Secara tidak sadar, saat ini Kekristenan telah memasuki sebuah masa kemerosotan. Apa yang menjadi fokus dan dianggap penting oleh Yesus justru saat ini tidak terlalu diperhatikan oleh jemaat. Sebagai contoh, semasa hidupnya, dari awal pelayananNya (Matius 4:17) sampai detik-detik terakhir menjelang kenaikanNya (Kisah Para Rasul 1:3), Ia terus memberitakan tentang Kerajaan Allah. Tapi bagaimana dengan sekarang? Masihkah Kerajaan Allah menjadi fokus utama pemberitaan (injil)?
Bukankah kekristenan lebih sibuk untuk berfokus pada gereja sebagai ekspresi tentang Kerajaan Allah itu sendiri? Fokus kepada ekspresi akan fokus kita terhadap esensi itu hilang. Namun, jika ada yang ingin bertanya, apa bedanya kerajaan Allah dan gereja? Maka saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas, karena ada hal lain yang ingin saya bahas. Yang pasti, seharusnya gereja adalah sarana untuk mewujudkan kerajaan Allah itu. Namun, jika hanya berfokus pada gereja saja, maka bisa-bisa fokus terhadap kerajaan Allah itu sendiri teralihkan.
Kita semua setuju bahwa inti ajaran Yesus ada di Matius 5-7 yang merupakan rangkaian ajaran Kotbah di Bukit. Namun, ajaran itu jelas meningkatkan kualitas Hukum Taurat yang menjadi rujukan orang Israel waktu itu. Ajaran tersebut antara lain berkata, “Jika kita membenci sesama, maka sebenarnya hal itu sama dengan membunuh”, “Jika kita berahi kepada wanita yang tidak seharusnya, maka hal itu sama dengna berzinah”, selain itu ada ajaran tentang berdoa, berpuasa, dan lainnya yang menuntut kita untuk tidak berlaku munafik.
Satu pertanyaan yang muncul adalah, “Mungkinkah kita melakukan hal itu?”. Saat saya lontarkan pertanyaan ini dalam sebuah diskusi, maka semua menjawab, “Tidak mungkin kalau tidak ada kasih karunia Allah”. Artinya, semua setuju bahwa standar Yesus sangat berat sekali. Matius 5:48 berkata bahwa kita harus sempurna, sama seperti Bapa di Surga sempurna. Sungguh luar biasa, karena Allah membandingkan diriNya dengan kita. Suatu perbandingan yang tidak sepadan tentunya. Namun, kalimat itu ialah kalimat perintah, bukan himbauan seperti yang kebanyakan orang Kristen yakini. Selain itu, kalimat itu diberikan dalam bentuk masa kini, Yesus tidak berkata “…akan sempurna…” Kata sempurna di Matius 5:48 berasal dari kata Yunani ‘teleios‘ yang berarti utuh. Sebuah kata yang sama yang digunakan untuk menggambarkan ‘integritas’. Utuh berbicara tentang semua aspek. Jika ada 1 aspek saja dari keseluruhan 10.000 aspek dalam kehidupan kita yang terkorupsi, maka keutuhan itu belum terjadi. Namun, kasih karunia menimbulkan pengharapan bahwa apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Hebatnya, Tuhan adalah pribadi yang mengasihi kita. Di dalam kasih, tidak mengandung tuntutan. Sebab “Kasih itu sabar; … Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu…” (1 Korintus 13:4-8). Ia sabar menunggu kita untuk mampu mencapai standar kesempurnaanNya. Bahkan waktu kita mungkin berbuat dosa lagi, Ia menutupi pelanggaran kita dengan pengorbananNya di salib, sambil tetap percaya dan berharap bahwa kita terus berusaha untuk mencapai standarNya itu.
Di masa-masa terakhir Yesus di bumi, Ia berbicara dengan Petrus (Yohanes 21:15-17). Ia tiga kali bertanya hal yang sama, “Simon anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?”. Hal yang unik adalah ternyata mereka tidak sedang berbicara tentang topik yang sama, bahasa gaulnya, ‘tidak nyambung’. Dua pertanyaan pertama Yesus, Ia menggunakan kata kasih yang dalam bahasa Yunani adalah ‘Agape‘. (Dalam bahasa Yunani, ada 4 kata yang digunakan untuk menggambarkan tentang kasih, Agape, Filia, Storge, Eros). Kita semua tahu bahwa kasih ini berarti adalah kasih yang sempurna. Sedangkan yang lucu adalah, Petrus menjawabnya, “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi (Filia) Engkau.” Namun yang hebat, pada pertanyaan ketiga, Yesus bertanya, “Petrus, apakah engkau mengasihi (Filia) aku?” Yesus secara sengaja menurunkan standarNya. Dan saat itulah hati Petrus sedih, sebab Ia tahu bahwa Yesus mengasihinya secara Agape.
Di dalam kasih tidak ada tuntutan. Allah tidak pernah menuntut kita untuk menjadi sempurna, meskipun itu perintahNya. Namun, jika kita berbicara tentang hubungan saling mengasihi, kasihNya seharusnya menginspirasi kita untuk mengasihi pula. Jika kita mengaku bahwa kita mengasihi Dia, pasti secara otomatis kita tidak ingin menyakiti Dia dan ingin memenuhi keinginanNya.
1 Yohanes 2:6-10 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup … Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang. Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.
1 Yohanes 4:10-12 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
1 Yohanes 3:6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.
1 Yohanes 4:17-18 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
Surat Yohanes yang pertama menggambarkan kasih dengan sangat indah. Bahkan Rasul Yohanes sendiri yang berkata bahwa Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Artinya, kalau kita ingin mencapai standar kesempurnaan Allah, maka kita perlu mampu menjadi sempurna di dalam kasih. Tidak kebetulan, kata sempurna dihubungkan dengan kasih. Karena memang waktu kita mengasihi secara sempurna, hidup kita akan sempurna.
Mat 22:37-40 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Dengan kata lain Yesus berkata, “Kamu boleh lupa semua isi hukum Taurat dan kitab para nabi, tapi jika kamu mengasihi, maka kamu sudah melakukan hukum-hukum tersebut.” Hanya ada satu cara untuk membuat kita sempurna, yaitu kalau kita dapat mengasihi dengan benar. Bahkan saat ini, kasih yang justru paling populer adalah kasih Eros. Jiwa terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak. Kata kehendak ternyata menggunakan kata Eros (diambil dari Wikipedia), yang kira-kira berarti kehendak daging.
Jika kita hanya memiliki kasih dengan standar ini, maka sulitlah kita untuk sempurna. Sebab Eros berbicara apa yang terbaik untuk diri kita sendiri. Sedangkan kasih berarti ketulusan. Yaitu kemampuan kita untuk terus mengusahakan yang terbaik bagi hidup orang lain, yang mungkin berarti hal itu sakit bagi diri kita sendiri. Mana yang kita pilih?









