Jika ditanya, “Apa sih integritas itu?” atau “Bagaimana membedakan antara orang yang berintegritas atau tidak?”, maka kita sering menjawab bahwa secara mudah, jika seseorang melakukan sesuatu yang berbeda dengan kata hatinya, maka ia tidak berintegritas. Hal itulah yang seringkali kita yakini bukan?
Mari kita bandingkan dengan definisi yang sangat komprehensif dari wikipedia,
Integrity is a concept of consistency of actions, values, methods, measures, principles, expectations, and outcomes. In ethics, integrity is regarded as the honesty and truthfulness or accuracy of one’s actions. Integrity can be regarded as the opposite of hypocrisy, in that it regards internal consistency as a virtue, and suggests that parties holding apparently conflicting values should account for the discrepancy or alter their beliefs. The word “integrity” stems from the Latin adjective integer (whole, complete). In this context, integrity is the inner sense of “wholeness” deriving from qualities such as honesty and consistency of character. As such, one may judge that others “have integrity” to the extent that they act according to the values, beliefs and principles they claim to hold.
Jika kita membandingkan jawaban kita dengan definisi dari wikipedia, kita tahu bahwa ternyata untuk menilai dan melakukan perbuatan integritas tidak semudah yang kita kira. Padahal jika kita dapat melakukannya, menurut buku ‘Keunggulan Integritas‘ oleh Adrian Gostick dan Dana Telford, integritas membuat kita mampu tetap bertahan di puncak. Artinya tanpa integritas, kesuksesan kita akan hancur. Hampir seluruh CEO perusahaan terbesar di dunia menaruh integritas sebagai nilai terpenting dari seorang karyawan yang mereka cari.
Namun, ternyata melakukan integritas tidak semudah definisi yang kita sebutkan itu. Contohnya, jika dalam hati seseorang memiliki keinginan untuk mencuri dan kemudian dia melakukan perbuatan mencuri, maka menurut definisi kita, hal tersebut adalah perbuatan integritas. Padahal menurut hati nurani kita hal tersebut tentulah bukan integritas. Tapi, jika kita mencoba untuk mengikuti definisi integritas dari wikipedia, maka batasannya akan lebih jelas. Dua hal yang ingin ditekankan adalah prinsip konsistensi dan wholeness.
Artinya kalau kita melakukan sesuatu, tetapi tidak konsisten, meskipun itu sesuai dengan apa yang ada di hati kita, maka itu tidak berintegritas. Contoh dari perbuatan mencuri. Mengapa itu dikatakan tidak berintegritas? Karena kita tidak mungkin mencuri dari, misalnya dari orang yang kita sayangi. Jika berbicara tentang wholeness atau keutuhan (kebulatan), maka apa yang kita lakukan tidak boleh menimbulkan pertentangan dari hati nurani kita.
Dengan adanya definisi baru ini, maka kita akan lebih jelas tentang arti integritas. Namun, ada hal lain yang ingin saya sampaikan. Yaitu suara yang ada di dalam (pikiran/hati) kita seringkali bukanlah satu suara. Contohnya dalam hal mencuri. Meskipun mungkin itu adalah memang keinginan kita, tetapi seharusnya muncul suara lain yang biasanya lebih lambat dan lebih kecil dari suara yang menginginkan kita untuk mencuri.
Suara yang kita sebut sebagai hati nurani itu, akan makin kecil jika kita melatih diri kita untuk tidak mentaatinya. Itulah yang menyebabkan definisi integritas di awal menjadi tidak sesuai. Namun, jika kita melatih diri kita untuk terus mentaatinya, maka sebenarnya definisi tersebut masih relevan. Jadi persoalannya adalah masalah bagaimana kita melatih diri kita.
Dalam posting saya sebelumnya, dijelaskan bahwa manusia berpikir sebelum ia berpikir. Artinya, sebelum pikiran alam sadar kita berpikir, seringkali kita sudah memiliki refleks terhadap suatu masalah. Padahal, seringkali pikiran alam sadar inilah yang memuat nilai-nilai yang benar. Pikiran yang lebih lambat ini seringkali membuat kita menyesali suatu peristiwa. Oleh karena itu, hanya ada satu cara untuk membuat kita berintegritas, sehingga membuat kita makin jarang untuk menyesali perbuatan kita. Yaitu melatih diri kita untuk mentaati pikiran yang dimuati oleh nilai-nilai yang benar.
Pelatihan akan membuat suatu nilai memasuki alam bawah sadar kita, sehingga secara refleks itulah yang kita lakukan. Sebenarnya itulah inti dari suatu beladiri. Refleks! Artinya, jika kita bisa memiliki refleks (reaksi) yang benar terhadap suatu hal, maka kita akan menjadi mahir untuk melakukan hal yang benar. Maka untuk mengejar integritas, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah terus melatih dan melatih hal itu.






Catatan Tentang Kesuksesan – The Leipzic Way
[…] 2 hal faktor pencipta kesuksesan. Pertama adalah integritas. Saya sudah beberapa kali membahasnya dalam blog saya. Kedua yang tidak kalah penting adalah konsistensi, yang juga sudah pernah saya bahas sebelumnya. […]
Pelajaran Dari Lingkaran
[…] banyak yang tahu bahwa elips melambangkan integritas. Tuhan adalah pribadi yang berintegritas. Konsep integritas sendiri berarti adalah keutuhan. Tuhan tidak pernah berubah, dari dulu, sekarang, sampai […]