Saat ini banyak gereja memiliki kelompok kecil atau sering disebut kelompok sel/komsel sebagai sarana persekutuan jemaat. Hal ini seperti menjadi trend sehingga jika sebuah gereja tidak memiliki hal ini, maka ia akan ketinggalan jaman. Banyak orang juga sudah menjalani hal ini sebagai aktifitas, tetapi tidak banyak yang tahu sebenarnya esensi dari sebuah komunitas, sehingga menjalaninya hanya sebagai sebuah rutinitas.
Jika kita melihat sejarah gereja, setelah Yesus naik ke surga, bentuknya adalah kelompok kecil atau komunitas, mengingat waktu itu orang-orang Kristen masih ditekan keberadaannya oleh orang Yahudi. Jadi sangatlah tidak mungkin mendirikan sebuah bangunan gereja dan menyelenggarakan ibadah secara terbuka. Baru setelah diakui sebagai agama negara di jaman Kaisar Konstantin lah bentuk gereja seperti yang kita kenal saat ini.
Membangun gereja adalah mandat Yesus. Matius 16:18 berkata, “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Tidak disebutkan kata gereja dalam Alkitab TB, tetapi dalam bahasa Inggris digunakan kata ‘Church’. Dan memang terbukti Petrus menjadi Bapak Gereja, sehingga Rasul Paulus pun harus membuktikan pertobatannya kepada Petrus. Namun asalnya, gereja berbentuk kelompok kecil. Jadi untuk gereja memiliki kelompok kecil, itu adalah hal yang sangat baik bahkan tergolong wajib. Berikut adalah beberapa pemikiran yang mungkin luput untuk dipahami tentang kelompok kecil namun jika kita pahami akan berdampak besar dalam kehidupan kita.
- Kata ‘Jemaat’ di Matius 16:18 tersebut berasal dari kata ‘ekkaleo’ yang artinya adalah dipanggil keluar. Ekklesia berarti sebuah kelompok masyarakat yang dipanggil keluar, dan dipilih untuk berdiri di pintu gerbang untuk membuat/mengambil keputusan yang mempengaruhi sebuah kota. Kata kuncinya adalah pada kata kelompok dan keluar. Jadi gereja bukanlah gedung atau denominasi tetapi kumpulan orang-orang yang dipanggil keluar untuk melakukan keputusan Allah terhadap suatu daerah tertentu (dunia). Coba baca 1 Petrus 2:5-9. Jumlah terkecil suatu kelompok sehingga disebut gereja adalah dua tiga orang (Mat 18:20). Jadi gereja bukanlah tentang sebuah gedung, tetapi gereja adalah tentang kumpulan orang. Sehingga meskipun jumlahnya kecil, tetap dapat disebut gereja. Karena diri kita sendiri adalah gereja (tubuh Kristus, 1 Korintus 3:16).
- Ekklesia memiliki sifatnya yang aktif berdampak. Jaman dahulu, posisi Ekklesia sebenarnya kira-kira seperti DPRD jaman sekarang. Tetapi memang biasanya mereka berkumpul di pintu gerbang kota. Jadi gereja adalah kumpulan orang yang secara aktif berdampak bagi kotanya. Bandingkan dengan saat ini, dimana banyak orang Kristen yang lebih sibuk mementingkan dirinya sendiri dan hanya mencari berkat tanpa mau memikirkan orang lain. Tidak salah jika akhirnya saat ini orang Kristen jadi dibenci oleh sekelilingnya. Bandingkan dengan Kisah Para Rasul 2:47 yang berkata, “…Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”
- Matius 18:19-20 berkata, “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Ada dua kata kunci di sana, yaitu kehadiran Kristus dan sepakat. Keberadaan gereja harus membuat orang yang ada di dalam dan sekelilingnya untuk mengalami Kristus. Kesepakatan berarti hubungan yang kuat. Hal seperti itu sepertinya sulit dilakukan dalam sebuah ibadah besar. Karena mengalami Kristus tidak berarti merasakan, tetapi perubahan pola pikir dan kehidupan (Roma 12:1-2). Dan hal itu butuh adanya orang-orang yang saling memperhatikan. Dan di situlah sebenarnya kekuatan komunitas.
- Kelebihan sebuah komunitas adalah justru di jumlahnya yang kecil. Hal ini memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk saling memasuki dan dimasuki. Bayangkan jika kita dalam sebuah gedung dengan 1000 orang di dalamnya, dan bayangkan bagaimana proses ini saling terjadi. Ada sebuah teori tentang arah jumlah komunikasi yang terjadi yaitu (N x N) – N. Cobalah ubah N dengan jumlah orang di gereja anda, berapa jumlahnya? Padahal untuk dapat saling memasuki, dibutuhkan sebuah komunikasi yang intensif dan dalam.
- Dalam kelompok kecil, tiap orang dapat berfungsi dengan saling melayani. Tuhan telah memberikan kepada kita seluruh karunia untuk membuat kita berfungsi (baca lagi 1 Petrus 2:5-9 dan Efesus 4:11-15). Tujuan hidup kita adalah agar kita berpartisipasi dalam pembangunan tubuh Kristus. Itulah mengapa Ia memberikan potensi dalam kehidupan kita. Salah satu parameter kelompok kecil yang sehat sebenarnya adalah tiap orang yang ada di dalamnya dapat bertumbuh sesuai dengan karunia dan potensi yang diberikan kepadanya sehingga dengan itu ia dapat melayani orang lain.
Komunitas adalah tentang gaya hidup. Komunitas bukanlah pertemuan yang terjadwal. Jadwal komunitas adalah tujuh kali seminggu. Tiap hari kita seharusnya berkomunitas. Hal ini karena salah satu tujuan utama dan kekuatan komunitas adalah pada pertumbuhan kehidupan anggotanya. Jika kita baca dalam Kisah Para Rasul 2 tentang kehidupan jemaat mula-mula, kita dapat merasakan bagaimana kehidupan komunitas adalah tentang kehidupan sehari-hari, tentang berbagi, dan lainnya. Lihatlah juga bagaimana dalam Kisah Para Rasul 2:47 digunakan kata tiap hari. Artinya, tiap hari mereka aktif melakukan sesuatu bagi anggotanya dan orang sekelilingnya, sehingga mereka disukai (dan banyak orang bergabung), serta disegani (meskipun tidak bergabung, tetapi mereka merasakan bagaimana orang Kristen berdampak dalam kehidupan mereka).- Sebuah komunitas dapat terbentuk dalam latar belakang apapun. Bisa karena kesamaan hobi, kesamaan tujuan atau yang lain. Tapi intinya harus ada kesamaan alias kecocokan. Begitu juga komunitas kita terbentuk minimal adalah karena kesamaan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Kita memiliki tugas untuk berdampak bagi kehidupan orang lain. Kehidupan komunitas sebenarnya mempermudah kita untuk melakukan hal itu. Parameter kedua sebuah komunitas disebut sehat atau tidak adalah apakah ia berdampak bagi orang lain atau tidak. Kekristenan selalu berarti peran aktif. Yesus telah secara aktif terlebih dahulu mencari kita, bahkan sebelum kita menyadari bahwa kita membutuhkan Dia. Begitu juga kita. Pakailah seluruh kemampuan yang telah diberikan kepada kita untuk berdampak bagi kehidupan orang lain.
- Komunitas ada bukan untuk membuat gereja menjadi besar dengan penambahan jumlah jemaat. Tetapi komunitas ada untuk membuat orang-orang di dalamnya menjadi siap diutus ke luar gedung gereja dan membawa nilai-nilai gereja bagi dunia. Ingat bahwa panggilan kita adalah untuk menjadi garam dan terang dunia. Terang akan dirasakan manfaatnya jika di tengah kegelapan. Jika kita menyalakan lilin di ruangan yang terdapat lampu yang hidup, maka tidak ada manfaatnya, atau mungkin hanya sedikit. Begitu juga garam yang diberikan di tengah garam yang lain justru akan membuat pahit rasanya. Orang Kristen yang hanya berkumpul dengan sejenisnya akan justru menimbulkan hal-hal yang tidak perlu seperti pertengkaran, dan sebagainya.
Gereja saat ini seharusnya tidak menjadikan komunitas hanya sebagai program saja, karena komunitas seharusnya adalah tentang gaya hidup dan fleksibilitas terhadap keunikan setiap orang di dalamnya. Karena jika diprogram, maka sekali lagi yang terjadi adalah batasan terhadap pergerakan komunitas itu sendiri. Jika komunitas adalah gaya hidup, maka yang terpenting bukanlah acaranya, pertemuannya, atau apa yang dilakukan. Tapi pertumbuhan tiap orang di dalamnya. Gereja dapat dibatasi, tetapi tidak dengan kelompok kecil. Berfokuslah dengannya, maka sebenarnya kita sedang menjalankan seluruh mandat Allah bagi kita.
(Gambar dari berbagai sumber)







Mengembalikan Kuasa Pada Manusia « The Leipzic Way
[…] Untuk mampu taat kepada Allah kita tidak mungkin menggunakan cara-cara dunia. Kita membutuhkan cara-cara Allah. Roma 12:2 berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Sebelum pribadi kita diubahkan, pola pikir kita terlebih dahulu butuh diubahkan. Ini membutuhkan proses dari sehari ke sehari. Menjadi sempurna bukan berarti tidak boleh gagal. Justru kadang kegagalanlah yang membuat kita tidak ingin gagal lagi. Akhirnya kita mencapai sukses. Kuasa akan otomatis muncul waktu manusia tidak mementingkan diri sendiri (baca: membangun kerajaan sendiri) tetapi melakukan gaya hidup Kerajaan Allah. […]
Komunitas: Tentang Mengasihi Sesama Manusia « The Leipzic Way
[…] saya sebelumnya, ‘Mengapa Komunitas‘ telah menjelaskan betapa pentingnya memiliki komunitas. Jika Allah saja berkomunitas dan Ia […]