“If you then, though you are evil, know how to give good gifts to your children, how much more will your Father in heaven give the Holy Spirit to those who ask for him.” — Luke 11:13
Sejak adanya message dari salah seorang anak bimbingku di kampus, aku jadi lebih mengerti sedikit tentang hati Tuhan. Tidak sempurna memang, tapi sedikit mengerti. Singkat cerita, orang ini mau pinjam uang kepadaku, dan menceritakan masalahnya. Merasa sedikit aneh dengan ceritanya, aku kroscek ke temannya dan mereka pun ternyata pernah dimintai juga. Akhirnya aku putuskan untuk bertemu saja dengannya.
Saat bertemu, dan bercerita panjang lebar, aku jadi tambah bingung dengan ceritanya. Sampai akhirnya waktunya untuk berpisah, dan akupun mengeluarkan dompetku. Tiba-tiba aku melihat dan merasakan bagaimana caranya melihat dompetku. Dari sana aku sadar bahwa ada yang tidak benar. Singkat cerita aku tetap memberikan sejumlah uang, meskipun tidak sejumlah yang dimintanya.
Dan selang 2 minggu setelah itu, aku jadi menyadari beberapa hal. Pertama tentang nada messagenya, aku sadar itu bukan orang yang selama ini aku tahu, tapi ini yang berbicara denganku adalah temannya. Aku jadi sadar semuanya. Tapi bukan itu yang ingin aku bagikan.
Hal yang membuat aku tetap mau memberikan sejumlah uang adalah karena aku cukup bingung, dan untuk mengetahui yang sebenarnya bisa dilihat dari reaksinya setelah menerima uang tersebut. Dan itu cukup terbukti, bahwa 2 minggu ini tidak ada kabar apa-apa darinya, dan kabar pertamanya berupa SMS untuk meminjam sejumlah uang lagi. Toh di sana aku tidak merasa kecewa ataupun merasa uangku hilang. Karena dari awalpun aku sudah bertekad, benar ataupun tidak benar aku tetap akan memberinya sejumlah uang, karena dia anakku.
Di sini aku jadi mengerti bagaimana hati Tuhan terhadap anak-anakNya. Anak-anak yang selama ini selalu membohongi Dia, dan selalu datang hanya saat meminta berkat. Anak-anak yang selalu membohongiNya dengan berkata bahwa mereka mencintaiNya tapi tanpa bukti nyata. Dia tahu bahwa mereka membohongiNya, karena Dia Maha Tahu, tapi Dia tetap memutuskan untuk memberikan berkatNya.
Dia Allah yang seperti itu. Dan Dialah Allah yang mengasihiku dan mengasihimu. Dia adalah Allah yang selalu ada untukku dan untukmu. Sejak dari awal, Dia telah berkorban dengan menderita siksaan yang tidak pernah bisa kita bayangkan dan mati untuk kita, tanpa kita minta, bahkan pada saat kita masih berdosa.
“Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. ” — Rom 5:6
Dia sadar Dia mati untuk siapa. Tapi Dia tetap melakukannya. Dalam setiap penderitaan yang ditanggungNya, satu demi satu, ada wajah masing-masing dari kita. Itulah hati Tuhan. Hati yang begitu rindu untuk memiliki hubungan kembali dengan kita. Dia telah memulainya. Apakah kita masih ingin merusaknya?






