Kekristenan tidak berbicara tentang agama, tata cara ibadah, teori, doktrin atau bahkan politik. Seharusnya kekristenan adalah gaya hidup dan menjadi gaya hidup. Ia bukan sekedar agama, namun sebuah pengalaman hidup bersama Seorang Pribadi.
Kisah Para Rasul 11:26 “Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.”
Ada 3 kata kunci yang harus diperhatikan pada ayat tersebut. Yang pertama adalah tinggal bersama-sama, yang kedua murid-murid, ketiga adalah Kristen. Jika murid-murid tersebut tidak tinggal bersama-sama maka tidak ada kata Kristen. Mengapa? Matius 28:19-20 mengatakan bahwa tugas murid-murid tersebut adalah mengajarkan apa yang diajarkan oleh Yesus. Dan hidup bersama adalah teladan yang diberikan oleh Yesus. Selama pelayananNya (yang singkat itu) Ia tidak terlalu pusing untuk membuat mujizat, ia lebih suka bersama murid-muridNya. Bahkan Ia benar-benar sendiri hanya waktu berdoa.
Mengapa harus bersama-sama? Jawabannya terletak pada sebuah proses yang merupakan kunci pelayanan Yesus. Pemuridan! Yesus tidak menggoncang dunia. Skala pelayananNya hanya Galilea, Yudea dan Samaria. Murid-muridNya yang melakukannya. Ia tidak pernah putus asa dalam menaruh kepercayaan pada mereka. Buktinya, setelah Ia bangkit, ia sama sekali tidak mengungkit pemberontakan mereka, bahkan Ia membangkitkan iman mereka.
Jadi apa yang spesial dengan pemuridan? Jawabannya terletak pada kata multiplikasi dan pewarisan. Itulah cara kerja Allah. PerintahNya yang pertama terhadap manusia adalah untuk beranak cucu (multiplikasi) dan dengan itu berkuasa. Kerajaan Allah akan makin besar dengan bertambahnya muridNya, bukan agama Kristen.
Namun yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Kekristenan telah kehilangan esensinya. Kita terlalu sibuk untuk tersulut emosi dan terjadi perpecahan. Atau terlalu sibuk membangun gedung gereja dan segala atributnya. Gedung gereja baru muncul sejak Kristen diakui sebagai agama negara oleh kaisar Konstantin. Dan sebenarnya sejak itulah pergerakan mulai melambat dan mati.
Amanat agungNya dimulai dengan kata pergi, yang merupakan lawan dari berdiam (dalam gedung gereja). Dan kemudian mengajarkan apa yang Yesus ajarkan. Itulah pemuridan. Apa saja yang Yesus ajarkan? Dalam bukunya “Jesus I Never Knew”, Phillip Yancey menjelaskan bahwa pribadi Yesus sangat berbeda dari yang kita ketahui. Ia selalu menjauhi popularitas, tapi Ia selalu tertarik terhadap orang yang kesusahan. Intinya adalah kasih. Ia selalu menekankan pada kasih dan penyangkalan diri.
1 Petrus 4:7-8 adalah nasihat yang sangat penting karena berhubungan dengan kesudahan kisah manusia. Dan dua kata yang diungkapkan adalah untuk menguasai diri dan terutama mengasihi seorang akan yang lain. Kata itu berarti terdapat proses saling. Kasih tidak pernah berfokus pada diri sendiri.
Kemudian pertanyaannya menjadi bagaimana saya dapat mengasihi? Masalahnya, aku percaya tidak ada pakem atau pedoman dalam mengasihi. Karena dalam kasih selalu terdapat kreatifitas. Allah kreatif (dia pencipta / creator) karena kasihNya. Bahkan Ia sendiri memberikan setidaknya 5 gerbang untuk merasakan kasih (lewat kata2, waktu kebersamaan, pemberian, pelayanan dan sentuhan: dibahas dalam buku “Lima Bahasa Kasih” oleh Gary Chapman).
Ada orang yang memiliki orientasi (fokus) kepada tugas. Ada yang berfokus pada hubungan dengan orang lain. Namun, apapun itu (sebagai tugas ataupun karena kita suka membangun hubungan), kita mampu untuk mengasihi. Karena untuk mengasihi memang adalah perintah Allah, dan juga mengasihi seharusnya adalah kesukaan kita dan merupakan gaya hidup kita.
Aku yakin kuncinya terletak pada kata-kata ‘hidup bersama’. Tanpa adanya orang lain, kita mustahil mengenal kasih. Bahkan seluruh orang yang terlibat dalam kehidupan kita sebenarnya adalah medan latihan untuk mengasihi. Artinya kita harus hidup dalam komunitas. Secara hakiki, komunitas berarti adalah rumah, tempat kita nyaman. Bukan berarti tidak ada masalah, namun apapun yang terjadi itu akan selalu membuat kita bertumbuh. Mungkin komunitas kita berisi orang-orang yang berkekurangan secara materi, atau mungkin adalah orang-orang yang labil secara mental, mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan orang lain. Justru itulah medan yang Yesus sukai. Ia berkata dalam Matius 9:12-13 bahwa ia datang untuk orang berdosa.
Seorang bayi yang lahir selalu berada dalam perhatian orang tuanya. Tanpa orang tua, mustahil bayi tersebut hidup. Begitu juga kita. Saat kita pertama kali lahir baru, kita harus memiliki orang yang dapat menuntun kita untuk bertumbuh serta lingkungan yang memungkinkan itu untuk terjadi. Dan jika kita sudah menjadi dewasa, itulah saatnya kita menuntun orang lain untuk bertumbuh. Itulah pemuridan. Sebenarnya sederhana, tetapi butuh proses untuk dilakukan.
(Gambar dari wordpress.com)







