*) Dipublikasikan dalam Warta Excellent Leader “Pandhega” Edisi Maret 2013
Kata ‘Radikal’ saat ini sudah sangat jarang didengar dan didengungkan di kalangan orang Kristen. Bahkan mungkin saat ini kitalah yang akan berdecak kagum dengan keradikalan yang dilakukan oleh orang-orang dari agama lain.
Padahal sekitar dua dekade lalu, orang Kristen lekat dengan kata-kata ini. Bahkan saya masih ingat waktu jargon ‘Jesus Freaks’ sedang melanda anak muda Kristen. Saat ini mungkin keradikalan dalam kekristenan hanya bisa dijumpai pada diri misioner-misioner yang berada di pedalaman. Sedangkan di Alkitab, keradikalan adalah gaya hidup jemaat mula-mula.
Jadi apakah keradikalan itu? Kata ‘Radikal’ berasal dari kata benda ‘Radix’ yang artinya adalah akar. Radikal berarti mengakar. Mengapa orang Kristen butuh untuk menjadi radikal? Orang Kristen sering digambarkan sebagai sebuah pohon (Mazmur 1:3). Jika kita membayangkan sebuah badai terjadi, maka hanya ada 2 cara yang membuat sebuah pohon dapat tetap tegak berdiri (tidak tumbang). Yang pertama adalah waktu ia memiliki akar yang kuat. Jenis seperti ini dapat ditemui biasanya pada pohon yang hidupnya lama seperti beringin. Kedua adalah pohon yang memiliki batang yang lentur seperti bambu.
Ada pepatah Indian kuno yang berkata bahwa ikan yang mahal adalah ikan yang kuat melawan arus sedangkan yang mengikuti arus sebenarnya adalah ikan mati. Begitu juga kita. Pola pikir Kristus sering berbeda 180 derajat dari pemikiran dunia. Itulah mengapa kita harus berubah oleh pembaharuan budi (Roma 12:1-2). Sebagai orang Kristen, pilihannya cuma dua, yaitu melawan arus dan teguh berdiri dalam kebenaran atau ikut dengan kebiasaan dunia. Namun sama seperti ikan tadi, kekristenan yang bersahabat dengan pola pikir duniawi sebenarnya adalah kekristenan yang mati.
Lalu bagaimana orang Kristen yang masih hidup dalam dunia bisa tidak bersahabat dengan dunia? Jawabannya terletak pada cara pandang atau pola pikir. Yesus berkata bahwa muridNya adalah orang-orang yang mahir memikul salibnya sendiri dan menyangkal diri (Matius 16:24). Keradikalan bukanlah masalah praktek kekudusan yang mengekang kita untuk tidak boleh pergi ke bioskop, diskotik atau masalah boleh/tidak boleh. Juga bukan tentang perbuatan kita atau “Mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya” seperti yang kita pelajari di bangku sekolah dasar.
Yang harus radikal adalah pola pikir dan cara pandang kita. Menjadi radikal bukan berarti kita hidup menyiksa diri dan tidak boleh menikmati kesenangan, tetapi tentang mengaplikasikan secara kuat prinsip kekristenan sejati dalam kehidupan kita. Dalam hidupNya di dunia Yesus selalu berbicara kuat tentang kasih, kerendahan hati dan pengorbanan, sesuatu yang mulai sulit ditemui dalam kekristenan modern. Selama kita masih memegang kuat setiap keinginan pribadi, kita akan susah menjadi radikal.
Sejak mulanya, orang Kristen seharusnya ditakdirkan untuk menjadi radikal. ‘Ekklesia’ yang merupakan akar kata ‘gereja’ berarti kumpulan orang yang dipanggil keluar, artinya dibedakan. Radikal berarti menjadi berbeda dari pola pikir dunia. Dunia tidak akan menjadi lebih baik (2 Timotius 3:1-5). Sebagai orang Kristen, pilihan reaksi kita hanya dua, mengikuti arus atau sebenarnya ini adalah kesempatan untuk menunjukkan perbedaan. Dunia yang baik tidak membutuhkan orang yang radikal. Namun dunia sebenarnya menantikan keradikalan anak-anak Allah (Roma 8:19).
Banyak orang Kristen susah untuk menjadi radikal karena mereka tidak siap untuk hidup menderita atau mereka masih terlalu kuat memegang keinginan pribadi mereka. Ada juga orang Kristen yang mengaku radikal namun sebenarnya mereka takut tidak masuk surga, hanya karena tuntutan moral atau demi dipandang baik orang lain.
Keradikalan seharusnya muncul karena kasih. Kasih harus dibuktikan dengan pengorbanan, bukan dengan kata-kata. Yesus telah memberikan teladan yang luar biasa. Ia membuktikan bahwa Ia dapat bersahabat dengan orang-orang di dunia tanpa bersahabat dengan prinsip dunia. Keradikalan membuat kita mampu untuk hidup melampaui standar dunia karena standar Allah begitu tinggi (Matius 5-7).
Dengan mengakar, pohon akan bertumbuh. Begitu juga manusia dapat bertumbuh hanya jika ia memiliki akar yang kuat. Makin sulit suatu kondisi tanah, pohon akan makin menancapkan akarnya untuk mencari makanan. Begitu juga seharusnya kita. Makin banyak prinsip dunia yang menantang, kita harus makin menancap pada kebenaran Allah.
Hanya karena kita berada di sisi yang berbeda dengan kebanyakan orang tidak berarti kita berada di sisi yang salah. Saat kebanyakan orang berkata, “Ikutlah Yesus, maka kamu akan diberkati” maukah kita berdiri teguh dan mengambil peran yang benar untuk menyangkal diri dan memikul salib kita?
(Gambar dari berbagai sumber)






