Aku tidak tahu apakah anda pernah mengalami apa yang sering kualami ini. Namun, bagiku hal ini cukup mengganggu, terutama mengganggu saat teduhku. Kita tahu bahwa untuk datang kepada Tuhan, kita sebaiknya datang dengan kerinduan, bukan karena kewajiban, keharusan atau paksaan. Masalahnya adalah, di dalam diriku, justru seringkali susah sekali menemukan kerinduan itu. Arti dari kerinduan ini adalah kerinduan yang benar-benar tinggi. Sama seperti yang pemazmur katakan “Seperti rusa merindukan air, demikianlah jiwaku merindukan Engkau”.
Untuk waktu-waktu tertentu, mungkin iya. Tapi tidak selalu, dan pastinya, jika waktu saat teduhku teratur, justru kerinduan seperti itu semakin jarang kutemui. Dan terus terang, ini jadi kendala yang sangat besar buat aku, terutama kehidupan kerohanianku. Karena, setiap kali aku datang ke hadirat Tuhan tanpa memiliki kerinduan yang menggebu-gebu seperti itu, aku merasa bersalah. Dan parahnya, akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan saat teduhku lebih cepat atau tidak jadi melakukannya.
Dan hal ini berlangsung untuk waktu yang cukup lama, bertahun-tahun. Sampai suatu titik, aku berpikir ulang, apa yang salah, siapa yang salah, ada apa ini? Untuk waktu beberapa lama juga, sekitar beberapa bulan aku tidak menemukan jawabannya. Namun, karena hal ini telah diangkat menjadi sebuah blog, tentu saja jawabannya sudah tersedia.
Dan hal ini berlangsung untuk waktu yang cukup lama, bertahun-tahun. Sampai suatu titik, aku berpikir ulang, apa yang salah, siapa yang salah, ada apa ini? Untuk waktu beberapa lama juga, sekitar beberapa bulan aku tidak menemukan jawabannya. Namun, karena hal ini telah diangkat menjadi sebuah blog, tentu saja jawabannya sudah tersedia.
Hal ini terjadi karena salah kaprah dan sifat perfeksionisku, mungkin. Memang orang tipe sepertiku yang memiliki sisi melankolis, cenderung untuk menyalahkan diri sendiri jika ada situasi yang tidak ideal (atau setidaknya dirasa tidak ideal). Sehingga waktu itu terjadi, aku merasa bersalah dan kehilangan konsentrasi serta niat untuk itu. Ya, orang melankolis memang cukup mudah menyerah dan cenderung menghindar jika ada masalah menanti. Aku merasa, kalau seseorang tidak datang ke hadirat Tuhan dengan hati menggebu-gebu, dan cuma datang karena merasa harus datang, atau merasa wajib datang, hal itu adalah hal yang salah.Padahal, jika kita melihat kehidupan sehari-hari kita, saat kita hidup bersama (serumah), satu atap dengan orang lain (ayah, ibu, saudara, istri, anak), dan kita bertemu dengan mereka setiap hari, tentu bukan perasaan rindu yang menggebu-gebu yang ada di hati kita. Tapi, kita tetap mengasihi mereka, bukan? Sama! Saat kita selalu bertemu dengan Tuhan, mungkin bukan perasaan rindu yang menggebu-gebu yang kita rasakan, tapi kita tetap mengasihi Dia, bukan?
Demikianlah aku sampai kepada kesimpulan bahwa perasaan wajib bertemu sama seperti kewajiban seorang anak menghormati orang tuanya, dan kewajiban seorang suami untuk berbincang-bincang dengan istrinya. Selain itu, bukankah datangnya perasaan kewajiban itu berasal dari dalam diri sendiri? Kecuali jika kita datang ke hadirat Tuhan karena dipaksa atau diwajibkan pemimpin rohani kita. Tentu hal ini kurang baik. Tapi jika dorongan kewajiban itu datang dari dalam diri kita, itulah yang dinamakan hati nurani, media paling umum untuk Roh Kudus/Allah berbicara kepada kita. Dan, akhirnya aku mengambil kesimpulan, bahwa dorongan hati nuraniku untuk bertemu dengan Tuhan bukanlah sebuah kewajiban biasa, tapi adalah kerinduan dalam bentuk yang berbeda. Kerinduan yang mengakar! Sama seperti waktu kita sudah memiliki kebiasaan, akan merasa aneh kalau tidak melakukannya, bukan?
(Gambar dari ezekielpublishing.com)






