*) Dipublikasikan pada Progress News SMCC Edisi Juli 2015
Kita diciptakan dengan macam-macam keunikan, baik secara pribadi maupun korporat. Dalam hakekatnya manusia diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan sehingga membuatnya memiliki keunikan, keunggulan dan kekurangannya masing-masing. Sedangkan kodrat pria sering membuatnya secara otomatis mendapatkan tuntutan yang lebih. Laki-laki bukan hanya bertugas untuk menaklukkan dan menjadi sang penguasa hati wanita, namun lebih dari itu ada tugas yang besar yang berhubungan dengan hatinya.
Dalam 1 Timotius 2:12, Rasul Paulus mengungkapkan satu pernyataan yang bisa menimbulkan ribuan pertanyaan. Tentunya ia bukan seorang fanatik patriarkis yang memberi arahan bagi munculnya gerakan untuk mengebiri hak kaum perempuan. Saya sendiri memilih untuk melihatnya sebagai contoh bahwa seorang pria memiliki tugas untuk mengajar dan memerintah.
Masih banyak contoh yang dapat membuktikan bahwa seorang pria memang tidak boleh bermain-main dengan hidupnya karena ia memiliki tanggung jawab yang besar. Sebelum kematiannya, Daud berpesan kepada Salomo untuk menguatkan hati dan berlaku sebagai laki-laki (1 Raja-raja 2:1-3). Daud berpesan bahwa kunci kesuksesan adalah saat kita setia terhadap Tuhan (band. Amsal 1:7). Dan untuk mencapai semuanya itu, perlu memiliki hati yang kuat, karena tugas seorang laki-laki memang tidak mudah.
Di Alkitab, kita akan menemukan hubungan yang kuat antara hati nurani dengan iman (1 Timotius 1:5,18-19, 1 Timotius 3-9, Ibrani 10:22). Jika syarat bagi terjadinya mujizat adalah iman, maka kunci dari iman adalah hati nurani yang murni. Maka seorang pria tidak mungkin berjalan tanpa memelihara hati nurani yang murni. Itulah mengapa Rasul Paulus menginginkan agar pria dapat berdoa dengan menadahkan tangan yang suci (1 Timotius 2:8).
Apa pentingnya hati nurani bagi manusia? Hati nurani adalah pusat dari segala proses evaluasi tindakan. Baik / buruk, benar / salah, penting / kurang, perlu / tidak, berkenan / tidak, semuanya diproses melalui hati nurani. Segala tindakan dan perkataan kita semuanya berasal dari hati nurani.
Permintaan Daud kepada Salomo bukanlah permintaan untuk mencapai apa yang tidak ia miliki, tetapi lebih kepada arahan untuk menggunakan perlengkapan yang sudah melekat pada dirinya. Kekuatan seorang pria terletak pada hatinya. Tidak salah mengapa Amsal 4:23 menekankan pentingnya untuk menjaga hati, karena kegagalan menjaga hati akan mengakibatkan kita kehilangan kesempatan untuk menjalani desain kesuksesan kita.
Bagaimana supaya kita memiliki hati yang kuat? Filipi 4:7-8 berkata bahwa ada hubungan antara hati dan pikiran kita. Dan untuk menjaga hati kita, kita perlu memenuhi pikiran kita dengan segala yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedang didengar, kebajikan dan hal-hal yang patut dipuji. Tidak salah Roma 12:1-2 berkata bahwa kita hanya dapat mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan waktu kita berubah oleh pembaharuan budi kita dari hari ke hari.
Mazmur 16:7 berkata, “Aku memuji Tuhan, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku”. Nasihat Tuhan datang lewat hati nurani kita. Kegagalan menjaga hati nurani membuat kita gagal mendengar suara Tuhan. Pria seharusnya adalah imam yang bertugas mendengar suara Tuhan bagi sekelilingnya. Tanpa hal ini pria akan kehilangan fungsinya yang utama.
“Conscience is a man’s compass” ~ Vincent Van Gogh











