*) Ditulis untuk Majalah Genta
Demi mewujudkan hasrat manusia berkomunikasi, terciptalah bahasa. Di Alkitab kita mengenal kisah ‘Menara Babel’ dimana bahasa manusia dikacaubalaukan. Kehilangan kesempatan berbahasa, manusia terserak ke seluruh bumi. Kekuatan bahasa adalah kekuatan pemersatu. Tak heran dari Sumpah Pemuda kita mengenal motto, “Berbahasa satu, Bahasa Indonesia.”
Dalam berbahasa termuat sinyal-sinyal komunikasi. Ada begitu banyak cara untuk berbahasa. Tidak hanya berupa pengucapan, bahasa dapat dikirimkan lewat segala hal yang mampu ditangkap indera manusia. Dalam berkata-kata saja, kita sebenarnya menangkap pesan melalui intonasi, raut muka bahkan bahasa tubuh.
Begitu banyak ragamnya, kita mengenal bahasa isyarat bagi para tunarungu, bahasa pelukan dari seorang ibu pada anaknya, bahkan melalui bau-bauan kita mengenali suatu tempat, situasi atau keberadaan suatu makhluk. Saya berpikir bahwa kelebihan berbahasa adalah salah satu bukti bahwa manusia memang adalah cerminan Allah.
Pada dasarnya Allah adalah Pribadi yang selalu rindu berkomunikasi. Tidak peduli seberapa bebalnya manusia, Ia selalu ingin mengembalikan kondisi Eden dalam diri setiap manusia. Eden yang berarti ‘God’s spot’ atau ‘God’s presence’ adalah tempat paling ideal yang diciptakan Allah bagi manusia. Karena di Eden, Allah dan manusia berkomunikasi. Bukti dari peristiwa ini adalah bahwa Adam dan Hawa langsung bisa mengenali Allah melalui suara langkah kakiNya. Konsekuensi dari komunikasi adalah pengenalan.
Hebatnya, dosa yang menghalangi pengenalan manusia kepada Allah tidak pernah menghalangiNya untuk terus berkomunikasi dengan manusia. Keledai dibuat berbicara kepada Bileam, nabi-nabiNya terus diutus, bahkan Allah juga menggunakan masalah untuk berbicara kepada kita, seperti yang dilakukanNya kepada Yunus. Namun bagi saya, alat favoritNya adalah hati nurani kita.
Karena kegemaranNya untuk berhubungan dengan manusia telah membuat Allah tidak pernah menyerah dan memutuskan untuk membuat pribadi lain yang mampu berkomunikasi denganNya. Ia memilih cara yang sangat tidak nyaman. Mengosongkan diriNya dan jadi sama dengan manusia. Tidak berhenti, Ia mengambil langkah pamungkas dengan merendahkan diriNya sedemikian rupa pada waktu Ia menebus dosa kita di atas kayu salib.
Ya, itulah hubungan. Dalam hubungan terjadi proses saling merendahkan hati. Pasangan suami istri yang lupa menerapkan hal ini akan membuat hubungan paling kuat pun menjadi retak. Tanpa kerendahan hati, tidak mungkin makna yang seharusnya terkirim bersamaan dengan bahasa menjadi tersampaikan.
Bagi saya, jika bahasa punya kekuatan, maka bahasa-bahasa yang dipakai Allah adalah bahasa yang terkuat yang hanya bisa dikalahkan oleh kesombongan manusia pada waktu menolak apa yang Ia sudah lakukan.
Banyak yang berpikir bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Padahal di dalam Alkitab terdapat perkataan-perkataan manusia, bahkan perkataan setan. Bagi saya, Alkitab adalah kumpulan bahasa Allah bagi manusia untuk mengenalNya. Berangkat dari pengertian ini seharusnya lebih banyak orang Kristen yang suka menyelidiki Alkitab, karena ia akan belajar lebih mengenal Tuhan.
Alkitab berkata, “Karena ganjaran kerendahan hati dan takut akan Tuhan adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan” (Amsal 22:4). Namun, dalam versi lain ‘Takut akan Tuhan’ disebutkan sebagai ‘to trust and reverence the Lord’ (Amsal 1:7, The Living Bible). Ini terjadi hanya jika kita rindu mengenalNya sebagai sumber kehidupan kita.
Tidak sulit untuk mengenalNya, karena dalam segala hal Ia selalu menyatakan diriNya. Masalahnya terletak pada kerinduan kita mengenalNya. Jika kita cukup rendah hati mengakui bahwa sumber referensi dari hidup kita adalah padaNya, maka segala pernyataan dan tuntunanNya dalam hidup kita akan terus mengalir dan menjadi buah yang nyata dalam hidup kita.










