Beberapa tahun terakhir, orang-orang khususnya di kota-kota besar mulai sadar dan memperhatikan pola dan porsi makan mereka. Istilah diet yang seharusnya berarti ‘menu makanan’ telah bergeser makna seakan-akan berarti ‘usaha untuk membuat langsing’. Tapi tidak banyak orang yang sadar bahwa kerohanian juga membutuhkan diet.
Pemikiran ini dimulai dari fakta bahwa terjadi peperangan pengaruh di dalam jiwa kita. Roh yang bersifat menuruti kehendak Allah melawan kehendak daging yang telah tertanam di dalam tubuh kita (Mat 26:41, Mar 14:38). Jiwa kita terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak. Di sinilah pusat keinginan, ide, pemikiran, nilai-nilai, prinsip, dan dorongan bagi kehidupan untuk bergerak. Faktanya, apa yang terjadi pada realita kehidupan kita adalah hasil dari setiap proses yang terjadi pada jiwa kita. Sebelum kita melakukan sesuatu, maka jiwa mempertimbangkan segalanya.
Jadi, kemaksimalan hidup kita sebenarnya tergantung dari apa yang terdapat pada jiwa kita. Masalahnya keadaan jiwa kita akan tergantung dari pengaruh mana yang paling kuat, roh (yang terdiri dari kemampuan persekutuan dengan Tuhan, intuisi atau pewahyuan dari Tuhan dan hati nurani) ataukah tubuh (yang terdiri dari hasrat seks, rasa lapar dan reaksi untuk membela diri). Seperti sebuah perumpamaan yang sangat terkenal tentang anjing hitam dan anjing putih yang memperebutkan wilayah, siapa yang menang tergantung dari siapa yang paling diberi makan.
Itulah mengapa memikirkan tentang makanan rohani sangat penting untuk kita. Sama seperti makanan jasmani, setiap yang dimakan oleh roh kita dapat memiliki tiga efek, yaitu meracuni, tidak memiliki efek apa-apa atau bergizi dan membantu pertumbuhan. Mari kita bahas ketiga kondisi yang akan mempengaruhi kualitas rohani kita tersebut.
- Yesus berkata, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap ragi orang Farisi” (Mat 16:6, Mat 16:11, Mat 16:12, Mar 8:15, Luk 12:1). Ragi adalah bahan yang akan mengubah bentuk dan manfaat sebuah makanan. Singkong yang diberi ragi akan menjadi tape. Ragi Farisi akan mengubah setiap Firman yang kita makan menjadi hal yang merusak rohani kita. Ragi Farisi berbicara tentang Mentalitas Agamawi. Seperti kita ketahui, orang Farisi terkenal suka memamerkan ‘ketaatan beragama’nya dan itulah mengapa Yesus sangat membenci mereka.
- Seperti kita ketahui, kematian Yesus telah membuat setiap kutuk yang ada di dalam hukum taurat tidak memiliki efek di dalam hidup kita. Tapi seringkali kita masih merasa bersalah setiap kali melakukan dosa dan sesuatu yang menurut kita melanggar. Bahkan mungkin kita akan merasa bersalah waktu tidak mampu bersaat teduh dengan rutin. Memiliki disiplin itu baik, karena dengan berdisiplin kita akan menerima berkat kehidupan maksimal. Tapi Tuhan sudah tidak mempedulikan lagi dosa-dosa kita. Rasa bersalah kita sering membuat kita takut bertemu Tuhan. Dan inilah racun yang mengganggu kehidupan rohani kita.
- Sama seperti jika kita memakan olahan dari tepung (misalnya cireng, bakso pentol, dan sebagainya) mungkin makanan tersebut mengenyangkan, tetapi tidak bergizi. Matius 13 menceritakan tentang perumpamaan benih. Dan dari situ benih hanya bertumbuh di tanah yang tepat. Dalam kehidupan kita, kekuatiran, nafsu untuk memburu kenikmatan, dll membuat Firman yang kita ‘konsumsi’ tidak mampu membuat efek pertumbuhan bagi roh kita.
- Untuk membuat sebuah benih bertumbuh, ada beberapa proses yang harus kita miliki. Kita sangat mengenal Amsal 4:23 yang berkata bahwa dari hati kita akan terpancar kehidupan. Namun tidak banyak yang menyelidiki bahwa hati kita tidak serta merta memancarkan kehidupan. Ia hanya memancarkan kehidupan jika tahap-tahap di bawah ini terjadi.
- Amsal 4:20 berkata, “arahkanlah telingamu kepada ucapanku” yang artinya kita disuruh memperhatikan kebenaran. Dalam bahasa Inggris digunakan kata ‘pay attention‘. Artinya, untuk dapat ‘mengunyah’ Firman, kita harus belajar untuk memperhatikan. Kita mengetahui bahwa dalam bahasa Inggris ada kata listen dan ada kata hear. Orang yang ‘hear‘ belum tentu menangkap makna dari yang ingin diberikan oleh pengucap. Demikian dengan Firman. Kita harus memperhatikan baik-baik setiap Firman yang ada.
- Amsal 4:21 berkata, “janganlah semuanya itu menjauh dari matamu”. Ini adalah tahap selanjutnya. Sebelum melakukan yang pertama tahap ini tidak akan bisa terjadi. Jika kita memperhatikan Alkitab, Firman Tuhan sering disandingkan dengan kata ‘melihat’. Begitu juga ayat ini berkata bahwa Firman tidak boleh menjauh dari mata. Ini adalah sesuatu yang sangat berbeda dari yang seringkali kita tahu bahwa Firman Tuhan adalah untuk didengar. Padahal Firman Tuhan sebenarnya adalah untuk divisualisasikan. Manusia punya kemampuan untuk memvisualisasikan. Coba tutup mata anda dan bayangkan kata ‘lemon’. Anda bukan hanya akan melihat benda bulat berwarna kuning, tetapi mungkin dapat juga merasakan ‘kecut’nya. Itulah kemampuan kita. Dalam merenungkan Firman, kita harus belajar sampai pada tahap memvisualisasikannya dan bukan hanya membacanya.
- Selanjutnya Amsal 4:21 juga berkata, “simpanlah itu di lubuk hatimu”. Kita tahu bahwa penulis Amsal mengatakan bahwa hikmat (Firman Tuhan) adalah lebih berharga dari emas dan perak. Sesuatu yang berharga tidak mungkin ditaruh di tempat sembarangan. Kita harus mampu memperlakukan Firman Tuhan dengan cara yang benar, bukan cuma membacanya 15 menit sehari pada waktu saat teduh dimana yang kita lakukan hanya membaca renungan harian. Itu bukan salah, tetapi porsinya tidak cukup. Dan tempat menaruh Firman Tuhan yang paling tepat adalah pada hati kita. Hati kita adalah seperti peti harta karun.
- Barulah jika setiap Firman tersebut telah tersimpan di dalam peti harta karun hati kita, maka ia dapat memancarkan kehidupan. Jika peti tersebut kosong, maka tidak akan ada kehidupan yang terpancar. Tanpa dipenuhi dengan Firman, hati anda tidak akan memancarkan apapun.
- Yohanes 4:34 berkata, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Dalam bahasa Inggris digunakan kata “the food that keeps me go” yang berarti bahwa dengan melakukan kehendak Tuhan itu membuat kerohanian Yesus tetap terjaga. Itulah rahasia pelayanan Yesus sehingga dia mampu terus bergerak dan melakukan banyak hal dalam kehidupan banyak orang. Kehendak Allah ialah untuk kita mengasihi. Dan mengasihi menuntut kita untuk mampu mengorbankan hidup kita dan membuat orang lain lebih utama dari diri sendiri (Filipi 2:5-7). Hal ini akan membuat kita menderita. Yesus sendiri memperingatkan bahwa untuk menjadi muridNya ada harga yang berat yang harus dibayar. Penderitaan adalah makanan bagi seorang murid Yesus. Jika kita tidak terbiasa menderita untuk orang lain itu akan membuat hidup kita tidak naik level.
Jarang orang mengetahui bahwa bahasa asli yang digunakan untuk kata hati pada Amsal 4:23 tersebut berarti ‘pikiran, perasaan, kehendak’. Dan itu berarti sebenarnya adalah jiwa kita. Hati kita bukan terletak di area yang sering kita pegang di sekitar dada kita. Itu adalah jantung. Hati kita terletak pada kepala kita. Bagaimana kita mengisi jiwa kita akan mempengaruhi apa yang jiwa kita akan lakukan.
Setiap orang mengetahui bahwa sampai saat inipun bangsa Yahudi adalah penguasa di dunia ini meskipun jumlahnya sedikit. Banyak buku yang sudah membahas tentang hal tersebut. Rahasia mereka terletak pada perintah Tuhan yang berkata, “Renungkan FirmanKu siang dan malam”. Bangsa Yahudi punya kebiasaan pola diet yang membuat roh mereka kuat. Memang Taurat tidak menyelamatkan. Tapi setiap perintah Tuhan memiliki efek berkat yang akan membantu kehidupan kita menjadi berkemenangan.
Setiap kita ingin untuk memiliki hidup yang seperti itu. Dan kita sudah diberikan rahasianya. Pertanyaan selanjutnya adalah, “apakah kita mau melakukannya atau hanya akan menjadi bagian dari hitungan orang yang malas melakukan diet (rohani)?”
(Gambar dari berbagai sumber)








The Leipzic Way | Pertumbuhan Rohani
[…] rohani ialah melakukan kehendak Bapa. Dalam bahasa aslinya, makanan berarti adalah ‘menu makanan‘ atau dalam bahasa Inggrisnya sering disebut diet. Kehendak Bapa ada bermacam-macam dan […]