Kita tahu bahwa Allah adalah pribadi yang begitu mengasihi kita. Jika kita melihat dan merenungkan seluruh alam semesta, kita akan tahu bahwa semuanya diciptakan begitu teratur sebagai support system bagi kehidupan kita. Letak bumi yang tidak terlalu jauh ataupun tidak terlalu dekat dengan matahari memungkinkan adanya kehidupan. Jika kita melihat urutan penciptaan yang ada di alkitab, kita akan tahu bahwa manusia diciptakan terakhir supaya ia dapat hidup dan menguasai. Kita adalah pribadi yang spesial di mataNya, meskipun bagi Dia kita sangatlah kecil dibandingkan planet-planet atau galaksi-galaksi yang Dia ciptakan.
Yohanes 3:16 berkata bahwa kasihNya tidak berhenti sampai dengan keberadaan kita. Tetapi Ia sendiri rela mati bagi kita. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada seseorang yang memberikan nyawaNya (Yohanes 15:13). Dia tidak hanya menciptakan kita, Dia juga terlibat dalam setiap kehidupan kita. Dalam Perjanjian Baru, ada beberapa kata yang memiliki arti kehidupan, tetapi Allah menginginkan agar kita memiliki kehidupan yang kekal. Kata yang digunakan adalah zoe (akar katanya zao), yang berarti:
to live, breathe, be among the living (not lifeless, not dead); to enjoy real life; to have true life and worthy of the name; active, blessed, endless in the kingdom of God; to live i.e. pass life, in the manner of the living and acting; of mortals or character; living water, having vital power in itself and exerting the same upon the soul; metaph. to be in full vigour; to be fresh, strong, efficient; as adj. active, powerful, efficacious
Kehidupan yang kekal tidak hanya berbicara tentang kehidupan setelah kematian, tetapi berarti hidup dengan penuh kemaksimalan, hidup yang dapat dinikmati, hidup yang sejati, diberkati, aktif dan dinamis, kuat, seperti baru, berhasil, bermakna dan berkualitas. Kondisi seperti inilah yang sebenarnya kita cari dan idam-idamkan, bukan? Allah sudah menyediakannya bagi kita di dalam Dia. Ia telah menaruh setiap perintah-perintahNya bukan untuk membatasi kebebasan kita, karena Ia telah memberikan kehendak bebas kepada kita. Tetapi perintah-perintah tersebut Ia berikan agar kita memiliki hidup yang berkualitas.
Di Ulangan 28, Allah memberikan pilihan kepada bangsa Israel. Berkat akan turun waktu mereka merenungkan FirmanNya dan melakukannya. Yang membedakan adalah apakah kita melakukan perintah-perintahNya atau tidak. Namun kesalahan bangsa Israel adalah, mereka selalu ingin untuk menentukan nasibnya sendiri dan meninggalkan Allah (Yeremia 2:13). Itu yang membuat mereka ditimpa kemalangan. Masalahnya bukan Tuhan yang menghukum, tetapi segala hal yang ada di dalam alam semesta ini telah diciptakan dengan mengikuti hukumNya. Jika kita tidak hidup selaras dengan hukum tersebut, maka sistem alamlah yang menghukum, bukan Allah.
Untuk dapat melakukan perintah-perintahNya, kita harus mengerti apa saja perintah-perintahNya. Segala kehendak Allah telah Ia tuangkan dalam Alkitab. Namun kita sering susah untuk menyelidiki dan merenungkan. Padahal tanpa hal itu, kita akan susah untuk melakukan perintahNya. Berikut adalah beberapa alasan yang sering muncul waktu seseorang ditanya mengapa susah untuk membaca Alkitab:
- Boring. Jika kita hanya membacanya, maka kita akan bosan. Tetapi Alkitab berkata bahwa manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari setiap perkataan yang keluar dari mulut Allah. Oleh karena itu, kita harus memandang Alkitab sebagai sumber kehidupan kita. Allah (Bapa) adalah sumber. Yohanes 1:1 berkata bahwa Firman itu adalah Allah. Tanpa kita merenungkan Firman, kita tidak akan melekat pada sumber kehidupan kita. Itulah yang membuat kehidupan kita terasa kering.
- Tidak ada waktu.
- Tidak mengerti. Jika kita punya hati untuk mengenal, kita akan mengerti. Daud berkata, “Seperti rusa merindukan air, demikianlah jiwaku haus”. Jika kita mencari, Firman tersebut yang akan menjadi terang (2 Korintus 4:6), dan Tuhan akan membukakan rahasiaNya (Yakobus 1:5-8). Jika tidak mengerti, kita harus berdoa dan meminta pengertian (Mazmur 119:17-19).
Tuhan menginginkan kita untuk memiliki kehidupan yang supranatural. Dan kehidupan seperti itu hanya didapatkan jika kita hidup di dalam Roh (Roma 8). Hidup di dalam Roh berarti kita taat pada tuntunan Roh Kudus. Dengan itu kita akan mendapatkan kehidupan yang kekal (zoe), yaitu kemaksimalan hidup bahkan pada waktu kita masih hidup.
(Inspired by Trevor’s speech in Petra iCamp 2012)








Berkelimpahan Dalam Kesederhanaan « The Leipzic Way
[…] Dalam bahasa aslinya (makarios), bahagia di sini adalah kondisi dimana kita sangat diberkati, hidup kita berkualitas, sebuah kondisi yang sangat dinantikan oleh seluruh manusia. Sembilan kondisi yang ada tersebut […]