Setiap orang memiliki kebiasaan. Masalahnya, tidak semuanya baik. Dan faktanya, kebiasaan akan terus menyertai kita bahkan menentukan masa depan kita. Dengan kata lain, jika kita ingin memiliki masa depan yang baik, kita harus memiliki kebiasaan yang baik.
Kekuatan Kebiasaan
Dari video di atas, ada sebuah pelajaran yang dapat kita petik. Kita tahu bahwa sebagai atlet, pekerjaan mereka adalah berlatih. Dalam American Football, dapat dikatakan semua atlet akan berlatih bahwa saat pemain lawan berkata ‘hut‘, maka itu tanda bahwa tim lawan akan berusaha menyerang dengan cara membawa bola menuju daerah gawang.
Kekuatan dari kebiasaan akan membuat kita memiliki reaksi yang sangat cepat dalam melakukan sesuatu. Misalnya dalam seni / olahraga beladiri. Refleks terbentuk karena banyaknya latihan yang dijalani sehingga sebuah jurus dapat keluar secara otomatis pada saat ada suatu gerakan dari lawan.
Namun dalam video di atas, tim putih melakukan sesuatu di luar kebiasaan. Tim kuning, sesuai dengan latihan yang dijalani akan mengira bahwa tim putih akan berlari membawa bola menuju area gawang mereka. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Tindakan out of the box dari tim putih membuat tim kuning kebingungan untuk sesaat. Inilah yang dimanfaatkan untuk mengelabuhi tim kuning.
Bagaimana Memiliki Kebiasaan?
Desmond Douglas adalah salah satu atlet tenis meja dari Inggris yang terkenal akan reaksinya yang begitu cepat. Namun pada saat dites, sebenarnya kemampuan reaksi Desmond sebenarnya adalah yang paling rendah dibandingkan rekan-rekan setimnya.
Apa yang terjadi? Latihanlah yang membuat Desmond bisa memiliki kemampuan begitu hebat waktu bertanding. Bahkan sebenarnya ini satu-satunya resep yang dimiliki atlet untuk menjadi hebat. Semua atlet terhebat memiliki latihan jauh lebih keras dari lawan-lawannya.
Latihan membuat kita terprogram untuk melakukan sesuatu. Tanpa latihan, sebuah aktifitas akan ditangani oleh bagian otak yang bernama prefrontal cortex yang akan membuat suatu pekerjaan lebih lambat. Hal ini karena kita akan melakukannya dalam kondisi sadar. Dalam kondisi sadar, kita akan cenderung lebih berhati-hati, karena takut salah.
Lihat saja pada video di atas. Kondisi akan berbeda jika pemain tim putih tidak membawa bola sambil berjalan. Jika ia berlari, maka seluruh tim kuning akan secara otomatis dalam waktu sepersekian detik bereaksi sesuai latihannya untuk menjatuhkan pemain yang membawa bola.
Segala sesuatu yang kita lakukan terus menerus akan menjadi kebiasaan dalam hidup kita. Penelitian mengatakan bahwa untuk dapat melatih kebiasaan, seseorang perlu melakukan sesuatu secara terus menerus selama 21 hari berturut-turut tanpa gagal. Misalnya kita ingin menghentikan merokok. Maka kita tidak boleh merokok dalam 21 hari berturut-turut.
Tetapi penelitian yang lebih baru juga mengatakan bahwa untuk membuat suatu kebiasaan memiliki efek jangka panjang, maka kita harus melakukannya dalam 66 hari berturut-turut. Maka, jika setelah 21 hari tersebut kemudian kita berhenti, bisa saja kita kembali kepada kebiasaan lama, atau apa yang baru kita latih akan hilang.
Dalam kasus para atlet, untuk dapat menguasai suatu teknik, seseorang perlu berlatih selama 10.000 jam. Hal yang sama juga terjadi untuk para seniman. Jadi yang membuat seseorang hebat sebenarnya bukan bakatnya. Memang tiap orang dilahirkan dengan bakat yang berbeda dengan kadar yang berbeda juga. Tetapi atlet dengan bakat terhebat pun akan kalah dengan atlet yang berlatih jauh lebih keras darinya.
Untuk memanfaatkan kekuatan kebiasaan dalam hidup kita, kita harus berlatih dan terus berlatih. Inilah mengapa, seorang pensiunan marinir Amerika mengatakan bahwa sekalipun ia sudah tidak lagi bertugas di barak, ia tetap memutuskan bangun setiap harinya jam 3.30 dan melakukan beberapa rutinitas latihan. Ia tahu bahwa begitu ia berhenti melatih kebiasaannya maka hidupnya akan ikut berantakan.







