Ada beberapa tipe orang jika digolongkan berdasarkan bagaimana sikap hati mereka di hadapan Tuhan. Pertama adalah orang yang malas berurusan dengan Tuhan. Kedua adalah orang yang percaya Tuhan tapi tidak sepenuhnya, dan akhirnya masih menggabungkan Tuhan dengan kepercayaannya yang terdahulu. Ketiga adalah orang yang percaya dengan Tuhan dan melakukan semua apa yang Dia mau, tapi hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Dan yang terakhir adalah orang yang berkomitmen untuk menyerahkan segala aspek kehidupannya untuk Tuhan, segala yang ia punya untuk Tuhan.
Kalau digolongkan lagi, maka ada 2 kelompok, yang satu besar yang satu kecil. Yaitu, kelompok orang-orang yang mementingkan dirinya sendiri dan Tuhan hanyalah untuk memberkati dirinya sendiri, yang terdiri dari kelompok satu sampai tiga dan kelompok yang benar-benar tahu bagaimana memperlakukan Tuhan, yaitu kelompok yang ke-empat.
Mungkin tidak akan dibahas secara mendetail bagaimana ciri-ciri dari masing-masing kelompok, tapi yang ingin aku katakan adalah bagaimana cara kita memperlakukan Tuhan akan sangat mempengaruhi pola dan perilaku kita. Dan inilah yang ingin aku bagikan kepada semua orang yang membaca, tentang apa yang aku rasakan akhir-akhir ini.
Bagi diriku yang sudah tahu tentang Tuhan sejak dari lahir, susah banget untuk bisa menjadi kelompok orang yang ke-empat. Karena adalah sebuah kebiasaan bagi aku untuk menjadi ‘anak alim’, justru aku tidak pernah mengalami pertobatan yang heboh banget. Istilahnya pertobatan 180 derajat. Paling-paling aku tahu kalau aku berdosa tapi yang aku lakukan kecil-kecil, dan biasanya dosa-dosa yang tidak merugikan orang lain. Rasa bersalahnya lebih sedikit, gitu kira-kira.
Sampai baru saja, akhirnya setelah 23 tahun, aku mengerti bagaimana pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib buat aku. Dan aku memutuskan untuk mengikuti Tuhan, karena Dia telah memberikan hidupNya untuk menebus dosaku dan membeli aku dari kerajaan kegelapan. Dalam waktu 2 bulan terakhir, seluruh pola pikirku aku ubah. Terutama tentang masalah pekerjaan. Sekarang aku tahu bahwa pekerjaanku adalah melakukan apa yang Tuhan mau, karena Dia yang telah membeli aku, berarti aku adalah hambaNya. Dan aku memutuskan untuk mengikuti saja rancangan Tuhan dalam hidupku, dan stay on His project.
Saat Tuhan Yesus tertinggal di bait Allah pada waktu berumur 12 tahun, ia berkata kepada orang tuanya “Tidak tahukah kamu bahwa Aku harus tinggal dalam rumah BapaKu…” Dalam bahasa Inggrisnya, “Tinggal dalam rumah Bapaku” ditulis sebagai “I must stay on My Father’s business”, kira-kira grammarnya begitu. Tapi, ‘My Father’s business’ inilah yang benar-benar aku renungkan, yaitu Tuhan punya satu proyek yang benar-benar merupakan hatiNya. Yaitu memuridkan jiwa-jiwa. Itu yang Tuhan mau.
Ada 2 hal yang harus kita kerjakan, yaitu memuridkan dan terus mencari jiwa-jiwa. Mungkin tentang detailnya sudah pernah aku bahas di posting-posting sebelumnya atau mungkin suatu saat akan aku bahas lagi. Tapi intinya adalah, kita harus tahu secara benar bagaimana cara memperlakukan Tuhan. Karena Dia adalah pribadi yang sangat layak untuk menerima tempat yang paling terhormat yang bisa kita beri dalam hidup kita. Yaitu sebagai Tuhan, yang dalam bahasa aslinya adalah Kurios, yang berarti penguasa tunggal.





