Kita semua tahu bahwa pada akhir zaman orang akan mencintai dirinya sendiri. Artinya akan makin banyak orang mengutamakan dirinya sebelum orang lain. Nubuatan ini makin menjadi kenyataan dengan makin kuatnya budaya perkotaan. Jika kita ingin melihat contohnya, paling mudah adalah saat melihat perilaku pengendara di tengah kemacetan. Contoh lain adalah apa yang orang lakukan kepada tetangganya. Jika di desa jarak antar rumah mungkin berjauhan, tetapi mereka semua saling mengenal dan memperhatikan. Bandingkan dengan di perumahan, terutama kompleks dengan rumah-rumah besar dan bahkan lebih parah mungkin di bangunan apartemen.
Tentu saja ini bertentangan dengan apa yang Yesus ajarkan. 2 Timotius 3 menjelaskan gambaran manusia di akhir zaman. Rasul Paulus menjelaskan dalam poin-poin berikut:
- Mencintai diri sendiri dijadikan sepaket dengan menjadi hamba uang. Artinya orang yang mementingkan diri sendiri akan otomatis mengejar uang. Ini bukan pilihan, melainkan hubungan sebab akibat. Orang yang menjadi hamba uang tidak mungkin mampu untuk mengasihi dengan benar.
- Membual dan menyombongkan diri jelas terjadi karena ia ingin dipandang lebih utama dari orang lain. Itulah mengapa ia merasa perlu mempromosikan dirinya. Orang tipe ini perlu dikasihani karena ia sadar bahwa dirinya rendah sehingga perlu dipromosikan. Sayangnya tidak ada yang mau mempromosikan sehingga ia mempromosikan dirinya sendiri.
- Orang akan menjadi pemfitnah karena mereka tidak ingin posisi amannya terganggu. Jadi, akan lebih mudah untuk mengorbankan orang lain daripada dirinya sendiri.
- Orang menjadi pemberontak karena ia sulit tunduk dengan otoritas. Mengapa? Karena ia merasa bahwa tidak ada yang lebih benar daripada pandangannya sendiri.
- Kita baru akan berterima kasih setelah menerima pertolongan orang lain (dari bentuk yang paling sederhana sampai yang paling susah). Orang yang menolong orang lain pastinya memiliki kekuatan (pada sisi tertentu) yang lebih dari pada yang ditolong. Perbuatan berterima kasih selalu menempatkan posisi diri sendiri lebih rendah dari orang lain. Itulah sebabnya orang yang mencintai diri sendiri susah berterima kasih.
- Hanya orang yang disakiti hatinya yang butuh berdamai. Orang yang tidak mau berdamai pasti punya satu pikiran yang sama, yaitu ia tidak rela orang yang menyakiti hatinya tersebut terbebas. Padahal justru dirinya yang tidak bebas. Itu sama seperti mengikat beban berat di leher kita dan membawanya kemana-mana.
- Biasanya orang yang menjadi target penjelekan seseorang adalah orang yang dirasa lebih hebat daripada dirinya. Artinya, ia tidak ingin ada orang yang lebih hebat dari dirinya.
- Suka berkhianat juga adalah ciri khas yang makin jelas saat ini. Dahulu, orang berani mati untuk membela sahabatnya. Tetapi sekarang orang bisa menikam kawan atau bahkan berpindah-pindah kubu, tergantung mana yang lebih membuat dirinya enak.
- Yang saya heran, Rasul Paulus bisa memprediksikan bahwa akan makin banyak orang yang berlagak tahu. Dan memang bukankah kita sering menjumpai orang seperti ini? Orang yang berlagak tahu akan segala sesuatu sepertinya akan terlihat hebat di depan orang lain. Mungkin setidaknya sekali dalam hidup kita pernah mengeluh terhadap orang lain tentang hal ini.
- Agama berbicara tentang tata aturan. Orang yang tidak mempedulikan agama jelas adalah orang yang tidak ingin diusik egonya. Mereka lebih menuruti hawa nafsu daripada Tuhan. Biasanya mereka akan susah untuk mengekang diri sendiri.
Tetapi ada sebuah praktek yang jika dilakukan maka ia sebenarnya sudah mempraktekkan mengasihi sesama, yaitu mendengarkan. Dalam bahasa Inggris, mendengar menggunakan kata hear, tetapi mendengarkan menggunakan kata listen. Perbedaannya adalah pada hal “memberi perhatian”. Orang bisa mendengar apa yang orang lain katakan tetapi sebenarnya tidak menaruh perhatian akan apa yang dikatakan. Akibatnya, mereka melewatkan pesan penting dari apa yang dikatakan.
Pada saat kita mendengarkan (listen) orang lain, maka perhatian kita sebenarnya sedang tertuju pada orang lain. Hal ini akan secara otomatis membuat kita lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Misalnya saja, mungkin praktek ini akan membuat kita harus menghentikan aktifitas yang kita lakukan sejenak untuk mampu mendengarkan dengan baik.
Kelihatan sederhana, namun jika kita renungkan mungkin kita sadar bahwa kita sering luput untuk mendengarkan pihak selain diri kita sendiri. Padahal jika kita renungkan lebih dalam, kemampuan kita untuk mendengarkan akan membuat kita terhindar dari 10 praktek di atas. Karena standar mengasihi pada Matius 22:37-40 (yang katanya adalah rangkuman dari seluruh isi Alkitab) berarti mengasihi Tuhan dan sesama, berarti kita harus belajar mendengarkan Tuhan dan sesama lebih daripada diri sendiri.
Dan aktifitas mendengarkan memang bukan hal yang enak. Sebagai lanjutan, Rasul Paulus juga mengingatkan Timotius pada 2 Timotius 4:3 bahwa akan ada waktunya orang akan memilah dan memilih apa yang ia siap dan ingin dengarkan. Yaitu, apa yang memenuhi keinginannya dan melenggangkan apa yang ingin ia lakukan (versi Amplified). Versi Message mengatakan bahwa perkataan ini adalah spiritual junk food, yaitu makanan yang tidak menyehatkan rohani kita.
Bayangkan jika anda ingin melakukan sesuatu dan orang lain melakukan hal lain yang bertentangan dengan anda. Tidak mudah bukan untuk melepaskan mereka dengan alasan bahwa pasti tiap orang memiliki pemikiran sendiri-sendiri? Namun, mendengarkan orang lain juga berarti siap untuk membebaskan orang lain melakukan hal yang mungkin bertentangan dengan keinginan kita. Selamat mencoba!
Filipi 2:1-8, “… dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga …”
*) Saya tidak sadar bahwa tulisan ini ditulis tepat pada hari kasih sayang. Semoga dengan ini kita makin mengerti arti kasih sayang yang sesungguhnya, dan bukan hanya berfokus pada ekspresinya saja.
(Gambar dari berbagai sumber)









