Banyak orang mengeluh tentang betapa susahnya menjaga sebuah konsistensi. Mungkin benar juga, karena saya mungkin termasuk salah seorang di dalamnya. Bagaimana dengan anda? Meskipun, demikian, sampai sekarang, setiap orang yang sedang berada di jalan yang benar pasti sedang mengejarnya. Karena konsistensi adalah syarat kesuksesan. Apa buktinya? Lihat gambar ini, atau cari di google picture dengan keyword ‘consistency’, maka anda akan menemukan bahwa konsistensi selalu digambarkan sebagai panah yang mencapai sasaran. Mencapai sasaran berarti keberhasilan atau kesuksesan. Namun berapa banyak yang gagal atau berapa kali kita gagal bukanlah hal yang perlu menjadi beban pikiran kita. Karena konsistensi memang adalah perjuangan seumur hidup. Jika di suatu waktu kita telah berhasil, maka jangan merasa bahwa kita sudah menang untuk selama-lamanya.
Mari kita lihat apa yang Rasul Paulus katakan tentang hal ini. 1 Korintus 9 menceritakan bagaimana Rasul Paulus berjuang terus untuk melakukannya. Karena kualitas akan selalu menuntut konsistensi. Pasal ini muncul dilatarbelakangi oleh adanya kritik terhadap Rasul Paulus. Dan ia menjawabnya dengan mengatakan tentang bagaimana ia menjaga kehidupannya. Berikut ini adalah poin-poin yang Rasul Paulus berikan.
- Ayat 26 Ia tidak menjadi ‘pelari yang sembarangan berlari’ dan ‘petinju yang sembarangan memukul‘. Artinya, ia tahu tujuan dari setiap hal yang ia lakukan. Bahkan terhadap hal yang paling detail dan kecil sekalipun. Jika anda membaca blogku sebelumnya, anda akan mengetahui bahwa untuk melakukan hal ini dibutuhkan hikmat (wisdom), karena hikmat berarti kemampuan untuk memilih cara yang paling tepat sehingga dihasilkan keoptimalan. Optimal berarti efisiensi, tidak ada tenaga yang terbuang untuk melakukan sesuatu yang tidak tepat sasaran. Bayangkan bagaimana seorang petinju hanya berhasil memukul tangan lawan sebagai pertahanannya atau justru luput dan memukul angin. Ia akan menjadi orang yang sangat lelah dan tinggal menunggu waktu untuk dikalahkan.
- Hal ini berarti kita harus tahu kapan waktu berperang dan kapan waktu berdamai. Sama seperti di jaman Raja-raja, ada waktu untuk berperang, di mana biasanya seluruh kerajaan akan saling berperang. Tetapi ada waktu untuk berdamai sehingga ada kesempatan untuk membangun kekuatan. Ini adalah cara atau aturan yang berlaku. Aturan yang ‘gentleman’. Namun Raja Daud tercatat sempat ‘salah waktu’ sehingga ia beristirahat di waktu yang seharusnya untuk berperang, sehingga ia berbuat dosa dengan menyukai Betsyeba dan membunuh panglimanya sendiri, Uria.
- Rasul Paulus dalam suratnya tersebut mengatakan bahwa kita tidak boleh menjadi orang yang gampangan. Dalam menghadapi kritik, ia tidak menjadi lemah dan terpukul, tetapi ia memutuskan menjawab kritikan mereka dengan menjaga kualitas hidupnya. Hal ini tercermin di poin 4 dan 5 berikut.
Pages: 1 2






Catatan Tentang Kesuksesan – The Leipzic Way
[…] dalam blog saya. Kedua yang tidak kalah penting adalah konsistensi, yang juga sudah pernah saya bahas sebelumnya. Konsistensi bukan berarti terus menerus berhasil melakukan sesuatu. Tapi terus menerus bangkit […]
Kesuksesan Versi Bunda Theresa – The Leipzic Way
[…] dalam blog saya. Kedua yang tidak kalah penting adalah konsistensi, yang juga sudah pernah saya bahas sebelumnya. Konsistensi bukan berarti terus menerus berhasil melakukan sesuatu. Tapi terus menerus bangkit […]