Bagaimana beban dapat mempengaruhi kehidupan anda untuk dapat terbang tinggi? Apakah anda sudah pernah melihat film Everest? Ya, film yang tayang pada tahun 2015 lalu berkisah tentang perjalanan menaklukan puncak Gunung Everest yang berubah dan berujung menjadi malapetaka.
Berkisah tentang sekelompok wisatawan ekstrim yang dipandu oleh tim profesional bernama Adventure Consultants dari Selandia Baru hendak menaklukkan gunung yang sebenarnya tidak ramah untuk kehidupan manusia. Singkat cerita, malapetaka terjadi dan beberapa orang terjebak. Beberapa langsung meninggal saat itu juga, tetapi ada beberapa yang bertahan hidup.
Ada seseorang yang berhasil bertahan hidup dan berjalan sendirian menuruni puncak sampai menuju ke lokasi perkemahan tertinggi yang tidak bisa dicapai oleh helikopter karena udaranya terlalu tipis. Namun, tim penyelamat bertekad untuk membawa salah seorang korban yang selamat secepatnya ke rumah sakit untuk dirawat.
Dari sinilah saya mendapatkan sebuah pelajaran. Pada percobaan pertama, helikopter diisi oleh dua orang pilot dan peralatan medis lengkap. Hasilnya, helikopter tidak dapat naik sampai ketinggian perkemahan tempat korban tersebut berada. Namun, pilot tersebut tidak putus asa. Mereka kembali ke bawah dan kemudian menurunkan sebagian besar peralatan dan juga co-pilot tidak ikut naik kembali.
Akhirnya dengan banyaknya beban yang ditanggalkan, singkat cerita helikopter dapat mencapai ketinggian yang dimaksud dan akhirnya berhasil membawa korban untuk turun.
Ternyata sebuah level ketinggian yang ingin diraih oleh seseorang dalam hidupnya kadang tidak tercapai karena terlalu banyak beban yang ia bawa. Apakah beban tersebut? Yesus jelas menyatakan bahwa beban hidup kita adalah kesombongan dan ego kita. Matius 11:28-29 berkata bahwa supaya beban berat dapat dilepaskan dan kita mendapatkan kelegaan, maka kita harus datang dan belajar kepada Dia tentang kerendahan hati.
Maka tidak salah jika disimpulkan bahwa untuk dapat terus naik tingkat dalam kehidupan, kita harus terus belajar untuk merendahkan hati di hadapanNya dan membiarkan Dia berkarya semauNya dalam hidup kita. Bahkan, seringkali yang menghambat kita untuk bertumbuh adalah rasa ‘harga diri’ kita, dimana rasa ini jika tidak ditanggapi dengan dewasa akan membuat kita malas berubah. Padahal rumus pertumbuhan adalah, kita harus mau berubah. Pertumbuhan selalu diawali oleh perubahan.
Ibrani 12:1 (TB) Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
Hal kedua yang menghambat kita untuk bertumbuh ternyata adalah dosa. Dalam versi yang lain disebutkan bahwa dosa melilit kaki dan membuat jalan kita tersandung. Ketaatan pada Tuhan memang akan sulit dilakukan jika tubuh kita masih terlalu nyaman dan kuat.
Ulangan 28:13 (TB) “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia,”








