(Guest post by Gheeto T.W. / arahbola.org)
Selalu tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Jawaban-jawaban yang muncul akan menimbulkan banyak peluang untuk munculnya banyak pertanyaan yang lain. Ada beberapa usulan jawaban:
- Tuhan mengizinkan – kelihatan masuk akal. Namun apakah sebelum Tuhan memberi izin, Ia sudah tahu sebelumnya? Kalau belum, kok bisa Tuhan yang Maha Tahu tidak mengerti apa yang Ia izinkan? Kalau sudah tahu, maka Ia pemberi izin yang payah. Kok kejahatan yang demikian Ia izinkan?
- Tuhan membiarkan – bagaimana mungkin Ia membiarkan, di mana pertanggungjawabannya sebagai Pencipta? Kenapa dibiarkan? Mungkin Anda menjawab,”ya, salah manusia sendiri yang keras, maka Tuhan biarkan…”. Tapi apakah Tuhan itu reaktif terhadap tindakan manusia? Di mana kekuasaan-Nya? Lalu, apakah sebelum pemberontakan manusia Ia tidak tahu?
- Tuhan menetapkan – wah berarti Ia adalah aktor intelektual dari semua kejahatan yang ada di dunia. Jahatnya Dia, kok, menetapkan yang jahat pada manusia. Walau jawaban ini kelihatan kejam, namun kalau dipikir-pikir, kalau tidak dalam penetapan Tuhan? Lalu dalam penetapan siapa kejahatan kok bisa terjadi? Setan? Kalah dong Tuhan bisa kecolongan oleh setan. Apalagi solusi keselamatan di dalam Kristus sudah Ia tetapkan di dalam kekekalan. Buat apa Kristus ditetapkan untuk datang menebus dosa, kalau Allah sendiri masih belum tahu manusia akan berdosa atau tidak?
- Salah manusia sendiri yang memulai kejahatan. Betul. Manusia bertanggungjawab penuh atas kejahatannya. Tapi sewaktu Tuhan ciptakan manusia apakah Ia sudah tahu bahwa akan begini hasilnya? Kalau sudah tahu, kok dibiarkan? Kalau Allah belum tahu, di mana kemahatahuan-Nya?
- Setan merusak rencana Tuhan – ini juga masuk akal, sih… kelihatannya. Tapi, seberapa besar, sih, setan itu sampai kesempurnaan rencana-Nya bisa dirusak setan? Jangan-jangan Tuhan tidak sekuat yang kita duga. Kalau setan dapat merusak karya Allah, saya jadi ragu untuk memercayakan hidup pada-Nya. The Almighty dikalahkan setan, betapa lemahnya Dia kalau begitu.
Dari sekian banyak argumentasi, semua merupakan argumentasi manusia yang berdosa. Tidak ada argumentasi yang sempurna. Dan seringkali Tuhan menjadi pihak yang “bersalah” dalam argumentasi kita. Namun yang saya tahu Ia berdaulat & berkuasa penuh atas setiap detail, mulai yang kita anggap kecil sampai yang kita anggap besar. Dari hal yang kita anggap baik hingga yang terlihat sangat kejam. Yang saya tahu, bahwa saya tidak tahu dengan sempurna apa yang Tuhan tahu. Terlalu banyak komentar malah jadi sok tahu. Ketika tidak mau mengertipun salah juga, karena termasuk golongan cuek yang tak mau tahu.
Jadi yang kita tahu adalah: Ia berdaulat penuh dan segala yang terjadi di dalam rancangan-Nya yang mulia. Solusi bagi kejahatan manusia sebenarnya sudah terselesaikan di Kalvari. Ujung-ujungnya segala kemuliaan adalah bagi Tuhan.
Segala hal yang buruk dan jahat seperti kejahatan Herodes, Firaun, dosa Daud, penipuan Yakub, kegagalan Musa, juga sikap seenaknya Simson, pengkhianatan Yudas, penyangkalan Petrus, ternyata tanpa mereka sadari, sedang mengerjakan kemuliaan-Nya. Demikian pula kekejian Hitler, Hiroshima & Nagasaki, bom Bali, dan segala aksi kejahatan seakan menunjukkan ketiadaberdayaan Allah dan kemenangan setan. Namun semua terjadi bukan karena Allah sedang lengah, namun semua adalah “baik” di mata-Nya yang merancang peradaban dari kekal hingga kekal. Ujung-ujungnya, Soli Deo Gloria.
Banyak hal yang saya tidak tahu. Yang bisa saya lakukan adalah memercayakan hidup pada-Nya. Believe, trust and entrusted my live, di dalam dunia yang nampak serba tak pasti di dalam karya rancang-Nya yang sempurna dan pasti.







