Kita sering mendengar pembicaraan tentang hati nurani yang mati. Biasanya itu terjadi waktu kita sering atau bahkan tidak mendengarkan hati nurani kita. Bagi yang tidak tahu mengenai hati nurani, itu ialah suara yang berbicara dalam batin kita mengenai baik dan buruk, benar dan salah, apa yang harus dan tidak boleh kita lakukan. Biasanya suara itu berupa perasaan tidak enak jika kita hendak melakukan sesuatu yang melawan nilai moral yang ada dalam diri kita.
Kata ‘hendak’ penting untuk dimunculkan karena suara hati nurani memang hanya muncul sebelum kita melakukan sesuatu. Jika kita sudah melakukan sesuatu maka perasaan yang muncul biasanya kita sebut dengan penyesalan atau rasa bersalah jika apa yang kita lakukan adalah hal yang salah. Ya, manusia memang memiliki kemampuan untuk membedakan dan memutuskan tentang apa yang baik dan buruk. Langkah kita untuk melakukan apa yang buruk pasti adalah sebuah langkah yang kita ambil setelah kita memutuskan untuk menolak dan tidak menghiraukan suara hati nurani kita. Kemudian, jika kita melakukannya terus menerus, terutama untuk jenis kesalahan atau pelanggaran yang sama, perasaan atau suara itu makin lama akan makin mengecil. Itulah kondisi yang digambarkan banyak orang sebagai kematian hati nurani.
Namun benarkah hati nurani seseorang dapat mati? Bagi saya, jawabannya adalah tidak. Mengecil ya, tapi mati tidak. Mengapa? Jika dianalogikan dalam rumus matematika, maka keadaan mati dapat digambarkan sebagai angka 0 (nol). Mengapa? Karena angka nol jika dikalikan dengan angka berapapun maka ia tetap akan menjadi sebuah angka nol. Ya, angka nol adalah sebuah keadaan kematian, karena usaha apapun tidak dapat mengubahnya menjadi hidup. Namun berbeda dengan hati nurani kita. Ada usaha-usaha yang dapat membuat hati nurani tersebut kembali pulih. Misalnya apa yang kita sebut sebagai usaha pertobatan. Makin kita bertobat dan tidak pernah melakukan perbuatan tersebut lagi, maka suara tersebut akan menguat kembali. Itu akan terbukti saat kita ingin melakukan perbuatan itu lagi setelah jeda waktu yang cukup lama, maka kita akan merasakan perasaan yang sama seperti pertama kali sebelum kita pernah melakukannya.
Selain itu suara hati nurani kita hanya akan makin mengecil untuk kasus yang sama yang sering kita lakukan saja. Misalnya kita terlalu sering mencuri. Suara yang melemah hanya akan berkaitan dengan perbuatan mencuri tersebut. Tapi untuk perbuatan lain, misalnya waktu kita memaki biasanya perasaan tersebut tetap akan kuat, karena kita belum pernah melawan hati nurani kita yang berkaitan dengan perbuatan memaki. Itu adalah alasan kedua mengapa saya berkata bahwa hati nurani kita tidak bisa mati. Karena jika itu mati, maka untuk semua kasus, bahkan untuk hal yang belum pernah kita lakukan ia juga tidak akan berfungsi.
Lalu bagaimana menjelaskan tentang fenomena bahwa kita sulit mendengar suara hati nurani kita setelah kita sering melakukan suatu kesalahan? Saya lebih suka menjelaskan bahwa suars hati nurani tersebut makin mengecil. Jika digambarkan dengan rumus matematika, maka mungkin setiap pelanggaran atau tindakan melawan suara nurani kita adalah sebuah faktor pembagi. Anggap saja kekuatan suara hati nurani adalah sebesar 1 (satu). Maka setiap pelanggaran adalah faktor pembagi 10. Jika kita melakukan pelanggaran satu kali maka suara hati nurani tersebut akan menjadi sepersepuluh (1/10). Jika 10 kali pelanggaran, maka kira-kira suara hati nurani kita akan menjadi 0,000000001. Kecil sekali bukan? Tetapi 0,000000001 bukanlah 0. Ada perbedaan. Bedanya saat ia dikali dengan angka 10000000000. Maka ia akan kembali menjadi 1.
Mengapa kita penting untuk mengetahui hal ini. Bagi saya ini penting supaya kita mengerti bahwa usaha untuk memperbaiki hati nurani itu tidak pernah sia-sia. Jika kita bersungguh-sungguh untuk bertobat maka ia akan kembali menjadi benar. Ya, pertobatan bukan masalah keselamatan. Kita sudah diselamatkan oleh Yesus 2000 tahun yang lalu. Pertobatan adalah mengenai menghadirkan kerajaan Allah dalam kehidupan kita. Buktinya, seruan untuk bertobat selalu berkaitan dengan hal itu (Mat 3:2, Mat 4:17).
Hati nurani adalah wakil Tuhan bagi kehidupan kita. Mengabaikan suaranya berarti mempersilakan kehidupan kita untuk tidak bertumbuh maksimal dan kita tidak merasakan kepuasan hidup. Setiap pelanggaran kita telah diampuni dan ditebus oleh Yesus. Namun setiap pelanggaran kita akan membuahkan konsekuensi dalam kehidupan kita. Minimal adalah kehidupan yang tidak maksimal dan tidak merasakan kepuasan hidup. Mungkin kita merasa ada beberapa ketidakadilan dalam kehidupan kita. Saat kita melakukan pelanggaran ada konsekuensi yang harus kita hadapi. Tapi ada orang lain yang sepertinya tidak pernah merasakan konsekuensi tersebut meskipun dia melakukan banyak pelanggaran. Namun Amsal 24:19-20 berkata bahwa orrang yang berlaku jahat tidak punya masa depan dan pelitanya akan padam.
Kehidupan yang Yesus janjikan waktu Ia menebus dosa kita bukan hanya keselamatan, tetapi kehidupan yang maksimal, berbuah dan penuh kepuasan. Kematiannya membuka peluang itu untuk terjadi dalam kehidupan kita. Namun terjadinya hal itu tergantung dari apa yang kita lakukan. Ketidakpuasan kita akan hidup adalah akibat dari menolak hati nurani kita tersebut karena hati nurani kita pasti akan tetap mengkoreksi, sekecil apapun suaranya.







