*) Dipublikasikan pada Progress News SMCC Edisi Juli 2011
Jika kita mencari di internet tentang kepriaan atau ‘manhood’, maka ada beberapa artikel yang muncul di ‘top ten result’-nya yang berjudul atau berisi tentang ‘womanizer’. Jika kita mendengar kata ini, mungkin kita akan teringat dengan lagu Britney Spears yang berjudul sama. Lagu ini kira-kira bercerita tentang bagaimana citra seorang playboy di mata wanita. Fakta ini merupakan wakil dari banyak fakta lainnya tentang bagaimana subyek ini telah memiliki suatu makna yang sangat negatif.
Padahal jika kita merujuk kepada sumber kata pria, kita akan menemukan suatu hal yang mencengangkan tentang bagaimana seharusnya pria berfungsi. Kata pria atau man berasal dari bahasa Latin dan Sansekerta ‘vir’. Kata ini memiliki relasi kuat dengan kata dalam bahasa Inggris ‘virtue’ yang berarti kebajikan. Kata ini berelasi dan berimplikasi terhadap kekuatan fisik dan terutama moral.
Artinya, seharusnya jika kita berbicara tentang pria, maka kita berbicara tentang kemampuannya untuk berbuat sesuatu. Kata virtue sendiri secara mendasar berelasi terhadap keberanian, pengaruh, kualitas, integritas dan kinerja. Berapa banyak di antara kita benar-benar memahami dan mampu melakuan hal-hal di atas?
Mungkin anda termasuk orang yang pernah berkata dalam hati, “Mengapa pria selalu dituntut?”. Ternyata tuntutan itu tidak salah alamat. Sejak awal mulanya, pria dijadikan untuk melakukan hal-hal tersebut di atas. Semua hal di atas merujuk kepada satu kata yang mewakili, yaitu Pemimpin! Ya, pria ditakdirkan untuk menjadi pemimpin, dan pemimpin akan selalu dituntut untuk menghadirkan teladan. Itulah mengapa, bagi pria yang merasa tuntutan tersebut berat, Tuhan menyediakan wanita sebagai penolong untuk menjalankan tugasnya.
Sehingga, jika kita ingin diakui sebagai seorang pria, maka ada konsekuensi yang tidak terelakan bagi kita untuk dilakukan, yaitu mengambil tanggung jawab untuk memimpin. Hal ini berarti karya nyata bagi sekeliling kita. Sebuah karya nyata yang lahir dari kekuatan (baca: potensi atau talenta) yang Tuhan telah tanamkan dalam diri setiap kita untuk melakukan perkara-perkara besar bagi sekeliling kita.
Karya nyata tersebut telah Tuhan Yesus peragakan, yaitu tentang bagaimana kepriaan seharusnya berfungsi. Ia menyelesaikan tugasNya dengan sangat sempurna. Sebuah tugas yang secara langsung Ia terima dari BapaNya, demikian juga seharusnya seorang pria!
“You seek the heights of manhood when you seek the depths of God.“
— Edwin Louis Cole









Nice one.nice description