Topi
k menjaga kekudusan akan selalu menjadi topik yang hangat untuk dibicarakan, terutama di kalangan anak muda. Banyaknya tawaran dan hal-hal yang menarik atau bikin penasaran untuk dilakukan tentu membuat hal ini makin susah dilakukan. Apakah kita termasuk yang berpikir bahwa Tuhan adalah Pribadi yang sirik terhadap kebebasan kita? Atau mungkin kita pernah berpikir bahwa hal ini hanya berlaku untuk para orang tua? Apakah menjaga kekudusan hanyalah masalah perintah?Beberapa ayat yang akhir-akhir ini menjadi perenungan saya kembali mengajak saya untuk memperbarui pola pikir tentang menjaga kekudusan. Sama seperti semua orang lain, saya sering berpikir bahkan kadang mengeluh tentang sulitnya melakukan hal ini. Pengajaran Yesus yang meningkatkan standar dari dosa, membuat kita sulit lolos, karena membenci sudah sama dengan membunuh, berpikiran kotor setara dengan berzinah, harus melakukan setiap disiplin rohani bahkan dengan sikap hati yang benar. Dan pada akhirnya semua itu disimpulkan dengan sebuah kalimat di Matius 5:48, “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
Hal ini menyadarkan saya tentang arti kasih karunia, dimana memang tanpa kasih karunia Allah, kita tidak akan bisa hidup. Dan sebenarnya tiap hari kita bergantung padanya. Ini membuat saya bisa bersyukur tiap hari yang juga banyak membantu kesehatan rohani saya. Tetapi pemikiran liar saya berkata, “Apakah ini hanya sekedar perintah, atau sebenarnya ada manfaat dibalik mengapa kita harus menjaga kekudusan?”
Esau Syndrome
Saya bertemu dengan dua ayat yang membantu pemikiran saya menjawab hal tersebut.
Mat 7:6 “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”
Hebrews 12:16(MSG) Watch out for the Esau syndrome: trading away God’s lifelong gift in order to satisfy a short-term appetite.
- Apa/siapa barang yang kudus? Saya yakin jawaban paling tepat atas hal ini adalah hidup kita. 1 Petrus 2:9 berkata bahwa kita adalah bangsa yang kudus. Ya, kita dikuduskan oleh darah Yesus yang memerdekakan kita. Dari pengertian ini, maka kita perlu tahu konteks Matius 7:6 dapat dipakai untuk menjadi standar bagi kita untuk menjalani kehidupan.
- Apakah babi itu? Perenungan saya membawa pada sebuah pengertian bahwa babi adalah binatang yang tidak mengerti mengenai nilai/harga sebuah barang. Setahu saya, babi memakan semua hal yang ada di depannya. Ia tidak peduli apakah yang ia makan adalah steak, sayuran, sampah atau kotoran.
- Bandingkan dengan Ibrani 12:16 versi Msg, kita akan menemukan sebuah pengertian baru bahwa yang membuat Esau jatuh adalah penyakit yang menukar / menjual sesuatu yang sifatnya sangat mulia dan berharga dengan sesuatu yang sifatnya fana atau sementara.
Jadi dari sini, rasa penasaran saya akan apa yang salah dari memakan semangkuk sup kacang merah jadi terjawab. Ternyata letaknya bukan pada sup kacang merahnya, tetapi pada nafsu Esau yang tidak peduli dengan anugerah dan kasih karunia yang ia dapatkan. - Seharusnya kita semua sadar bahwa hidup kita sekarang adalah hidup yang diangkat dari kubangan kotoran dan dimuliakan. Sama seperti perumpamaan anak yang hilang, dimana ia ‘dimuliakan’ dengan cara diganti pakaiannya dan diberi cincin dan semuanya yang melambangkan sebuah status yang mulia, hidup kita juga dimuliakan oleh adanya Roh Kudus dalam diri kita dan kita disebut anak Allah.
- Menjaga kekudusan bukanlah sikap supaya kita bisa terbebas dan lepas dari amarah Tuhan, tetapi itu adalah sikap kita untuk menanggapi kasih karunia Allah. Singkatnya orang yang tidak menjaga kekudusan sebenarnya tidak mengenal apa itu kasih karunia.
- Bagaimana saya mengerti sebuah kasih karunia? Saya mengerti hal ini waktu saya mendapatkan suatu benda/barang yang saya pikir secara logis saya akan sulit dapatkan sekalipun saya bekerja dengan giat dalam waktu cukup lama. Setelah saya mendapatkannya, apa yang saya lakukan sungguh di luar dugaan saya. Saya benar-benar merawatnya dan menjaganya seperti milik saya yang paling berharga.
- Kasih karunia yang diberikan secara cuma-cuma bukanlah berarti tidak ada harganya. Tetapi justru harusnya kita menanamkan bahwa itu sangat berharga sehingga kita tidak mau kehilangan hal tersebut. Yesus banyak memberikan perumpamaan seperti ini. Misalnya tentang seorang yang kaya raya yang mengundang orang miskin di jalan-jalan, pasar, yang waktu mereka datang tidak dengan pakaian pesta akhirnya diusir. Begitu juga tentang anak gadis yang tidak membawa persediaan minyak.
- Yang terakhir, kita perlu tahu bahwa salah memberikan hidup kita kepada hawa nafsu kita justru akan membuat hidup kita dikoyakkannya, sama seperti babi yang akan berbalik mengoyak sang pemberi mutiara. Tujuan utama menjaga kekudusan bukanlah untuk menyenangkan Tuhan saja, tetapi justru untuk memastikan hidup kita mendapatkan yang terbaik dari segalanya.
Apakah Tuhan senang? Ya, tentu saja. Tetapi justru kitalah yang akan mendapatkan manfaat terbaik dari menjaga kekudusan. Pernah merasa frustrasi? Saya yakin jawabannya adalah karena kita tidak cukup tegas terhadap diri kita sendiri.
Tuhan yang sudah memberikan Roh Kudus dalam diri kita pasti memampukan kita untuk menjaga kekudusan. Mari melakukan demi kehidupan yang lebih baik dan penuh kemenangan.









