Menerima keselamatan bukanlah hal yang sulit. Hanya butuh sebuah langkah untuk percaya bahwa Yesus adalah Tuhan. Namun pertanyaannya lebih dari pada sekedar itu. Sebuah kepercayaan haruslah berada dalam satu paket dengan pertobatan. Kepercayaan bahwa kita sudah diselamatkan berarti kita juga percaya bahwa dosa tidak berkuasa lagi atas hidup kita. Di sisi lain banyak orang yang melakukan promosi yang tidak berimbang tentang mengikut Yesus. Banyak yang berkata bahwa mengikut Yesus itu enak, karena akan diberkati, disembuhkan dari sakit penyakit, jadi kaya, dan lainnya. Padahal di Matius 16:24 dengan jelas Yesus berkata,
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Dalam terjemahan lain, menyangkal diri dikatakan sebagai tindakan untuk meninggalkan kebiasaan kita untuk mementingkan diri sendiri. Sedangkan mengenai memikul salib, Yesus mengatakan bahwa salib yang dipikul bukanlah salib Yesus (dipaku di atas kayu salib), tetapi masing-masing kita punya salib yang harus kita pikul, yaitu setiap kekurangan-kekurangan dan dosa kita. Menolak mengikuti ajakan dosa dalam diri kita berarti sebenarnya kita sedang memikul salib kita. Baru setelah kita mampu melakukan kedua hal itu, kita bisa mengikut Dia.
Jadi sekarang benarkah mengikut Yesus itu mudah dan enak? Jawabannya adalah tergantung dari cara pandang kita. Selama yang menjadi fokus utama dalam hidup kita adalah untuk kepentingan diri kita sendiri, maka jawabannya tentu tidak. Phillip Yancey dalam bukunya “Jesus I Never Knew”, berpendapat bahwa tidak ada satupun orang yang mampu untuk memenuhi standar illahi yang terdapat pada Matius 5-7, yaitu kotbah di bukit.
Namun jika kita tanyakan kepada Daud, Obed Edom atau Asaf, mereka akan menjawab tidak. Mengapa? Karena mereka menyukai berada dalam hadirat Tuhan. Artinya fokus mereka adalah Tuhan. Bahkan asaf berkata dalam Mazmur 73 bahwa hanya Tuhan saja miliknya. Asaf bukanlah seorang yang kaya, dia hanya pemain ceracap (sejenis gong) yang bukan merupakan alat musik favorit di Israel. Itulah mengapa Yesus berkata bahwa hal kerajaan surga seumpama mutiara yang terpendam. Daud, Obed Edom dan Asaf menganggap Tuhan lebih berharga dari apapun. Mereka rela menjual apapun untuk mendapatkannya dan tidak akan ditukar dengan apapun.
Pertobatan berarti perubahan paradigma atau pola pikir kita. Dalam kehidupan kita selalu terjadi peperangan dalam sisi jiwa kita yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak. Dalam peristiwa kerasukan setan di Gerasa (Luk 8), yang dirasuki adalah jiwanya (soul). Saat jiwa kita tidak kuat, iblis dapat mencuri firman dan membelenggu kehidupan kita, karena kerasukan setan tidak sekedar berbicara peristiwa yang supranatural, tetapi fokus iblis terletak pada bagaimana supaya ia dapat menawan pola pikir kita supaya tetap salah. Jadi, setan dari babi-babi yang mati itu pindah ke mana? Tentunya ke para penduduk, karena mereka mengusir Yesus. Orang yang bertemu dengan Yesus biasanya selalu ingin dekat denganNya, tetapi penduduk di Gerasa tidak.
Jadi intinya terletak pada apa yang kita kasihi. Jika kita mengasihi, kita akan menjadi kreatif dan pantang menyerah. Jika kita mengasihi Tuhan, kita akan mencari segala cara agar kita dapat mengekspresikan kasih kita, berupa mentaati perintahNya. Perubahan pola pikir adalah kunci kemampuan kita untuk mengikut Yesus. Dan pola pikir dapat berubah melalui latihan, yaitu kebiasaan hidup benar tiap hari. Itulah mengapa kehidupan kita harus dipenuhi oleh firman.
(Gambar dari followinghim.com)






