Ada banyak orang Kristen tidak mengerti bahwa mengikut Kristus tidak pernah hanya tentang berkatnya saja. Sebenarnya Yesus tidak pernah berkata kepada seseorang, “Ikutlah Aku…” dengan sebuah embel-embel “…maka kamu akan diberkati”. Justru sebaliknya, Ia berkata dalam Matius 10:38 “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”
Kenyataannya, dalam mengikut Yesus orang harus lebih siap untuk menderita daripada siap menerima berkat, karena orang yang siap menderita pasti siap menerima berkat, tetapi orang yang siap menerima berkat belum tentu siap menderita. Orang yang mengerti konsep ini akan memiliki paradigma baru dan mengetahui bahwa masalah adalah proses yang baik dalm kehidupannya.
Namun, satu hal yang aku sadari adalah tidak cukup hanya mengerti tentang hal ini dan merasa siap untuk menerima hal yang tidak enak dalam hidup kita. Kita akan dibawa untuk merasakan hal yang tidak enak tersebut. Pada waktu itu seluruh naluri kita akan memberontak dan tidak ingin untuk mengalami hal tersebut. Jika hal tersebut terjadi barulah kita layak untuk dikatakan sedang mengalami proses.
Jadi, jangan harap bahwa jika kita sering mengalami proses yang tidak enak dalam hidup kita maka suatu saat kita akn kebal sehingga kita bisa menjalani proses tersebut dengan tenang. Jika itu terjadi, sebenarnya masalah itu tidak layak disebut proses. Sama seperti seorang atlit, saat ia mulai mampu untuk melahap menu latihannya, maka ia harus mendapatkan menu latihan baru yang lebih berat. Kenyataannya manusia selalu bertumbuh karena rasa sakit yang ia rasa berat (bukan yang ia rasa mampu untuk hadapi). Itulah kenapa Rasul Paulus berkata dalam 1 Korintus 10:13,
Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Pernyataan itu perlu ada karena setiap proses yang benar akan selalu membuat kita merasa tidak sangup dan ingin menyerah. Kemenangan Yesus yang gilang gemilang bukan hanya waktu Ia disalib, tetapi sudah dimulai waktu Ia memutuskan bahwa bukan kehendakNya yang jadi, tapi kehendak Bapa.
Hal yang paling susah dalam menghadapi sebuah proses adalah untuk melakukan reaksi yang tepat. Seringkali itu adalah tentang ego kita. Sesuatu yang bertabrakan dengan apa yang kita ingini. Yesus juga begitu berat untuk tidak menggunakan kuasaNya dan memerintahkan malaikat untuk menggantikanNya atau memerintahkan tubuhNya untuk tidak merasa sakit. Tapi jika itu Ia lakukan, maka Ia gagal. Begitu juga dengan kita. Reaksi kita yang benar berarti adalah sebuah kemenangan. Dan seringkali itu menuntut kita untuk menurunkan ego kita dan merendahkan hati kita. Jangan harap untuk menjadi kebal dan terbiasa dalam menghadapi masalah baru. Karena itu berarti tidak ada pertumbuhan dalam hidup kita. Dan masalah yang tidak menghasilkan pertumbuhan berarti adalah buang waktu.
Seluruh pahlawan Iman yang tercatat dalam Ibrani 11 bukanlah orang yang tidak pernah gagal. Tetapi pada akhirnya mereka memilih jalan untuk mengikuti kehendak Tuhan. Jangan takut gagal. Bukan berarti saat reaksi kita salah berarti kita sudah hancur. Thomas A. Edison berkata bahwa kegagalan adalah saat dimana kita berhenti mencoba. Begitu juga kita. Kebangkitan kita selalu menjadi yang Iblis takuti. Tapi juga jangan gagal terus karena itu akan membuang waktu kita.
Saat kita berdoa untuk meminta kekuatan dari Tuhan bukan berarti masalah tersebut semakin mudah. Juga bukan berarti kekebalan kita terhadap rasa sakit tersebut akan berkurang. Tetapi berdoalah agar sesakit apapun, kita tetap memilih untuk melakukan kebenaran Firman. Itulah yang akan membuat kita menang dan membuat Tuhan bangga seperti Ia membanggakan Ayub.
(Gambar dari berbagai sumber)






Menjadi Radikal, Menjadi Kuat « The Leipzic Way
[…] Rasa Sakit Rohani […]
Menjadi Radikal, Menjadi Kuat « The Leipzic Way
[…] orang Kristen susah untuk menjadi radikal karena mereka tidak siap untuk hidup menderita atau mereka masih terlalu kuat memegang keinginan pribadi mereka. Ada juga orang Kristen yang […]