Ada sebuah perkataan yang berbunyi demikian, “Kesempurnaan Seorang Pria dan Keserupaan dengan Kristus adalah Hal Yang Sama.” Artinya jika seorang pria ingin mencari kualitas apa yang perlu dia miliki, maka jawabannya dengan mudah dapat dikatakan terdapat pada karakter-karakter yang Yesus Kristus munculkan selama Ia hidup di muka bumi. Ada 8 alasan mengapa Yesus harus turun ke muka bumi. Salah satunya memang untuk menebus dosa manusia. Tetapi Ia juga datang untuk mengajarkan dan memperkenalkan kebenaran. Itulah mengapa Ia harus hadir dan menjadi teladan. Karena itu, tulisan ini akan menjadi awal bagi tulisan-tulisan selanjutnya yang akan membahas tentang teladan dari karakter Kristus yang harus pria mahir lakukan dalam hidupnya.
Inisiatif memiliki dua arti penting yang perlu kita ketahui. Pertama, inisiatif berarti kemampuan untuk mulai melakukan sesuatu tanpa disuruh orang lain. Kedua, inisiatif adalah kemampuan untuk mengambil alih tanggung jawab sebelum orang lain melakukannya. Kita melihat hal ini dalam kehidupan pelayanan Yesus. Dalam segala hal, Yesus hanya melakukan sesuatu jika Ia mendapat perintah langsung dari BapaNya. Dan seringkali dalam melakukan mujizat-mujizat, Ia tergerak oleh belas kasihan yang tentunya didorong oleh pekerjaan Roh Kudus.
Replikasi sebuah sifat dapat terjadi waktu ada kedekatan. Saat kita akrab dengan sesuatu, sifat-sifatnya tiba-tiba tersalur kepada kita. Misalnya, saat kita mempunyai seorang artis idola. Secara tidak sadar, kita meniru gaya berbusananya, gaya berbicara, atau yang lain. Atau mungkin kita memiliki teman akrab. Mungkin kita secara tiba-tiba dapat menyukai hal yang sama, padahal sebelumnya tidak. Ini terjadi karena keakraban menghasilkan keterbukaan. Demikian juga dengan Yesus. Ia dapat memiliki semua sifat dan karakter Illahi karena Ia dekat dengan BapaNya dan selalu mengandalkan tuntunan Roh Kudus. Tuhan adalah Allah yang kreatif. Ia selalu memiliki sifat dinamis. Kedekatan Yesus dengan BapaNya menghasilkan inisiatif untuk melakukan kreatifitas BapaNya.
Inisiatif tidak dapat dikondisikan oleh sebuah keadaan. Ini adalah sesuatu yang mengalir keluar dari dalam hati kita. Salah satu hal yang dapat memicu inisiatif adalah karena adanya tujuan. Yesus mampu berinisiatif karena Ia tahu jelas apa tujuan yang dikehendaki BapaNya. Setiap pagi, Yesus berdoa untuk memastikan tujuanNya tetap selaras, bahkan Ia berdoa supaya Ia tahu dengan tepat apa yang Ia harus lakukan hari itu. Salah satu hambatan dalam inisiatif adalah ketakutan: takut ditolak, takut salah, takut gagal, takut malu, dan sebagainya. Namun, dengan menyadari bahwa tujuan kita adalah hal yang benar dan penting, ini akan memberikan keberanian lebih dalam mencoba melakukan.
Karena itulah, inisiatif lebih mudah dilakukan jika kita memiliki motivasi yang benar. Tidak ada motivasi yang lebih benar daripada motivasi untuk mengasihi. Kasih melenyapkan ketakutan. Dalam Roma 12:6-8 dijelaskan tentang karunia-karunia motivasi. Ini adalah karunia untuk melakukan pekerjaan yang lahir dari inisiatif yang didasari motivasi untuk melakukan kasih: bernubuat, melayani, mengajar, menasihati, memberi, memimpin dan belas kasihan. Kita dapat mengenali lebih dalam karunia-karunia mana yang cenderung lebih kuat ada dalam diri kita dan kemudian melatih dan mengusahakannya terus dalam kehidupan kita. Selamat berlatih!








