Ada sebuah penelitian yang mengambil subyek kumpulan kera. Anggap saja ada lima ekor kera yang ditaruh dalam sebuah kandang, dengan sebuah tiang yang cukup tinggi di bagian tengahnya. Di atas tiang tersebut terdapat pisang-pisang yang siap dimakan. Namun, setiap kali seekor kera mencoba naik tiang tersebut, ia dihalangi dengan cara disemprot sehingga tidak bisa naik. Demikian seterusnya sampai kera-kera tersebut menyerah dan tidak ada yang berani naik lagi. Kemudian penelitian berlanjut dengan mengganti seekor kera dengan kera lain yang tidak pernah mengalami insiden penyemprotan itu. Penggantian tersebut dilakukan sampai lima kali (semua kera diganti dengan kera yang tidak pernah disemprot) secara bergantian satu persatu. Pertanyaannya, apakah kera tersebut berhasil mengambil pisang?
Ternyata jawabannya tidak ada kera yang berani mengambil pisang tersebut. Ternyata kera-kera tersebut sangat setia kawan, sehingga waktu ada kera baru yang ingin mengambil pisang tersebut, ia dihalangi oleh kera-kera lain yang pernah disemprot. Begitu seterusnya. Bahkan yang parah, kera yang tidak pernah disemprot pun setelah ia dihalangi oleh kera lain dan diberitahu bahwa ia akan disemprot, ia ikut menghalangi kera baru yang ingin mengambil pisang tersebut sampai kelima kera telah berganti.
Kera adalah binatang yang ditengarai sebagai makhluk yang paling mirip dengan manusia, termasuk kinerja otaknya. Itulah mengapa mereka sering digunakan sebagai uji terakhir sebelum sebuah produk diujikan ke manusia dan selanjutnya dilepas ke pasaran. Kita mungkin berpikir bahwa tidak mungkin seorang manusia akan melakukan hal bodoh seperti itu. Mungkin benar jika kita mengajukan tes ini ke manusia modern, apalagi yang tinggal di kota. Bagaimana jika diajukan kepada seseorang yang sejak dilahirkan tidak menerima pembelajaran apapun dalam hidupnya? Maka mungkin saja ia akan mengambil keputusan serupa, karena level pengalamannya setara dengan kera-kera tersebut.
Bagaimana otak manusia bekerja? Sebuah studi dari Profesor Bioengineering dari Universitas Leicester, Rodrigo Quian Quiroga artikelnya (Nature Reviews Neuroscience) mengatakan bahwa otak kita mengambil sebuah keputusan untuk bereaksi terhadap sebuah stimulus dengan mengevaluasi aktifitas dari jutaan neuron yang menyimpan data dalaam waktu singkat. Kita tidak perlu berpikir 100 kali sebelum memutuskan untuk lari jika berhadapan dengan seekor singa.
Neuron dalam otak manusia berisi data yang mencatat pengalaman yang pernah terjadi dalam hidupnya. Oleh karena itu dalam memproses keputusan, otak manusia selalu menggunakan metode ‘decoding‘ yaitu memproses berdasarkan apa pernah dia alami sebelumnya. Jika kita tidak pernah mendapatkan informasi bahwa singa itu berbahaya, maka mungkin saja kita tidak akan lari jika bertemu seekor singa. Selain itu, dalam membuat keputusan, neuron-neuron yang berisi data akan saling terkoneksi sehingga data yang ada dapat saling terkoneksi dan membentuk sebuah informasi. Informasi ini yang akan menjadi landasan bagi keputusan yang diambil. Metode ini juga ditiru dalam teknik pemrograman yang membantu kehidupan manusia seperti Data Mining, dan sebagainya.
Dari penjelasan di atas kita mengerti bahwa keputusan kita dipengaruhi oleh apa yang pernah kita alami sebelumnya. Itulah mengapa tiap manusia dapat mengalami pola pikir yang berbeda dalam menanggapi sebuah masalah dan dapat memutuskan hal yang berbeda terhadap masalah yang sama. Kedua, kita harus mengerti bahwa sebagian besar proses pengambilan keputusan tidak diambil dalam proses alam sadar kita, melainkan proses bawah sadar. Kita tidak pernah mengambil keputusan untuk bernapas atau mendetakkan jantung kita, juga tidak membesarkan pori-pori tubuh saat suhu lingkungan kita cukup panas. Semuanya dilakukan berdasarkan sebuah stimulus dan diputuskan dalam alam bawah sadar kita.
Alam bawah sadar berarti adalah kondisi dimana kita tidak menyadari bahwa kita sudah mengambil sebuah keputusan. Pertanyaannya, apakah kita juga mengambil keputusan-keputusan penting yang menentukan masa depan kita di dalam alam bawah sadar kita? Kemungkinan besar jawabaannya ialah ‘ya‘! Jika demikian, apa yang harus dilakukan?
- Sebelum benar-benar mengambil sebuah keputusan evaluasilah baik-baik keputusan tersebut (Amsal 25:8). Apakah kita mengambilnya secara tergesa-gesa. Hal ini penting dilakukan terutama untuk hal-hal yang menentukan masa depan kita, misalnya mengenai jurusan apa yang akan kita ambil untuk kuliah, pekerjaan kita, pasangan hidup kita dan sebagainya.
- Jangan mengambil keputusan saat emosi kita sedang berbicara, karena pada waktu kita emosi, sulit untuk menyaring informasi yang masuk dan reaksi yang kita keluarkan. Ada kemungkinan besar bahwa kita akan menyesal di kemudian hari. Amsal 22:24-25 berkata bahwa emosi akan menjadi jerat bagi kita.
- Karena ada kemungkinan besar keputusan kita diambil dalam alam bawah sadar kita, maka kita harus mengerti dan mulai mengambil langkah untuk tidak hanya mengasah otak alam sadar kita, tetapi juga bawah sadar kita. Bagaimana caranya? Teruslah berlatih. Seseorang ahli beladiri bisa memiliki reaksi sepersekian detik dalam mengeluarkan jurus untuk mengantisipasi lawan karena ia berlatih. Ia mengambil keputusan dalam alam bawah sadarnya. Itulah mengapa penulis Amsal sangat sering mengajak kita untuk begitu menghargai hikmat dan pengertian (Amsal 4:5-9).
- Ajarkan apa yang kita sudah mahir kepada orang lain. Dengan mengajarkan, seseorang akan membuat sebuah informasi akan tetap up to date dalam hidupnya. Waktu seseorang memikirkan tentang sebuah hal, maka neuron-neuron yang berkaitan dengan hal tersebut akan terkorek dan berada di urutan paling depan. Hal ini mirip konsep menu ‘recently used‘ yang ada di komputer kita. Makin sering kita mengajarkannya, ia akan makin up to date. Bahkan membuka kemungkinan kita mampu mengasahnya menjadi lebih tajam.
- Pengertian adalah sesuatu yang didapatkan akibat pengalaman pribadi kita. Tiap masalah adalah pengalaman pribadi yang akan terus mengasah kita. Makin sering kita menghadapi sebuah masalah, seharusnya kita akan makin mahir asal kita mendapat pengertian yang benar. Seseorang ahli beladiri dalam hidupnya akan terus melatih dan mengerti bahwa jurus A cocok digunakan untuk menghadapi serangan X, jurus B untuk serangan Y dan jurus C untuk serangan Z. Begitu juga kita seharusnya terus mengasah dan memasukkan pengertian yang benar sehingga kita tahu reaksi apa yang tepat untuk masalah tertentu.
Pola pikir kita sangat menentukan keputusan apa yang akan kita ambil. Keputusan kita akan menentukan masa depan kita dan kualitas kehidupan kita. Menjaga baik-baik pola pikir kita dan terus mengasahnya (Roma 12:1-2) kita akan membuat kita mampu untuk menjadi orang yang maksimal dalam kehidupan kita.








