Salah satu komitmen yang saya coba hidupi pada tahun ini adalah memiliki waktu khusus untuk bersyukur pada Tuhan tiap hari. Dasar terkuat untuk melakukannya adalah kesadaran bahwa dalam tiap waktu sebenarnya selalu ada hal yang pantas disyukuri kepada Tuhan.
Bersyukur adalah suatu bentuk reaksi yang sama dengan berserah. Jika kita pikir salah satu cara untuk memperlakukan Tuhan yang paling baik adalah dengan berserah, sebenarnya bersyukur juga. Bersyukur adalah tanda/tindakan dari orang yang percaya kepada Tuhan sebagai Pribadi yang lebih tinggi, agung, kuat dan mampu mengendalikan hidup yang kita sebagai manusia tidak mampu lakukan.
“When life is sweet, say thank you and celebrate. And when life is bitter, say thank you and grow.”
~ Shauna Niequist
Quote di atas telah membuka pandangan saya bahwa selalu ada alasan untuk bersyukur. Setelah beberapa waktu melakukannya, saya merasa banyak manfaat yang didapatkan. Berikut adalah beberapa hal yang saya temukan tentang manfaat melakukannya bagi kehidupan saya.
Bersyukur Membuat Kita Lebih Dekat Dengan Tuhan
Mazmur 100:4 berkata, “Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!”. Jika kita hendak menemui orang yang kita kasihi, biasanya kita tidak lupa membawa sesuatu, terutama jika sudah pergi dari jauh. Seseorang bisa membawa bunga, atau oleh-oleh, tetapi saya pastikan itu adalah sesuatu yang disukai oleh orang tersebut.
Bahkan untuk masuk dalam hadirat Tuhan, kita perlu membawa ucapan syukur. Dari analogi di atas, saya tahu bahwa ucapan syukur adalah hal yang menyenangkan hati Tuhan. Sebenarnya itu adalah oleh-oleh terbaik dari “perjalanan” kita. Tidak ada salahnya anda membaca artikel saya yang lain yang menjelaskan bahwa kita bisa bersyukur setiap waktu.
Artikel tersebut akan membukakan mata kita betapa besar anugerah yang Tuhan sudah berikan dalam hidup kita, bahkan dalam hal rutin yang terjadi setiap detik dalam hidup kita. Jadi, jika kita masih kesulitan mencari alasan untuk bersyukur, maka mungkin mata kita telah dikelabuhi oleh hal yang salah yang telah membutakannya.
Bersyukur Memantik Sukacita yang Merupakan Sumber Kekuatan
Filipi 4:13 berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Bagaimana Rasul Paulus dapat memiliki kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi penderitaan yang ia alami? Rupanya resep tersebut terletak tidak jauh. Filipi 4:4 berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” Bersukacita adalah hal sederhana.
Dalam kamus Rasul Paulus, bersukacita tidak memiliki teori/cara untuk mencapainya. Lihat saja, ayat ini adalah salah satu ayat terpendek di Alkitab. Artinya, tidak ada kiat-kiat khusus yang dapat dilakukan untuk bersukacita. Itulah mengapa ia perlu ulangi dua kali. Saat kita membaca kalimat pertama mungkin kita berkata, “Tunggu sebentar, bagaimana caranya?” Dan Rasul Paulus berkata, “Tidak ada! Bersukacitalah saja!” Bersukacita adalah hal yang paling dasar. Tidak ada hal yang melandasinya.
Tetapi rupanya rasa syukur adalah saudara kembar dari sukacita. Begitu kita bersyukur, maka sukacita juga akan datang menghampiri kita. Coba praktekkan sendiri dan rasakan bahwa rasa sykur kita akan menghadirkan suckacita yang sekonyong-konyong membawa kekuatan bagi kita untuk menghadapi kehidupan.
Bukan saja kebahagiaan yg mjadikan kita bersyukur tapi bersyukur justru akan mbuat kita berbahagia. Penuntut dan pengeluh sukar berbahagia!
— Cornelius Wing (@CorneliusWing) July 30, 2014
Bersyukur Adalah Cara Untuk Menghilangkan Racun Kerohanian (Detoksifikasi Rohani)
Amsal 17:22 berkata “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” Tentunya ayat ini sudah sangat kita kenal. Tetapi benarkah kita sudah mahir mempraktekkannya?
Ada banyak racun rohani yang siap menerkam kita. Mungkin kita merasa gagal. Mungkin kita dikhianati. Mungkin kita diremehkan orang lain. Mungkin kita putus asa. Sama seperti penyakit jasmani yang makin banyak jenisnya pada zaman modern ini, penyakit rohani juga semakin banyak. Iri hati, dendam, amarah, sirik, dan sebagainya.
Racun-racun ini jika dibiarkan akan menggerogoti tubuh rohani kita. 1 Korintus 6:19 berkata, “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu…” Ada banyak orang menggunakan ayat ini jika berbicara tentang kotoran jasmani, merokok misalnya. Tetapi ayat ini justru secara spesifik menunjuk pada kotoran-kotoran rohani.
Bersyukur secara ajaib akan menghilangkan racun-racun tersebut seolah-olah kita habis mengalami sebuah proses detoksifikasi rohani. Betapa besar dan ajaib Allah kita pada waktu menganjurkan kita untuk selalu bersyukur. Bukankah bersyukur seringkali menjadi penutup dari sebuah proses yang menyakitkan dalam hidup kita? Dari bersyukur kita akan menemukan alasan mengapa sebuah proses harus terjadi dan dari situ membuat hidup kita bertumbuh.










