“Kadang mengasihi berarti tetap memutuskan untuk terjun ke dalam jurang, meskipun kita tahu di sana menanti batu-batu tajam yang akan menyakiti kita. 😀 Thanks God for letting me experience this..”
Ini adalah status di Facebookku hari ini. Dan, hal inilah yang kurasakan, kualami, harus kulakukan. Bukan sekali, bukan dua kali, tapi berkali-kali. Kenapa menggunakan kata harus? Karena memang tidak ada orang yang suka untuk disakiti. Tapi hal itulah yang harus kulakukan. Mengapa? Karena aku sudah memutuskan untuk mengasihi. Mungkin tidak banyak detail yang bisa kuceritakan, tapi satu hal yang ingin aku bagikan adalah, saat kita mau untuk melakukannya, kita akan memiliki kekuatan tersendiri untuk menjalaninya.
Kasih bukanlah perasaan, tapi kasih itu keputusan. Dalam mengasihi tidak ada penghakiman, yang ada hanyalah penerimaan. Bagiku yang seorang perfeksionis dan seorang koleris, bukanlah hal yang mudah untuk memelihara sebuah perdamaian ataupun kasih. Aku orang yang sangat mudah untuk mengembangkan sikap bertentangan dengan orang lain, dan aku punya 1001 macam cara untuk menang. Tapi, saat hal itu terjadi dengan orang yang aku kasihi. Aku tahu dan kuputuskan bahwa aku tidak bisa melakukannya.Bahkan, seperti status di facebookku, meskipun aku tahu bahwa apa yang aku lakukan akan membawa ketidaknyamanan dalam hidupku, akupun tetap memutuskannya. Hal ini mungkin yang Tuhan Yesus lakukan waktu Ia menebus dosa manusia, meskipun jika dibandingkan sama seperti setitik air di dalam samudera. Tapi, Â ya, Ia tetap melakukannya meskipun Ia tahu Ia akan mengalami penyiksaan terberat yang tidak pernah dibayangkan seorang manusia.
“To love means to trust. To love means to ensure the best for that people. To love means not focusing to ourselves, not selfish. To love means to bring a space for that people to do something. To love never means to make that people to be like what we want.”
Ini adalah status lain di Facebookku. Ya, itulah yang akhirnya aku putuskan untuk lakukan. Tidak memikirkan diri sendiri, bagaimana yang terbaik untuk diriku, tapi untuk dirinya. Yah, semoga dengan apa yang aku lakukan, akan mengubah diriku yang egois ini menjadi orang yang lebih mengerti apa itu kasih, yaitu dengan mencoba untuk melakukannya.
(Gambar dari kompas.com)






