Sudut pandang seringkali menjadi faktor yang membuat seseorang salah memandang kehidupan. Kesalahan ini akan mengakibatkan salahnya pengambilan reaksi. Masalah sudut pandang ini sering dibahas dan banyak orang mulai sadar akan pentingnya pengambilan sudut pandang yang tepat. Namun ada hal lain, yang mungkin masih menjadi bagian dari topik sudut pandang kehidupan, yang mungkin jarang dibahas atau disadari.
Jika sudut pandang kehidupan berbicara tentang dari arah mana kita memandang, maka jarak pandang kehidupan berbicara tentang dari jarak mana kita memandang. Sudut pandang seseorang akan menentukan bagaimana orang tersebut mengartikan sesuatu, sedangkan jarak pandang juga memiliki pengaruh yang cukup signifikan. Misalnya dalam melihat gajah. Jika memandang dari depan, maka seorang anak kecil akan berkata bahwa gajah adalah binatang yang memiliki telinga yang lebar dan hidung yang panjang. Namun jika dari belakang, maka ia akan berkata bahwa (maaf) ‘bokong’nya yang besar.
Di sisi lain, jarak pandang akan menentukan misalnya seberapa efeknya bagi kehidupan kita. Misalnya, seseorang yang melihat singa dari jarak 1 kilometer mungkin tidak berpikir untuk melarikan diri, begitu juga waktu melihat bulan dari rumah kita tentunya akan terasa kecil. Di sinilah jarak pandang menjadi berpengaruh bagi kehidupan kita, setidaknya dalam dua hal.
Pertama, dalam memandang diri sendiri. Saat seseorang menggunakan jarak pandang yang dekat, maka ia akan melihat masalah atau proses yang menimpa dirinya adalah sesuatu yang besar. Itulah mengapa seseorang butuh untuk ‘mengundurkan diri’ (bahasa Inggris: take a retreat) dan memandang dari jarak yang lebih jauh. Itulah juga mengapa seseorang sering membutuhkan konselor atau teman untuk berbagi cerita yang dapat memberinya nasehat dalam mengatasi masalah tersebut. Pernahkah kita merenung, bahwa kita semua lebih mahir dalam memberi nasihat daripada melakukan (mungkin nasihat yang sama) waktu mengalami masalah yang sama?
Ternyata alasannya terletak pada waktu kita mengambil jarak pandang yang terlalu dekat, itu membuat masalah kita terlihat sangat besar. Namun waktu kita melihat masalah orang lain, tentu kita sedang berada pada jarak pandang yang lebih jauh. Hal ini membuat kita bisa berpikir lebih jernih dan melihat hal-hal lain di balik masalah tersebut. Jika masih belum mengerti, ambillah sebuah kertas dan dekatkan pada jarak 5 sentimeter dari mata kita. Apa yang kita lihat? Bandingkan dengan waktu kita menaruh kertas yang sama pada jarak 2 meter dari mata kita. Tentu sekarang kita mengerti.
Kedua, dalam memandang orang lain. Kebalikan dari peristiwa pertama, kita sering menggunakan jarak pandang yang terlalu jauh saat memandang orang lain. Tentunya tidak semua orang demikian, namun saya yakin ada jenis-jenis orang yang demikian, misalnya diri saya sendiri. Jarak pandang yang terlalu jauh membuat kita kurang mampu berempati dengan orang lain. Contohnya sebagai berikut.
Waktu kita mendengar sebuah isu bahwa si A melakukan sebuah kejahatan, secara otomatis dalam benak kita akan terjadi asumsi yang bersifat menghakimi orang tersebut. Mari coba telusuri. Kita bertanya kepada sang sumber informasi. Ternyata ia berkata bahwa ia juga mendengar informasi tersebut dari orang lain. Dalam proses persebaran ini, secara otomatis akan terjadi distorsi (melencengnya gambaran yang diterima) dalam pola pikir masing-masing orang. Dalam sebuah proses komunikasi, tidak peduli seberapa baiknya itu, pasti terjadi distorsi ini. Misalnya waktu kita melihat gajah. Jika kita memberikan gambaran bahwa gajah adalah hewan berkaki empat, maka orang lain bisa menangkap gambaran yang berbeda, misalnya mereka membayangkan kucing, anjing, atau hewan berkaki empat yang lain.
Distorsi ini akan melahirkan asumsi yang salah yang membuat kita secara tidak sadar menghakimi sang obyek. Itulah salah satu hambatan yang terjadi dalam membangun hubungan, terutama misalnya dalam proses pemuridan yang merupakan Amanat Agung (Matius 28:19-20).
Cara pandang yang benar meliputi pengambilan sudut pandang dan jarak pandang yang benar terhadap suatu hal. Dan seringkali untuk melakukannya dibutuhkan proses latihan yang tidak sebentar. Namun kita harus mahir dalam hal ini atau tidak akan menjadi hambatan bagi pertumbuhan kita. Selamat berproses!
(Gambar dari berbagai sumber)









