(Guest post by Gheeto T.W. / arahbola.org)
Kadang muncul pertanyaan, “bolehkah melayani Tuhan dengan hobi kita?” Jawabannya adalah, Tuhan pemberi anugerah, termasuk hobi. Tidak ada satupun dari kita yang sampai doa syafaat minta hobi tertentu dari Tuhan. Kesukaan kita pada sesuatu muncul begitu saja tanpa diminta.
Ketertarikan kita pada minat tertentu adalah karunia yang tak diminta. Lalu bagaimana. Bolehkah melayani Tuhan dengan hobi kita? Tergantung pada cara pandang kita pada hobi. Karena hobi akan menjadi bencana ketika sentralnya adalah untuk pemuasan diri, aktualisasi diri. Katakanlah seorang yang hobi musik, ketika “melayani” di gereja ternyata menyimpan suatu kebanggaan diri di hati kecilnya,”permainan gue bagus, khan?” > Aktualisasi dan pemujaan diri. Pelayanankah itu?
Karena hobi adalah karunia, maka hobi itu ternyata diberi untuk dipersembahkan. Menekuni hobi adalah untuk menyatakan kekayaan hikmat-Nya, yang dilakukan melalui pencapaian terbaik kita dan bermanfaat bagi sesama. Maka, hobby becomes duty; hobi adalah sebuah mandat ilahi. Sebuah bagian dari persembahan hidup. Dengan kata lain, hobi kita adalah mencintai Nya, diekspresikan melalui apa yang kita suka, dan dilakukan dalam melatih dan memeras diri, sehingga berdampak bagi sesama.
Kira-kira “hobi”nya Kristus itu apa ya? Hmm kira-kira apa sih yang paling Ia cinta, yang paling menggairahkan Nya untuk bertindak? Dan karena demikian cintanya maka Ia merelakan diri untuk menderita demi yang Ia cinta? Ah, hobinya Kristus itu cinta, cintaaa melulu. Maka kecintaan kita pada hobi selayaknya telah mengalami penebusan.
Meneladan cinta Nya, demikianlah kita mencintai hobi; korban diri demi mengespresikan cinta-Nya melalui kerja cermat kita, bagi kepentingan sesama. Menyukai hobi mungkin mudah, tetapi menjadikan hobi sebagai mandat; sebuah persembahan hidup kepada Allah, itu pergumulan sepanjang hayat.






