Tanda dari seseorang yang tidak dewasa dapat dilihat dari fokus kehidupannya. Selama kehidupannya berfokus kepada diri sendiri, maka sebenarnya ia masih merupakan seorang anak-anak. Tentunya kita masih akan memahami saat dua orang anak bertengkar demi sebuah mainan. Dan ini berarti kita sedang ‘tidak memperhitungkan’ mereka, dalam hal pendapat dan teladan. Dalam Roma 8:6-8 (versi The Message) dikatakan, “…Obsession with self is a dead end. Focusing on self is ignoring God, and God isn’t pleased…” Ayat ini mendukung pernyataan di atas mengenai hubungan antara kedewasaan dengan breaktrough atau terobosan. Saat kita masih berfokus dengan diri kita, kita akan mengalami suatu jalan buntu. Namun, ayat tersebut juga berkata, “If God taken residence in yourself, you can’t thinking yourself above Him.” Artinya ada dua pengertian yang bertentangan, saat kita tidak dewasa, kita akan berfokus dengan diri kita sendiri, sedangkan saat kita dewasa, Tuhan akan tinggal dalam diri kita dan kita tidak dapat memikirkan diri kita sendiri. Jadi jangan berkata, “Allah ada di pihak kita” dan sebagainya selama kita masih berfokus dengan diri kita sendiri.
Yang menarik dari ayat di atas ialah pernyataan Rasul Paulus tentang akibat dari kehidupan yang dewasa. Ayat 14-15 (versi The Message) berkata bahwa kita akan memiliki kehidupan yang tidak membosankan (adventurous life). Dan bahkan kehidupan yang dewasa akan membuat mental kita berubah. Ayat 15 berkata, seseorang yang memiliki kedewasaan akan memiliki mental untuk bertanya, “Ya Abba, Ya Bapa!” (Versi The Message berkata, “What’s next, Father?”). Artinya kita akan selalu siap untuk setiap apa yang Tuhan inginkan dalam hidup kita. Mental seperti inilah yang sebenarnya membuat kita akan mengalami terobosan demi terobosan dalam hidup kita.
Kita harus ingat bahwa tidak peduli siapa kita, kita harus memiliki visi yang besar, karena kita memiliki Tuhan yang besar. Dan semakin besar suatu visi akan melibatkan (berdampak pada) semakin banyak orang. Itulah parameter suatu visi. Saat kita berfokus kepada diri kita sendiri, tentunya kita tidak akan punya kesempatan untuk memiliki visi dari Tuhan tersebut. Kita akan berjalan pada jalan yang buntu. Saat kita inginkan kata bahagia ada dalam hidup kita, maka kita harus berbalik arah dari jalan buntu tersebut dan kembali ke jalan yang benar, karena kesuksesan berarti kemampuan kita untuk menjawab dan menggenapi rencana Tuhan dalam kehidupan kita.
(Gambar dari asyoucantrust.com dan tarrani.net)
Pages: 1 2






