Adalah sebuah ironi jika membandingkan kondisi manusia yang ideal dengan apa yang terjadi sesungguhnya. Idealnya manusia diciptakan berkuasa. Kejadian 1:26 berkata, “…Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas…” Berkuasa adalah sebuah akibat, karena ditulis setelah kata ‘supaya’. Jika suatu keadaan adalah akibat, maka kita tidak perlu mengusahakan supaya hal tersebut terjadi, namun yang perlu diusahakan adalah sebabnya. Bagaimana maksudnya? Jika kita lapar, maka tujuan kita adalah kita ingin kenyang. Kenyang adalah akibat dari jika kita makan secara cukup. Kita tidak perlu mengerjakan ‘kenyang’nya, tetapi yang perlu dikerjakan ialah makannya.
Pada mulanya, memang manusia diciptakan dengan memiliki mandat untuk berkuasa. Namun mandat supaya manusia berkuasa ini diberikan dengan sebuah kondisi, yaitu saat mereka segambar dan serupa dengan Allah. 2 Korintus 3:18 berkata, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Jadi kekuasaan dan kemuliaan manusia akan muncul tergantung dari seberapa mampu kita mencerminkan Allah, karena memang Allah lah sang empunya kuasa, sebab Dia Maha Kuasa.
Masalahnya dosa telah membuat manusia kehilangan kuasa tersebut. Dalam bahasa aslinya, dosa berarti melenceng dari kehendak Allah. Dosa bukan hanya sebatas pelanggaran hukum. Tapi segala sesuatu yang dilakukan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Itulah mengapa pada “Kotbah di Bukit” di Matius 5-7, Yesus memberikan standar yang lebih tinggi, yaitu berbicara tentang motivasi di balik setiap yang kita lakukan. Membenci berarti sudah membunuh, menafsui berarti sudah berzinah.
Kabar baiknya, dosa telah dikalahkan di atas kayu salib. Kita bukan lagi makhluk yang takluk terhadap dosa, tetapi mampu memiliki kuasa di dalam kebangkitan Kristus. Filipi 3:10 berkata, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” Ada sebuah teologi baru yang diberikan oleh Paulus yaitu kuasa itu akan nyata waktu kita menjadi serupa dengan Dia di dalam kematianNya. Kematian berbicara tentang hancurnya ego kita. Ego berbicara tentang segala sesuatu yang membesarkan keinginan pribadi kita.
Yesus adalah simbol dari ketaatan kepada Allah. Ia taat sampai mati di kayu salib. Filipi 2:8 berkata, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Kita menjadi serupa dengan Allah bukan lagi karena diri kita, tetapi karena kehadiran Yesus dalam diri kita. Seberapa besar Yesus hadir dalam diri kita tergantung dari seberapa besar kita taat kepada Allah. Rom 8:29 berkata, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.“
Untuk mampu taat kepada Allah kita tidak mungkin menggunakan cara-cara dunia. Kita membutuhkan cara-cara Allah. Roma 12:2 berkata, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Sebelum pribadi kita diubahkan, pola pikir kita terlebih dahulu butuh diubahkan. Ini membutuhkan proses dari sehari ke sehari. Menjadi sempurna bukan berarti tidak boleh gagal. Justru kadang kegagalanlah yang membuat kita tidak ingin gagal lagi. Akhirnya kita mencapai sukses. Kuasa akan otomatis muncul waktu manusia tidak mementingkan diri sendiri (baca: membangun kerajaan sendiri) tetapi melakukan gaya hidup Kerajaan Allah.
Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna. ~ Matius 5:48
(Gambar dari berbagai sumber)










