Manusia yang terdiri dari tubuh, jiwa dan roh tentu saja dalam hidupnya tidak terluput dari peristiwa yang disebut ‘sakit’. Waktu sakit, tidak jarang kita jadi tidak produktif dalam kehidupan. Jika berkepanjangan bukan tidak mungkin itu membuat kehidupan kita menjadi tumpul karena sulitnya untuk menjalankan aktifitas yang mengasah potensi-potensi kita. Sama seperti tubuh; jiwa dan roh juga dapat mengalami masa sakit. Bedanya, terdapat kondisi-kondisi dimana kesembuhan jasmani bisa dipengaruhi atau disebabkan oleh kondisi jiwa dan roh. Amsal berkata bahwa hati yang gembira adalah obat.
Namun, bagaimana jika yang sakit adalah jiwa? Maka kuncinya terletak pada roh. Oleh karena itu, roh kita tidak boleh sakit. Menjaga kesehatan rohani, maknanya tidak mungkin kalah penting daripada menjaga kesehatan jasmani. Kita bersedia mengeluarkan biaya (yang mungkin cukup besar) untuk kesehatan jasmani kita, maka tentunya kita tidak boleh menyepelekan, atau kalau boleh dibilang kita harus menaruh perhatian penting bagi kesehatan rohani kita.
Jika kita menyelidiki kitab Pengkhotbah yang ditulis oleh Raja Salomo, maka kita mendapat sebuah pelajaran berharga tentang ringkasan kehidupan. Kita semua tahu bahwa ia adalah orang yang paling bijaksana, dan dengan itu membuatnya menjadi paling kaya, paling berkuasa dan paling bahagia. Sebentar! Jika anda mempertanyakan tentang poin ‘paling bahagia’ maka anda sedang membaca tulisan ini dengan teliti. Ya, dalam seluruh bagian di kitab Pengkhotbah, Raja Salomo sangat sering mengucapkan kata sia-sia. Memilki hikmat, bersenang-senang, membangun, berkuasa, keadilan, nasib, hidup, penindasan, bekerja keras, menjadi kaya, semuanya adalah sia-sia.
Waktu kita berhenti sejenak dan merenungkan hal ini, mungkin kita akan mendapatkan satu poin dimana kita akan berkata bahwa jika Raja Salomo yang ‘memiliki segalanya’ saja berkata bahwa segala sesuatu adalah sia-sia, maka mengapa saya harus mengejar sesuatu yang sebenarnya dari pengalaman orang lain itu adalah sia-sia? Ada sebuah kalimat bijak yang berkata bahwa orang bodoh mengulangi kesalahan sendiri, orang pintar belajar dari kesalahannya, tetapi orang bijak belajar dari kesalahan orang lain. Maka satu hal penting yang perlu kita renungkan adalah dalam hidup ini sebenarnya apa yang kita kejar?
Tentunya tiap orang berbeda-beda. Tetapi jika berkaca dari apa yang dikatakan oleh sang Pengkhotbah, maka kita tahu bahwa hidup kita akan jadi tidak sia-sia jika kita menjalani seluruh hidup kita sesuai tanggung jawab yang diberikan oleh Sang Pencipta kita. Hanya dengan cara itu kita bisa menikmati hidup kita tanpa merasa hampa. (Pengkhotbah 3:13, 3:22, 5:18, 2:24, 2:26). Di dalamnya terdapat aktifitas seperti hidup tanpa kuatir (4:6), membangun hubungan (4:9), berbagi (4:9), bekerja dan tidur (5:12) dan menikmati hidup (6:2).
Maka jika boleh disimpulkan, untuk menjaga kesehatan rohani kita perlu untuk mengejar kemaksimalan hidup kita di hadapan Sang Pencipta. Mengutip penulis Katekismus Westminster, maka hidup kita adalah tentang memuliakan Dia dan menikmati diriNya secara utuh (kutipan menggunakan kata-kata saya sendiri). Dua poin tersebut sebenarnya akan menjadi standar yang baik untuk mengevaluasi setiap aktifitas kita. Misalnya, jika kita bermalas-malasan, tentu kita tidak memuliakan Dia, tetapi sebaliknya jika kita workaholic, maka tentu saja kita tidak bisa menikmati Dia dalam hidup kita.
Selanjutnya, Matius 6:21 berkata bahwa di mana harta kita berada, di situlah hati kita berada. Sedangkan Amsal 4:23 berkata bahwa dari hati kita terpancar kehidupan, maka bagaimana kita menempatkan harta kita akan menentukan bagaimana hidup kita berjalan. Jika kita memiliki mentalitas pengumpul, maka hati kita hanya akan berpusat pada diri kita sendiri. Mentalitas pengumpul berbicara tentang suatu standar bahwa kebahagiaan diukur dari apa dan seberapa banyak yang kita dapatkan atau miliki. Bukankah hal ini cukup banyak menjangkiti manusia di zaman modern ini?
Baru saja kita dihebohkan oleh seorang Warga Negara Indonesia yang mengajukan permohonan uji materi terhadap undang-undang Eutanasia (suntik mati secara tenang) dengan alasan tidak kuat menghadapi tekanan kehidupan. Tanpa bermaksud untuk menghakimi, saya pikir salah satu alasannya adalah karena pola pikir yang salah ini.
Mentalitas pengumpul bukan masalah ingin menjadi kaya, tapi ini berbicara tentang suatu sifat yang mengutamakan diri sendiri di atas yang lain. Yesus selalu membandingkan diriNya dengan Mammon karena ia pada dasarnya bukan berbicara tentang uang, tetapi mentalitas untuk bergantung pada apa yang dimiliki.
Mentalitas harus dilawan dengan mentalitas. Yesus mengajarkan kita untuk memberi bukan tanpa alasan. 2 Korintus 8:13-15 mengatakan bahwa memberi menghasilkan keseimbangan. Jika kita ingin roh kita sehat maka memberi adalah gaya hidup yang wajib untuk dipraktekkan. Sebenarnya dalam seluruh aspek hidup, kita selalu menerima untuk melepaskannya kembali. Kita makan dan mengeluarkannya kembali, kita menghirup napas dan menghembuskannya kembali. Bayangkan jika kita tidak mengeluarkan apa yang masuk dalam tubuh kita!
Melepaskan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita. Pengkhotbah 3:11 berkata bahwa segala sesuatu dijadikanNya indah pada waktunya. Kita semua mengamini hal tersebut. Tapi tidak tahukah kita, bahwa waktu yang indah tersebut baru datang setelah seluruh proses menerima dan melepaskan yang terdapat pada ayat-ayat sebelumnya?
Jika kita mahir untuk melepaskan, maka kita akan memiliki hidup yang ideal, karena menahan sesuatu lebih lama dari yang seharusnya justru akan menimbulkan sakit penyakit dalam hidup kita. Menahan kenangan buruk lebih lama menimbulkan kepahitan, begitu juga menahan berkat lebih lama dari seharusnya akan membuat kita sakit secara rohani.









Sangat terberkati dengan artikel ini. Thanks for sharing and write down it 😀 saya suka dua paragraf penutup terakir . semoga juga bisa jadi berkat untuk orang lain yang membaca.