Galau merupakan kata yang sangat tidak asing dalam kamus sehari-hari. Hampir tiap hari kita akan menemukan kata ini tiap kali kita membuka social media atau sedang berbincang dengan kawan-kawan. Sebegitu ngetrendnya, banyak di antara anak muda menganggap hal ini sebagai sesuatu yang diterima secara biasa seperti sesuatu yang lumrah terjadi. Benarkah?
Untuk menjawabnya, paling mudah kita perlu menanyakan ke dalam diri kita kembali, apakah pada waktu hal itu terjadi, hidup kita menjadi lebih produktif atau tidak? Saya yakin akal sehat kita akan menjawab tidak. Sekalipun ada tipe-tipe orang yang ‘menikmati’ momen kegalauannya, tetapi kita harus fair bahwa hal ini tidak sehat untuk hidup kita.
Bagaimana Mengatasi Galau?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Galau berarti “sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran)“. Jika boleh saya bahasakan kembali, artinya adalah adanya kondisi kacaunya pikiran karena terlalu banyak hal yang dipikirkan dalam waktu bersamaan. Sebenarnya saya terkejut, karena saya dahulu berpikir galau adalah sebuah kondisi yang berkaitan dengan perasaan. Tetapi ternyata sebabnya adalah pikiran kita.
Untuk mengatasi masalah, kita perlu tahu akarnya. Karena akar kegalauan ada pada pikiran, maka penanganan dan penyelesaiannya pun ada pada pikiran kita. Saya membayangkan kondisi kacaunya pikiran sama seperti ruwetnya sebuah benang. Seperti benang yang ruwet perlu diurai, demikian juga pikiran yang kacau. Bagaimana caranya?
Salah satu teknik yang dapat dilakukan adalah dengan berdialog dengan diri sendiri. Orang yang galau biasanya tidak memberi jawaban terhadap pertanyaannya, kemudian timbul pertanyaan atau prasangka lagi yang kemudian ditambah dengan prasangka baru, dan seterusnya. Karena itu, kita harus mampu menemukan apa saja yang ada dalam pikiran kita sekarang.
Mari ambil contoh: anggap saja kita habis diputus pacar. Apa yang membuat pikiran kita kacau? Misalnya kita merasa tidak bisa hidup tanpa dia. Pertanyaan pertama yang perlu kita tanyakan adalah “benarkah?” Coba bayangkan dan kita akan menemukan dunia masih ada, rumput-rumput masih hijau dan bergoyang terkena angin. Apa masalahnya? Perasaan kita yang kehilangan dan terluka saja sebenarnya.
Lalu apa yang dapat kita lakukan? Kita mungkin bisa menjajaki terhadap kemungkinan apa yang bisa diambil untuk kembali. Apa yang perlu kita ubah? Apakah hubungan yang dibangun selama ini adalah hubungan yang sehat? Mungkin kita terlalu sensitif, atau malah tidak peka terhadap kebutuhan pasangan kita.
Atau jika tidak ada kemungkinan untuk kembali, maka kita perlu memikirkan strategi untuk move on. Waktu pikiran kita dipakai untuk memikirkan strategi atau sebuah solusi dari masalah, maka kita akan cenderung lebih sulit untuk merasa galau. Sama seperti kondisi air, kegalauan sama seperti air yang beriak atau bergelombang. Sulit untuk berkaca atau melihat apa yang ada di bawah air tersebut. Maka kita harus membuat pikiran kita tenang, sama seperti air perlu kita buat tenang.
Lalu bagaimana jika kita tidak dapat menenangkan pikiran? Mari kita renungkan ayat di bawah ini.
Mazmur 94:19 (TB) Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku.
Wow, ternyata Tuhan memikirkan kecenderungan kita sebagai manusia untuk mengalami kegalauan atau kekacauan pikiran, sampai ada ayat khusus yang membahasnya! Lihatlah bagaimana Tuhan punya jawaban atas kegalauan kita. Ia mau menghibur kita! Datanglah pada Tuhan dan biarkan Dia menghibur kita.
Bagaimana Dia menghibur kita? Dia bisa mengirimkan orang lain untuk melakukan sesuatu. Tetapi Ia juga dapat berbicara langsung dengan kita lewat hati nurani. Ia akan bertindak memberikan kekuatan supaya kita mampu untuk menenangkan pikiran kita dan mencari solusi dari masalah kita.
Banyak orang berpikir bahwa hiburan dari masalahnya adalah dengan nonton film, melakukan hobi, shopping, lari kepada alkohol, rokok, narkotika atau lainnya. Tetapi dari ayat tersebut, kita tahu bahwa penghiburan yang sebenarnya adalah penghiburan yang dari pada Tuhan.
Hiburan yang kita dapatkan dari contoh-contoh tersebut hanya bersifat sementara. Masalah kita tidak selesai waktu kita melakukannya. Tetapi Tuhan menghibur sekaligus menyertai dan menolong kita untuk menyelesaikan masalah kita. Karena Ia ingin supaya kita menang dari masalah kita dan menang dalam kehidupan kita.
Hidup terlalu singkat jika dipakai untuk ‘menikmati’ kacaunya pikiran kita. Tidak ada apapun yang bagus yang terjadi dengan berpangku tangan menghadapi masalah kita. Apalagi lari dari kenyataan. Bangkitlah dan hadapi kenyataan masalah kita, karena masalah ada untuk kita taklukkan!
(Gambar dari berbagai sumber)
(Art beautifully made by Weana Rumimpunu)










Amin… izun copas ya.. 🙏
silakan Bu