
Mungkin kita termasuk orang yang menjumpai bahwa di dalam hidup kita ada saat-saat tertentu dimana sepertinya ada tembok besar yang menghalangi hidup kita. Sepertinya sangat susah untuk melakukan terobosan dan berjalan melampaui tembok tersebut. Tembok tersebut terasa begitu besar, tebal dan kuat sehingga kehidupan kita seperti terhambat di suatu titik tanpa ada kejelasan. Apa yang harus kita lakukan? Siapa yang harus kita salahkan?
Dalam setiap artikel yang kubuat, aku sering mengungkapkan bagaimana proses membentuk seseorang. Dan sebenarnya proses itulah yang membuat seseorang akan mengalami promosi dalam kehidupannya. Namun ternyata promosi tersebut dapat tertunda saat kita tidak memiliki kedewasaan sikap dalam menjalani proses yang Tuhan sediakan. Tuhan adalah pihak yang sangat rindu agar kita terus bertumbuh dalam segala hal yang memberikan kita kebahagiaan yang sejati. Namun hal ini akan terjadi saat kita mengalami kemenangan terhadap proses-proses tertentu.
Kedewasaan memegang peranan yang sangat penting dan menentukan dalam kemenangan kita terhadap proses tersebut. Seorang anak kecil tentunya tidak akan diberi porsi yang besar dan tentu saja kepercayaan kepadanya juga kecil. Tidak mungkin orang tua memberikan kepercayaan berupa sebuah mobil kepada anaknya yang masih berumur empat tahun. Namun, saat kita menjadi dewasa, ada kepercayaan lebih yang diberikan kepada kita. Jadi kepercayaan berkembang selaras dengan berkembangnya kedewasaan kita.
Saat seseorang mendapatkan kepercayaan yang lebih besar daripada apa yang layak dia terima, akan terjadi ketidakseimbangan dan berujung kepada ketidakmampuan orang itu untuk bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan. Apa tanda dari seseorang yang tidak dewasa? Ternyata tandanya ialah orang tersebut masih mengejar sesuatu yang hanya menjadi keinginannya semata. Seorang anak kecil tentu hanya akan melakukan sesuatu yang dia senangi, misalnya bermain. Dan saat ia tidak dapat melakukan apa yang ia senangi, ia akan menangis.
Dalam 1 Korintus 13:11, Rasul Paulus berkata, “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” Artinya, suatu saat kita harus meninggalkan sifat dan masa kanak-kanak kita agar dapat dikatakan dewasa. Bahkan di ayat sebelumnya, kedewasaan dikaitkan dengan kesempurnaan. Dan kesempurnaan itu dijelaskan pada ayat 13 (versi The Message) sebagai iman (trust steadily with God), pengharapan yang tidak berubah (hope unswervingly), dan kasih yang luar biasa (love extravagantly). Kedewasaan memiliki karakter yang kokoh dan kekal yang menyempurnakan seseorang dalam kehidupannya.
Pages: 1 2





