Sejak awal manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26). Hal ini membuat manusia memiliki keisitimewaan dibandingkan dengan seluruh ciptaan yang lain. Bahkan bisa dikatakan bahwa manusialah yang menyempurnakan keberadaan ciptaan yang lain, sebab memang seluruh ciptaan yang ada dibuat sebagai faktor pendukung keberadaan manusia. Bayangkan mengapa Allah butuh menciptakan terang, kemudian cakrawala, kemudian darat, laut dan udara baru kemudian tumbuhan, hewan dan yang terakhir manusia. Bayangkan jika proses tersebut terbalik atau tidak berurutan.
Di satu sisi hal ini berarti bahwa sebenarnya memang manusia adalah makhluk yang sangat rentan. Tanpa keberadaan seluruh keteraturan alam semesta, maka manusia tidak dapat hidup. Tetapi kasih Allah telah membuat manusia menjadi makhuk yang istimewa dengan memberinya kekuasaan atas ciptaan yang lain. Namun tidak hanya terbatas pada hal itu, penciptaan manusia segambar dan serupa dengan Allah memiliki banyak dampak bagi kehidupan manusia.
Pertama, manusia benar-benar mampu dan memiliki sifat-sifat Allah. Buktinya, Allah maha kuasa, demikian juga manusia diciptakan berkuasa. Allah maha hadir, demikian juga manusia selalu hadir dan membutuhkan kehadiran orang lain. Allah maha tahu, demikian juga manusia selalu ingin mencari tahu atas segala hal yang ada (Amsal 25:2). Allah maha kasih, demikian juga manusia memiliki sifat saling mengasihi. Allah maha kaya, demikian juga manusia diberi hak untuk kaya, bukan hanya secara materi. Seluruh sifat-sifat Allah turun dalam diri seorang manusia meskipun termanifestasi secara terbatas karena manusia hidup dalam dimensi yang berbeda dari Allah.
Kedua, ada satu sifat Allah yang secara khusus dibahas, yaitu maha pencipta. Bahkan Dorothy Sayers berkata bahwa untuk mengerti konsep trinitas kita dapat melihat 3 sifat Allah sebagai Pencipta. Pencipta selalu mengawali dengan ide (bahkan saya percaya bahwa Ia adalah pencipta yang detail yang tidak hanya sekedar tahu gambaran besar kemudian berfirman dan kemudian jadi), menjalankan dengan ekspresi dan mengakhiri dengan pengakuan (Ia mengakui bahwa semua ciptaanNya adalah baik). Ide yang sejak awal ada adalah manusia diciptakan untuk dikasihi. Ekspresi kasih tersebut muncul dalam diri pengorbanan Yesus. Pengakuan tersebut berasal dari Roh Kudus.
1 Korintus 12:3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.
Ketiga, Allah butuh menciptakan manusia segambar dan serupa denganNya agar Ia dapat berhubungan dengan kita. Bayangkan jika kita ingin mencoba berhubungan dengan salah satu hewan, bahasa apa yang kita gunakan? Namun karena kita memiliki sifat-sifat Allah, maka kita dapat berhubungan denganNya. Namun, Allah tidak ingin hanya sembarangan berhubungan. Ada beberapa tingkat kedewasaan dalam hubungan dengan Allah. Contohnya, di seluruh Perjanjian Lama, hubungan Allah dengan bangsa Israel adalah antara Tuan dan hamba. Israel hanya sekedar melakukan hukum dengan janji bahwa mereka akan diberkati dan jika melanggar akan terkena kutuk. Sedangkan Abraham sendiri disebut sahabat Allah karena ketaatannya.
Pengorbanan Yesus telah membuat kita kembali kepada kodrat awal kita sebagai anak Allah. Kisah Para Rasul 15:10 berkata bahwa tidak ada seorangpun yang mampu untuk mencapai standar hukum Taurat. Namun kita yang percaya kepada Yesus layak untuk memanggil Dia Bapa. Setiap jati diri (esensi keberadaan) manusia dikembalikan, dari yang dulunya disia-siakan (hilang oleh ketidaktaatan) Adam, maka sekarang dikembalikan (oleh ketaatan Yesus sebagai Adam kedua, 1 Korintus 15:22,45).
Manusia hidup dengan ego. Jangan tertipu dahulu dengan kata-kata ini. Tidak ada yang salah dengan sebuah ego. Definisi ego sendiri adalah:
Ego adalah struktur psikis yang berhubungan dengan konsep tentang diri, diatur oleh prinsip realitas dan ditandai oleh kemampuan untuk menoleransi frustasi. Ego terikat dalam proses berpikir sekunder -mengingat, merencanakan, dan menimbang situasi yang memungkinkan kompromi antara fantasi dari id dan realitas dunia luar. Ego meletakkan dasar untuk perkembangan yang disadari tentang perasaan diri sebagai individu yang berbeda. (Diambil dari wikipedia)
Jadi ego adalah cara pandang manusia tentang dirinya sendiri, dengan kata lain ego adalah gambar diri manusia. Yang menjadi masalah adalah waktu manusia menjadi egois, yaitu kondisi dimana segala sesuatu berpusat dari diri sendiri. Misalnya, untung dan rugi diukur berdasarkan tentang apa yang mengenakkan dirinya sendiri. Sejak manusia jatuh dalam dosa, manusia memiliki sifat egois, segala pencapaian akan kesuksesannya diukur dari cara pandangnya sendiri. Memang Allah membebaskan manusia untuk memiliki kehendaknya sendiri, hal itu karena kasih tidak akan terjadi dan tersampaikan tanpa adanya kebebasan. Allah memang sengaja mengekang diriNya untuk mengatur segala hal dalam diri manusia, karena tanpa itu, maka konsep bahwa Allah mengasihi manusia hanyalah omong kosong belaka.
Egoisme kita merusak ego (gambar diri) kita, karena ia membuat semua nilai-nilai yang mendasari kehidupan manusia berubah. Seharusnya manusia hidup untuk memenuhi kehendak Allah (meskipun Allah memberi kehendak bebas dalam hidup manusia). Namun dengan hidup seperti itu, manusia tidak akan pernah merasakan kepenuhan hidupnya. Artinya, sekaya apapun dia, sehebat apapun dia, sepandai apapun dia, dia tidak akan merasakan sukacita kehidupan yang sejati. Selalu ada ruang kosong yang hanya dapat dipenuhi oleh hal-hal Illahi. Allah telah memberikan segala kekayaan dunia untuk manusia kuasai. Oleh karena itu seharusnya bukan itu yang kita kejar. Tetapi yang harus kita kejar adalah kehendak Allah.
Egoisme hanya dapat dikalahkan dengan mendedikasikan hidup kita untuk orang lain. Makin kita hidup untuk (mengasihi) orang lain, makin egoisme kita hancur. Dan jika egoisme kita lemah, maka ego (gambar diri) kita akan semakin pulih. Sebab egoisme kitalah yang merusak gambar diri kita. Dan sebenarnya saat kita hidup untuk orang lain, maka kita sedang menggenapi kehendak Allah dalam hidup kita.
If you only seek God for your own sake, you will never find Him, eventhough He is so near ~ Victor Julian Lipesik
(Gambar dari blogspot.com)








Keberdayaan vs Kebergantungan Manusia
[…] Itulah yang terus kita alami bukan? Beberapa tulisan saya sebelumnya tentang kejatuhan manusia (1, 2) sudah cukup menjelaskan tentang hal ini. Dengan alasan idealisme orang muda, saya menggebu-gebu […]