Banyak orang berkata bahwa kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. Hal ini sepertinya menjadi sebuah tembok tebal yang aman yang seringkali dijadikan tempat perlindungan bagi beberapa orang. Namun pertanyaannya, benarkah manusia tidak dapat berlaku sempurna? Matius 5:48 berkata,
“Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
Tuhan Yesus sendiri yang memerintahkan kita untuk menjadi sempurna. Jadi jika Allah sendiri yang berkata demikian, maka seharusnya hal itu tidak mustahil untuk dilakukan. Bahkan sebenarnya Allah sendiri telah menciptakan kita segambar dan serupa denganNya. Jika kita renungkan lebih dalam, maka kita akan mengerti bahwa sebenaranya ini adalah wujud kerendahan hati Allah. Karena Ia yang Illahi bersedia untuk ‘disaingi’ kesempurnaanNya. Pertanyaannya adalah “Bagaimana caranya?”
Untuk menjawab hal ini ada beberapa sisi yang harus kita renungkan. Pertama, Ia sendiri telah mendesain kita untuk menjadi makhluk yang sempurna. Hal ini bukan berarti kita memang sudah sempurna. Namun, kita diciptakan memiliki potensi untuk menjadi sempurna. Artinya, awalnya kita masih berada pada tingkat atau level dasar. Kita butuh melakukan sesuatu agar mencapai tingkatan sempurna. Namun, untuk menjadi sempurna, tidak ada cara lain selain kita melihat gambaran tersebut dan mencontohnya.
Artinya, kita harus memiliki hubungan yang baik dengan Sumber Kesempurnaan itu. Permasalahannya tentu karena dosa. Dosa menghalangi kita untuk memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan. Kabar baiknya ialah Tuhan Yesus sendiri yang memerintahkan agar kita menjadi sempurna, Ia sendiri yang telah menebus dan menghapus dosa kita. Selain dosa, Ia juga telah menghapus setiap kelemahan kita, mulai dari sakit penyakit, trauma dan sebagainya. Dan seharusnya sejak itu, kita sudah dilahirkan kembali.
Hal ini membuat kita menjadi ciptaan yang baru. Artinya ada pemulihan dalam segala hal. Permasalahannya, sering kali kita sendiri yang masih tidak mau melepaskan beberapa sisi yang merupakan bagian dari manusia lama kita. Mungkin kita masih memiliki rasa takut, atau mungkin masih ada dosa-dosa yang kita simpan. Akhirnya, hal ini membuat proses menjadi sempurna itu menjadi seperti sebuah ‘mission impossible’.
Kedua, kita perlu tahu bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Proses penebusan sebenarnya telah membuat roh kita menjadi kudus dan memiliki kehidupan yang kekal. Dan kita tahu bahwa tubuh manusia akan menuju kepada kebinasaan. Permasalahannya terdapat pada jiwa manusia. Pada area inilah peperangan terjadi, antara mengikuti kehendak tubuh (daging) yang ingin agar kita melakukan perbuatan yang sia-sia, atau kehendak roh yang selaras dengan keinginan Tuhan. Maleakhi 4:6 berkata,
“Maka ia akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah.”
Hati dalam bahasa aslinya adalah ‘tselem’, yang berarti emosi, fokus, kasih. Sebenarnya dalam ilmiah, kita akan mengerti bahwa hati adalah jiwa manusia. Karena jiwa terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak. Dan di sinilah peperangan terjadi. Itulah mengapa Amsal 4:23 berkata “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Kata sempurna yang dipakai dalam Matius 5:48 tersebut berasal dari kata ‘teleios’ yang berarti lengkap. Sedangkan nubuatan Maleakhi 4:6 adalah nubuatan tentang Yohanes Pembaptis yang memiliki tugas untuk mempersiapkan jalan bagi Kristus. Dengan kata lain, saat hati kita dipulihkan maka kita sedang menggenapi rencana Allah atas hidup kita. Lengkap harus berbicara tentang keseluruhan hidup kita. Artinya tidak boleh ada yang lobang. Tidak boleh ada unsur yang tidak maksimal. Contohnya, mungkin kita berhasil dalam karir, tetapi jika keluarga kita tidak bahagia, maka kita belum lengkap.
Dalam pemulihan ada berkat Allah. Mazmur 133 berkata bahwa ada berkat yang dijanjikan saat pemulihan terjadi. Bukan berkat yang jadi faktor utama, tetapi orang yang dipulihkan pasti menjadi berbahagia, karena hidupnya terasa lengkap. Artinya, yang satu harus dilakukan dan yang lain tidak boleh dilupakan. Kesempurnaan yang Yesus maksud tentu bukan berarti menjadi Allah seperti paham yang diajarkan oleh orang-orang pada ‘Gerakan Jaman Baru’. Tetapi berarti kita menjadi dewasa sedemikian rupa sehingga kita bisa bertanggung jawab terhadap setiap aspek kehidupan kita, karena hanya orang dewasa yang mampu menjawab sebuah tanggung jawab.






Rencana Tuhan Atas Manusia – The Leipzic Way
[…] Taurat dan orang Farisi orang-orang yang sangat rajin dan taat melakukan kehidupan keagamaannya. Jawabannya adalah mungkin. Selanjutnya mungkin kita bertanya, “Bukankah ada begitu banyak perintah di Alkitab? […]
Nyanyian Malaikat Saat Natal – The Leipzic Way
[…] tiga arti yaitu peace, completeness dan welfare. Anehnya, Tuhan Yesus memerintahkan manusia untuk menjadi sempurna (Matius 5:48). Kata sempurna di situ menggunakan kata Yunani ‘Teleios’ yang juga […]