Terlalu banyak orang yang takut atau ngeri terhadap topik keselamatan. Kebanyakan yang takut pasti tidak memiliki keyakinan akan keselamatan dirinya. Namun tidak banyak yang tahu bahwa mereka memiliki pola pikir terhadap keselamatan yang salah. Meskipun saya pernah menulis tentang hal ini di blog saya sebelumnya, namun ada hal baru yang perlu kita mengerti tentang keselamatan, yaitu sebuah langkah selanjutnya dari kehidupan setelah kita diselamatkan.
Jika anda membaca blog tersebut, anda akan mengerti bahwa keselamatan yang Allah maksud adalah berkaitan dengan pemulihan hubungan kita denganNya. Pengorbanan Yesus telah memberikan sebuah kesempatan bagi kita untuk hidup dalam pola yang baru, yaitu sebuah perjianjian baru yang sama sekali berbeda dengan perjanjian yang dimiliki oleh bangsa Israel. Mengenai hal ini kita bisa mencari dan menemukan di seluruh surat-surat yang ada di Perjanjian Baru.
Perjanjian dalam bahasa aslinya menggunakan kata covenant yang kira-kira berarti “Kesepakatan dari 2 belah pihak atau lebih dimana masing2 pihak berjanji dengan sumpah dan dimeteraikan dengan darah untuk melakukan bagian masing2 untuk mencapai tujuan tertentu.”
Sumber dari segala kerusakan manusia adalah rusaknya hubungan dengan Allah. Roma 1:21-32 menjelaskan bahwa setelah manusia jatuh dalam dosa, mereka tidak lagi memiliki gambaran yang benar tentang Allah. Hal ini menyebabkan mereka kehilangan jati diri dan tujuan hidup mereka. Kehilangan kedua hal ini menyebabkan manusia kehilangan kualitas hidup. Kehilangan ini bukan disebabkan oleh dosa, tetapi akibat dari rusaknya hubungan dengan Allah.
- 2 Petrus 1:3-4. Petrus sendiri adalah rasul yang memiliki penekanan yang kuat terhadap pengenalan karena ia sempat menyangkali bahwa ia mengenal Yesus waktu Ia hendak disalib, sebelum ayam berkokok. Petrus berkata bahwa pengenalan akan Tuhanlah yang mengakibatkan hidup saleh. Cara lepas dari dosa bukan dengan fokus melawan dosa, tapi fokus pada kodrat illahi. Kita tidak akan bisa menang melawan dosa dengan kekuatan sendiri. Kita bukan berusaha untuk melawan dosa. Tetapi karena kita telah ditebus (diperbaharui menjadi manusia baru), yang kita lakukan semata adalah kita menjalani hidup yang baru, hidup yang tidak takluk terhadap kuasa dosa.
- 2 Petrus 1:5-8 “Iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara2, kasih akan semua“. Banyak orang berpikir ini berbicara tentang level, padahal ini bukan level, tapi semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk jadi sempurna. Tapi untuk mempraktekkannya tidak bisa langsung, tapi harus dicicil (ditambahkan). Pada poin pertama telah disebutkan bahwa untuk menang terhadap dosa kita perlu berfokus pada kodrat illahi. Apa yang ada di poin 2 inilah kodrat ilahi. Kata ‘hidup yang kekal’ bukan hanya berbicara hidup yang selamanya. Ia menggunakan kata ‘zoe‘ yang berarti hidup yang maksimal dengan dipimpin oleh Roh. Jika kita membiarkan diri dipimpin oleh Roh, maka buah roh akan muncul dalam hidup kita.
- Kuncinya terletak pada penyerahan diri kepada tuntunan Roh Kudus. Bandingkan waktu kita berusaha melawan dosa. Kelihatannya usaha ini adalah usaha yang suci, illahi. Padahal waktu kita melawan dosa, kita sebenarnya sedang tidak menggunakan kekuatan Tuhan dan cenderung menggunakan kekuatan diri kita sendiri. Bukan berarti kita membebaskan diri kita pada dosa. Kuncinya terletak pada fokus kita. Sama seperti jika dulu kita adalah gelandangan, fokus kita adalah sampah-sampah yang mungkin di dalamnya terdapat makanan. Tapi waktu kita menjadi seorang bangsawan, seharusnya fokus kita berubah.
- 1 Yohanes 2:16, versi The Message: “Practically everything that goes on in the world—wanting your own way, wanting everything for yourself, wanting to appear important—has nothing to do with the Father. It just isolates you from him“. Ternyata waktu kita berfokus pada keinginan daging (yang merupakan produk dosa), maka itu mengisolasi (memisahkan) kita dari Tuhan. Ada 3 praktek kesombongan, yaitu:
- Keinginan daging (wanting your own way). Yaitu keinginan untuk melakukan segala sesuatu menurut kehendak kita. Kita harus tahu bahwa kelahiran baru membawa sebuah konsekuensi. Menjadi manusia baru berarti menjadi manusia yang ada di dalam Tuhan dan Tuhan di dalam kita. Keinginan Tuhan tercangkok dalam diri kita. Jika kita tidak menuruti keinginan Tuhan, maka berarti kita sedang tidak menjalani kehidupan baru kita.
- Keinginan mata (wanting everything for yourself). Ini berbicara tentang keinginan untuk memiliki segala sesuatu. Rasul Paulus bahkan pernah bergumul tentang hal ini dalam Roma 7. Kita punya kecenderungan untuk berkeinginan memiliki sesuatu. Bukan tidak boleh mengingini sesuatu, tetapi dalam hidup baru kita, kita harus belajar untuk menyelaraskan keinginan kita terhadap keinginan Tuhan. Dan keinginan Tuhan selalu berbicara tentang jiwa-jiwa, hidup untuk orang lain dan mengasihi orang lain.
- Keangkuhan hidup (wanting to appear important). Jelas sekali hal ini berbicara tentang kesombongan, karena kita ingin agar dianggap penting oleh orang lain. Sebenarnya dianggap penting adalah konsekuensi dari hidup maksimal kita. Bayangkan waktu hidup kita berdampak dan memberkati orang lain, maka kita tidak perlu melakukan apapun, orang lain akan mencari kita. Karena kita adalah saluran berkat dari Tuhan.
1 Yohanes 1:3 berkata bahwa fokus pemberitaan injil adalah supaya orang mendapat bentuk persekutuan yang sama yang kita miliki dengan Allah. Fokus pemberitaan Yesus yang berkata , “Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat” juga bukan untuk menakuti orang Israel bahwa mereka akan masuk neraka. Yesus hanya menjelaskan bahwa ada sebuah kesia-siaan untuk berusaha mengikuti hukum Taurat, karena bahkan hukum taurat sendiri hanya bayangan dari kesempurnaan Allah. Kesempurnaan Allah jauh lebih tinggi standarnya daripada Taurat. Matius 5:48 sebenarnya berkata bahwa kita harus memiliki hidup yang sempurna, yaitu hidup waktu kita dipulihkan dan lahir baru di dalam Yesus. Hanya Yesus yang mampu mengantar kita untuk memiliki hidup yang sempurna.
Keselamatan menghasilkan pengenalan. Hidup bebas dari dosa adalah bukti bahwa kita sudah diselamatkan. Hidup kita adalah tentang pembuktian dan latihan untuk menjadi bagian kerajaan Allah. Jangan mengejar keselamatan. Tapi hidupilah keselamatan itu, karena keselamatan sudah kita dapatkan di dalam Yesus Kristus. Bukti bahwa kita terus hidup meskipun kita sudah selamat berarti bahwa ada suatu kehidupan yang indah yang dijanjikan Tuhan untuk kita jalani, yaitu kehidupan dalam pengenalan akan Dia. Waktu hubungan kita dipulihkan, maka jati diri dan tujuan hidup kita juga dipulihkan. “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10) Kita hanya dapat melakukan pekerjaan baik (maksimal) dan menggenapi seluruh jati diri dan panggilan hidup kita di dalam hubungan yang intim dengan Tuhan.








