dipisahkan karena kita berusaha memisahkan diri (menguduskan diri). Tetapi Yesus, yang merupakan kebenaran (firman, Yoh 1:1-4) itulah yang memisahkan kita.
1 Korintus 3:16 berkata bahwa kita adalah bait Allah. Kita bukan sedang menjadi bait Allah, tetapi kita sudah. Artinya bukan karena usaha kita. Itulah anugerah. Efesus 2:22 berkata, “Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” Kita adalah tempat kediaman Allah artinya kita adalah kerajaan Allah. Inilah bukti bahwa kita sudah kudus, sempurna di mata Allah. Kolose 2: 16-17 berkata, “Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus.“
Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah tidak ada hukum yang berlaku? Yohanes 13:34 berkata, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid- murid- Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” Perintah inilah yang menjadi hukum baru sekaligus identitas kekristenan. Galatia 5:14 berkata, “Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri! “
Kasih adalah identitas kekristenan. Saat kita dikuduskan dalam kebenaran, artinya kita harus hidup dalam kebenaran Allah. Apakah kebenaran Allah itu? Tidak ada kebenaran lain yang lebih kuat selain kasih, sebab Allah adalah kasih. 1 Yoh 4:16 berkata, “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.“
Mengasihi adalah perintah mutlak yang baru. Artinya kita akan kembali berdosa kalau kita tidak mengasihi. Dosa bukan lagi tentang perbuatan melanggar hukum. Tetapi kita akan mentaati hukum bukan karena takut lagi, tetapi karena kita mengasihi Allah, yang mempunyai standar kesempurnaan yang tinggi. 1 Yohanes 4:18 berkata, “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.“
Banyak orang mengaku mengenal kasih atau bisa mengasihi. Tapi seperti apakah sebenarnya? Mari kita coba baca Galatia versi Message berikut.
3:11-12 The person who lives in right relationship with God does it by embracing what God arranges for him. Doing things for God is the opposite of entering into what God does for you.
5:6 For in Christ, neither our most conscientious religion nor disregard of religion amounts to anything. What matters is something far more interior: faith expressed in love.
5:13 It is absolutely clear that God has called you to a free life. Just make sure that you don’t use this freedom as an excuse to do whatever you want to do and destroy your freedom. Rather, use your freedom to serve one another in love; that’s how freedom grows.
5:16 My counsel is this: Live freely, animated and motivated by God’s Spirit. Then you won’t feed the compulsions of selfishness.
5:19-21 paranoid loneliness; cutthroat competition; an impotence to love or be loved; divided homes and divided lives; small-minded and lopsided pursuits; the vicious habit of depersonalizing everyone into a rival; uncontrolled and uncontrollable addictions; ugly parodies of community.
5:22-23 We develop a willingness to stick with things, a sense of compassion in the heart, and a conviction that a basic holiness permeates things and people. We find ourselves involved in loyal commitments, not needing to force our way in life, able to marshal and direct our energies wisely.
Kita dibebaskan agar kita mampu untuk mengasihi. Karena tanpa kebebasan (di dalam paksaan), kasih tidak akan muncul. Itulah mengapa Allah tidak pernah dan tidak akan pernah memaksa kita untuk mematuhi hukum (standar) Nya. Kita mematuhi hukum karena kita mengasihi. Itulah inti dari hukum mengasihi.
(Gambar dari theworldrace.org dan yhreb.com)










Menjadi Bagian Dari Tubuh Kristus « The Leipzic Way
[…] Ritme kasih karunia berbicara tentang mengasihi. Bukankah itu yang selalu diajarkan dan ditekankan firman Allah. Yohanes 13:34 berkata, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Perintah baru inilah yang menggantikan hukum taurat. Baca blog saya sebelumnya. […]