Publik Indonesia saat ini sedang kenyang disuguhi berita tentang radikalisme. Seiring dengan maraknya berita hoax, isu-isu radikal atas nama agama juga sedang menyeruak masuk dalam porsi media kita. Tidak hanya di Indonesia, sekarang hal ini juga sebenarnya merebak di berbagai belahan dunia, dengan salah satu yang paling parah adalah ISIS.
Apakah yang dapat kita bayangkan dari para pelakunya? Tentu mereka adalah orang yang merasa benar dan apa yang dilakukannya adalah benar atas nama kepercayaan masing-masing. Lucunya, kebenaran ini biasanya hanyalah kebenaran sebagian atau kebenaran relatif saja. Mengapa? Karena tidak semua orang mempercayainya, bahkan orang-orang yang seagama dengan mereka.
Artinya, ada perbedaan di tingkat tafsir yang terjadi. Kebenaran yang sejati adalah kebenaran yang akan dipahami secara sama oleh semua orang di muka bumi. Contoh, “Perbuatlah kepada orang lain seperti apa yang kamu ingin orang lain perbuat kepadamu”. Ciri lain dari kebenaran yang sejati adalah tak akan lekang diuji zaman. Contoh, “Kesuksesan diraih dengan usaha yang benar”. Ada orang seperti meraih sukses lewat cara licik seperti korupsi atau berjudi, tetapi biasanya tidak bertahan lama.
Keradikalan harus dipahami dalam taraf kebenaran. Mengapa? Karena keradikalan berarti meyakini kebenaran. Dari akar katanya (‘radix‘) yang berarti mengakar, ia berarti mengakar terhadap sebuah kebenaran. Kita tidak bisa menyalahkan sebuah tindakan radikal dan kita tidak mungkin mengubahnya. Malah sebenarnya keradikalan adalah hal yang baik.
Tetapi mengapa justru sekarang kata ini bagai virus flu yang membuat banyak orang resah? Bukan sikap yang salah, tetapi kebenarannya yang perlu diperhatikan. Itulah yang dilakukan Presiden Jokowi saat mengajak makan siang Ketua NU, Bapak Said Aqil Siradj. Memerangi keradikalan adalah tindakan bodoh. Yang perlu diperangi adalah kebenarannya.
Tetapi bagaimana memerangi kebenaran yang sudah dianggap hakiki oleh pengikut / pemeluknya? Tentu kebenaran agama bukan sesuatu yang harus diperangi. Tetapi kebenaran yang sifatnya tafsirlah yang harus diperangi. Bagaimana caranya?
Menguji Kebenaran, Menguji Keradikalan
Salah satu yang paling dapat dilakukan adalah dengan mempelajari dan membandingkan. Ada banyak ‘kebenaran’ di dunia ini. Kebenaran pribadi, kebenaran korporat (kelompok), kebenaran agama, kebenaran moral, dan sebagainya. Bahkan kebenaran dapat berbeda pada saat dilihat pada situasi atau konteks yang berbeda (kebenaran situasional).
Kebenaran yang sejati adalah kebenaran yang tahan uji. Sebelum benar-benar mengakui dan menganggap bahwa suatu kebenaran itu sah, uji dan bandingkan dengan kebenaran lain. Jika masih ada kebenaran lain yang menentang, maka kebenaran hanya kebenaran yang relatif saja. Jadi, ujilah kebenaran itu. Pertama, pertentangkanlah dengan diri kita sendiri, moral, logika. Kedua, pertentangkanlah dengan kebenaran yang dipercayai oleh orang lain.
Bukan berarti sebuah kebenaran harus selaras dengan semua yang dipercayai oleh semua orang di dunia. Tetapi kebenaran itu harus dapat tegak berdiri sekalipun sudah dibandingkan dengan kebenaran-kebenaran lain. Setiap manusia memiliki hal istimewa berupa hati nurani yang mampu menimbang segala sesuatunya. Gunakanlah hati nurani anda dalam menentukan kebenaran yang anda percayai.
Kebodohan yang mungkin seseorang lakukan adalah memperlakukan kebenarannya yang relatif sebagai kebenaran global. Kebenaran tidak perlu dipaksakan. Karena kebenaran selalu punya kekuatan sendiri untuk muncul dan diakui. Jika seseorang terlalu ngotot dan memaksakan sebuah kebenaran, akan timbul pertanyaan, “Benarkah itu sebuah kebenaran? Apakah layak disebut kebenaran?”. Saat kita memaksakan kebenaran, maka justru kita membuat kebenaran itu menjadi tidak dapat diterima oleh orang lain.
Yang terakhir yang paling saya sesali adalah mengenai radikalisme yang juga masuk ke kalangan mahasiswa. Seharusnya mahasiswa adalah pribadi yang terlatih menggunakan logika dalam menentukan segala sesuatunya. Seharusnya ciri khas mahasiswa adalah tidak mudah terhasut oleh banyak informasi atau kata-kata indah berlabelkan surga. Seharusnya ciri khas mahasiswa adalah meneliti dan memastikan bahwa setiap informasi yang ia terima adalah benar dan layak dipercaya.
Jangan mengaku radikal kalau kebenaran anda sebenarnya adalah kebenaran yang dangkal. Karena jika yang kita percayai itu adalah sesuatu yang dangkal apalagi salah, kita tidak layak disebut radikal tetapi fanatik sempit. Kalangan ini terbukti telah menghancurkan dunia. Hitler contohnya.

Kebenaran yang sejati akan diterima oleh semua orang tidak peduli suku, agama, ras, budayanya. Kebenaran yang sejati akan selaras dengan yang disebut sebagai kedamaian. Mengapa? Karena semua orang mempercayainya. Jika kebenaran kita tidak selaras dengan nilai tersebut, kebenaran itu tidak layak untuk kita junjung. Percayalah, anda sedang diperalat oleh orang lain.
Jangan menjadi radikal dengan menyebar kebencian. Sejarah membuktikan bahwa kebenaran tidak dapat dipaksakan, bahkan dengan perang sekalipun. Dalam sebuah peperangan, kerugian ada di kedua belah pihak. Jadilah radikal dengan cara yang benar. Yaitu dengan toleransi, karena toleransi adalah pasangan dari kedamaian. Tidak ada kedamaian tanpa toleransi.
(Gambar dari berbagai sumber)






