*) Dipublikasikan pada Progress News SMCC Edisi Agustus 2014
Adalah sebuah fakta bahwa setiap orang mendambakan kesuksesan. Terutama bagi kebanyakan kaum pria, kesuksesan seperti menjadi ajang pembuktian tentang keberadaannya. Banyak pria merasa rendah diri karena merasa belum sukses. Kabar baiknya, Allah juga menginginkan kita sukses. Ia telah menginvestasikan segala sesuatu bagi kita, hikmat, keterampilan, akal budi, serta banyak kemampuan lainnya, bahkan Ia telah memberikan Yesus yang merupakan milikNya yang paling berharga bagi kita. Namun jika kita tidak merasa demikian, mungkin ada pola pikir yang perlu kita ubah.
Allah menciptakan manusia dan memberikan sebuah takdir bagi mereka untuk berkuasa (Kej 1:26). Uniknya, takdir tersebut (baca: perintah) tidak sendirian diberikan, tetapi juga disertai dengan perintah untuk regenerasi dan dengan itu memenuhi bumi. Dan manusia diciptakan untuk beregenerasi dengan cara berpasangan (Mat 19:6). Tentunya jika Allah sudah menentukan demikian, maka itu pastilah cara yang terbaik.
Dalam artikel Pria pada Progress News Edisi April 2012, saya sempat membahas tentang hubungan yang sangat spesial ini. Rupanya Allah memang telah memiliki alur pemikiran dimana bumi dipercayakan untuk dikuasai oleh manusia yang bersatu dengan pasangannya. Namun hal ini memiliki satu syarat, yaitu KESATUAN.
Karena manusia bersatu, segalanya menjadi mungkin, contohnya adalah peristiwa menara Babel (Kej 11:6). Namun sebaliknya, hal ini juga menjadi senjata utama iblis untuk menggagalkan rencana Allah terjadi di muka bumi. Iblis yang sudah dilucuti kuasanya seperti sangat susah dilawan karena sebenarnya manusia gagal bersatu.
Manusia diciptakan dengan hakekat untuk bersatu. 1 Yoh 5:17 tentang pribadi Allah, Kej 11:6 tentang potensi manusia, Yoh 17:21 tentang doa Yesus bagi murid-muridNya, Kis 2:42-47 tentang gaya hidup jemaat mula-mula, 1 Yoh 3:10 tentang sifat anak Allah. Dan masih banyak ayat lain yang dapat memberikan kesimpulan kepada kita bahwa kegagalan untuk bersatu mengakibatkan kegagalan untuk sukses.
Maka untuk menjadi satu adalah sebuah seni yang mulai langka yang perlu dipelajari oleh setiap orang. Modal utama dari kesatuan adalah komunikasi. Kata komunikasi masih memiliki hubungan dengan kata ‘communion’ yang berarti kesatuan. Sehingga untuk memecah belah sebuah kumpulan (bangsa, grup, jemaat, dll) yang perlu dikacaukan adalah komunikasinya. Kej 11:6 tentang peristiwa Menara Babel menjadi contoh yang jelas.
Jika boleh disimpulkan, komunikasi adalah segala sesuatu yang dilakukan pada waktu orang sedang bersatu (berkumpul). Maka, komunikasi bukan hanya masalah kata-kata, tetapi juga intonasi, postur tubuh, raut muka, dll. Namun apapun bentuknya, komunikasi adalah sesuatu yang kita lepaskan dan berikan kepada orang lain. Sehingga untuk mahir dalam berkomunikasi, maka kita perlu menempatkan orang lain sebagai fokus dari pemikiran dan tujuan kita. Tanpa hal tersebut kita pasti gagal.
Filipi 2:1-8 adalah sebuah perintah yang diberikan bagi jemaat tentang masalah ini. Tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia, rendah hati, menganggap yang lain lebih utama dari dirinya sendiri, tidak hanya memperhatikan kepentingan sendiri, mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba, taat kepada Allah adalah modal bagi kita untuk bersatu.
“Coming together is beginning, keeping together is progress, working together is success” ~ Henry Ford










